Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Urutkan :
Rp 0

Mewujudkan Bank Sentral Digital Untuk Perekonomian Nasional

Ada potensi di Indonesia mulai dari bonus demografi dengan penduduk 270 juta yang tidak dimiliki negara lain. Terdapat 64,7?ri populasi Indonesia merupakan Gen Y, Z, dan post Z. Segmen tsb akan menjadi masa depan pengguna transaksi digital banking. Sebanyak 35,5% merupakan Gen X dan BabyBoomer mulai melakukan transaksi secara digital di tengah pandemi. Menurut data Internetworldstats (akhir Maret 2021), pengguna internet di tanah air mencapai 212,35 juta dengan estimasi total populasi sebanyak 276,3 juta jiwa.

Rp 0

Membangun Ekosistem Sistem Pembayaran Digital Menyongsong BI Fast

Layanan BI Fast Payment dari Bank Indonesia tentunya akan sangat membantu pelaku usaha dalam mewujudkan sistem pembayaran transfer online secara real time dan lebih aman. Bank Indonesia bahkan mencatat Volume transaksi digital banking juga terus meningkat hingga tumbuh 36,41% mencapai 464,8 juta transaksi dan nilai transaksi digital banking yang tumbuh 22,94% mencapai Rp 2.547,5 triliun pada Febuari 2021.

Rp 100.000

Menjaga Transparansi Pengelolaan Dana Haji

Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) terus menjaga transparansi pengelolaan dana haji untuk menjamin dana tersebut aman. Hal itu terbukti dengan opini wajar tanpa pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Adapun, tramsparansi pengelolaan dana haji dilakukan dengan diseminasi pibluk. Hal itu sesuai ketentuan undang-undang dan peraturan pemerintah serta peraturan presiden untuk publikasi kepada stakeholder, dan media massa baik itu media cetak maupun media online.

Rp 100.000

Mendukung Ekosistem Umkm Go Digital Dan Digitalisasi BPR: Potensi Bisnis Kolaborasi BPR & Fintech

Di era digital seperti saat ini, data menjadi hal vital. Bila dulu hal vitalnya adalah sumber daya alam, maka sekarang telah beralih ke sumber data. Pentingnya konsep house of fintech dan home for new economy, maka para pelaku UMKM yang menggunakan teknologi digital pada proses operasionalnya dapat dijangkau dengan baik oleh pihak perbankan seperti BPR. Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo) terus berupaya untuk mendorong proses transformasi digital pada setiap Bank Perkreditan Rakyat (BPR) yang ada di Indonesia. Salah satunya adalah dengan menginisiasi kolaborasi antara BPR dan perusahaan finansial berbasis teknologi atau Fintech. Kolaborasi ini adalah salah satu cara agar BPR mampu tetap survive ditengah pandemi. Jika tidak segera melakukan transformasi digital, BPR bisa saja ditinggalkan oleh nasabah karena tidak mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Untuk kerja sama dengan fintech, Perbarindo sudah menginisiasi pada tahap awal. Mekanismenya adalah dengan program partnership dengan metode chanelling. Menggabungkan kapabilitas, potensi, kelebihan yang dimiliki fintech dan BPR itu sendiri. Terdapat 4 keuntungan yang diperoleh BPR dari bekerja sama dengan Fintech. Keuntungan-keuntungan tersebut adalah peningkatan akselerasi pendanaan, kemudahan akuisisi nasabah, peningkatan kualitas asesmen risiko, dan perluasan target market. Melalui keuntungan tersebut, BPR tentunya akan bisa tetap survive ditengah pandemi. Tidak hanya survive, BPR juga mampu untuk berkembang lebih jauh melalui kolaborasi dengan banyak pihak, salah satunya adalah Fintech.