Woori Finance Indonesia menduduki takhta tertinggidi perusahaan pembiayaan kelompok aset Rp1 triliun sampai dengan di bawah Rp5 triliun. Dari 38 perusahaan yang menghuni kelompok ini, 21 perusahaan di antaranya meraih predikat “sangat bagus”.
DIreksi Woori Finance Indonesia; lompatan besar
Mesin bisnis Woori Finance Indonesia (WFI) menderu kencang di 2023. WFI berhasil memperlihatkan performa kinerja mengesankan. Alhasil, dalam rating multifinance versi Infobank tahun ini, WFI sukses bertengger di puncak peringkat dengan predikat “sangat bagus”.
Pada rating yang sama tahun lalu, WFI hanya berada di posisi kedelapan. Artinya, lompatan besar telah dilakukan WFI, dengan naik tujuh peringkat. Perusahaan pembiayaan yang dipimpin Jasin Hermawan dan Hady Sutiono sebagai direktur ini berhasil mengungguli 37 perusahaan pembiayaan lain yang dirating dalam kelompok ini.
WFI meraih total skor 98,27%, menjadi perolehan skor kedua tertinggi di rating tahun ini. Skor ini juga naik dari rating tahun sebelumnya yang sebesar 94,56%. Berdasarkan data rating, perusahaan pembiayaan yang merupakan bagian dari Woori Financial Group in pertumbuhan, yakni pertumbuhan aset, pertumbuhan pembiayaan, pertumbuhan modal sendiri, dan pertumbuhan laba. Di keempat aspek ini, WFI mendapat nilai sempurna, yakni 100.
Selain itu, WFI mendapat skor terbaik di sejumlah rasio keuangan, seperti rasio pembiayaan banding kewajiban, rasio modal sendiri banding aset total, rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BO/PO), dan rasio rentabilitas yang diwakili return on asset (ROA) dan return on equity (ROE).
Biro Riset Infobank (birI) mencatat, total pembiayaan WFI pada 2023 tumbuh 47,25%, dari Rp1,13 triliun di 2022 menjadi Rp1,66 triliun. Labanya tumbuh 66,99% menjadi Rp86,67 miliar pada 2023 dari Rp51,9 miliar pada 2022. Pertumbuhan laba WFI jauh di atas rata-rata pertumbuhan laba industri multifinance yang sebesar 12,98%.
Pertumbuhan pembiayaan dan laba turut mendongkrak pertumbuhan aset WFI sebesar 40,56% menjadi Rp1,85 triliun. Modal perusahaan pun kian tebal. Per akhir 2023, modal sendiri tumbuh 7,95% menjadi Rp1,06 triliun.
Sepanjang tahun lalu, WFI juga terlihat produktif dalam menyalurkan pembiayaan. Hal itu tecermin dari rasio pembiayaan terhadap aset total atau financing to asset (FAR) yang tercatat 89,74%, di atas standar industri. Itu artinya, perusahaan pembiayaan yang beroperasi sejak 1995 ini dapat menciptakan keuntungan dengan sangat baik karena mampu memaksimalkan aset produktifnya.
Pertumbuhan laba WFI juga ditopang oleh penurunan pengeluaran yang lebih besar daripada penurunan pendapatan. Terlihat dari BO/PO perusahaan pembiayaan ini yang berada di posisi 70,56%. BO/PO-nya ini turun 6,04% dari tahun sebelumnya yang sebesar 76,60%. Itu artinya pula, WFI mampu meningkatkan efisiensi usaha. Di sisi rentabilitas, perusahaan pembiayaan ini pun menjadi salah satu yang terbaik di kelasnya. ROA dan ROE-nya masing-masing 6,76% dan 8,50%.
Pada rating yang sama tahun lalu, WFI hanya berada di posisi kedelapan. Artinya, lompatan besar telah dilakukan WFI, dengan naik tujuh peringkat. Perusahaan pembiayaan yang dipimpin Jasin Hermawan dan Hady Sutiono sebagai direktur ini berhasil mengungguli 37 perusahaan pembiayaan lain yang dirating dalam kelompok ini.