Performa bisnis Jasa Raharja yang apik selama beberapa tahun belakangan membentur tantangan pada 2023. Kinerjanya melambat di tengah transformasi yang terus dilakukan. Sementara, Taspen dan ASABRI masih belum menerbitkan laporan keuangan terbaru
Rivan A. Purwantono; masih kuat
Industri asuransi sosial dihuni tiga perusahaan pelat merah. Namun, beberapa tahun belakangan, hanya Jasa Raharja yang setiap tahun rutin dan tertib memublikasikan laporan keuangan.
Dua lainnya, yakni Taspen dan Asuransi Sosial ABRI (ASABRI), absen me rilis laporan keuangan. Taspen terakhir kali memubli kasikan laporan keuangan tahun kerja 2019. ASABRI malah lebih lama lagi. Terakhir mener bitkan laporan keuangan kinerja tahun 2017.
Tanpa laporan atau data kinerja keuangan terbaru dari dua entitas tersebut, Biro Riset Infobank (birl) kesulitan menggambarkan kondisi industri asuransi sosial secara utuh. Namun, tampaknya industri asuransi sosial juga mengalami tekanan.
Kondisi asuransi sosial yang menantang tecermin dari kinerja keuangan Jasa Raharja. Performa perusahaan yang dinakhodai Rivan A. Purwantono sebagai direktur utama ini mengalami koreksi pada 2023. Mengacu data Biro Riset Infobank, sepanjang tahun lalu, Jasa Raharja masih mampu menjaga pen dapatan preminya tumbuh positif. Pendapatan premi bruto perseroan naik tipis, 1,39% year on year (yoy) dari Rp4,68 triliun menjadi Rp4,75 triliun.
Di lain sisi, meski jumlah investasinya mengalami koreksi 9,28% menjadi Rp13,93 triliun, hasil investasinya tetap tumbuh menjadi Rp986,68 miliar, tumbuh 7,15% secara tahunan. Namun, sisi beban mengalami kenaikan. Beban klaim tercatat meningkat 6,29%, dari Rp2,94 triliun menjadi Rp3,13 triliun. Kenaikan beban klaim ini bisa jadi lantaran Jasa Raharja makin gencar melakukan sosialisasi, juga mempermudah akses masyarakat untuk klaim. Masyarakat juga makin sadar bahwa mereka dilindungi oleh Asuransi Jasa Raharja. Perseroan melakukan transformasi business process agar klaim jauh lebih mudah dan cepat.
Lepas dari itu, Jasa Raharja juga mencatatkan penurunan signifikan dari sisi kewajiban, yakni turun 25,48% menjadi Rp3,56 triliun. Di akhir 2023, Jasa Raharja tercatat membukukan laba sebelum pajak sebesar Rp1,51 triliun, atau turun 15,21% dari 2022. Sedangkan, asetnya tercatat sebesar Rp15,23 triliun.
Meski dari sisi pertumbuhan mengalami koreksi, secara fundamental, kondisi kesehatan keuangan Jasa Raharja masih sangat kuat. Lihat saja risk based capital (RBC) yang ada di posisi 748,40%, jauh di atas threshold dari regulator, yakni 120%. Kemampuan Jasa Raharja untuk membayar tagihan lancarnya pun terjaga baik. Ini tecermin dari rasio likuiditas yang ada di level 320,35%. Namun, Jasa Raharja agaknya harus mulai menjalankan operasionalnya dengan lebih efisien. Pasalnya, rasio beban (klaim, usaha, dan komisi) terhadap pendapatan premi netonya masih relatif tinggi, yakni 97,08% di akhir 2023. Rasio ini bahkan kembali naik menjadi 114,55% di Mei 2024.
Dua lainnya, yakni Taspen dan Asuransi Sosial ABRI (ASABRI), absen me rilis laporan keuangan. Taspen terakhir kali memubli kasikan laporan keuangan tahun kerja 2019. ASABRI malah lebih lama lagi. Terakhir mener bitkan laporan keuangan kinerja tahun 2017.