Bank BPD Bali kembali meraih predikat “sangat bagus” pada rating bank tahun ini. Kesungguhannya dalam melayani masyarakat Bali mengantarkannya pada pertumbuhan bisnis berkelanjutan dengan kualitas yang apik.
Sumber : Istimewa
1.BANK BPD BALI
Bank BPD Bali sukses mencatatkan prestasi gemilang pada rating bank tahun ini. Melanjutkan tradisi sebelumnya, bank ini kembali meraih predikat “sangat bagus” pada “Rating 105 Bank Versi Infobank 2024”. Itu berarti, Bank BPD Bali berhasil mempertahankan predikat tersebut selama 26 tahun berturut-turut. Bank yang pada rating tahun lalu memperoleh penghargaan Crown Trophy berkat raihan predikat “sangat bagus” selama 25 tahun berturutturut ini juga memperlihatkan peningkatan kinerja pada rating kali ini.
Bank BPD Bali bertengger di posisi kedua pada rating bank tahun ini dengan total skor 92,81%. Peringkatnya ini lebih baik dibandingkan dengan tahun lalu yang di posisi keenam. Salah satu kinerjanya yang terlihat apik ialah laba tahun berjalan yang tumbuh 22,32% secara tahunan menjadi Rp738,23 miliar.
Pertumbuhan laba bank yang dipimpin I Nyoman Sudharma sebagai direktur utama ini melebihi rata-rata pertumbuhan industri bank umum yang tercatat 20,57%. Pertumbuhan laba Bank BPD Bali ditopang dana pihak ketiga (DPK) yang mencapai Rp27,95 triliun atau tumbuh 5,65% secara tahunan. Bank ini juga mencatatkan kenaikan kredit sebesar 5,39% atau menjadi Rp21,15 triliun di 2023. Besarnya penyaluran kredit itu diimbangi dengan kualitas kredit yang terjaga baik, dengan non performing loan (NPL) di level 1,29%. Level NPL itu menurun dari 2,42% di 2021 dan 2,37% di 2022.
Return on asset (ROA) dan return on equity (ROE) Bank BPD Bali juga terlihat solid. Pada 2023, ROA bank ini tercatat 3,24% atau naik dari 2,62% di 2021 dan 2,68% di 2022. Sementara, ROE-nya tercatat 20,23% atau tumbuh dari 17,78% di 2021 dan 18,27% di 2022.
Kinerja keuangan Bank BPD Bali yang cemerlang itu juga dibarengi dengan efisiensi bisnis. Ini terlihat dari rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BO/ PO)-nya yang tercatat 67,32% pada 2023.
Di rating kali ini, Bank BPD Bali mendapatkan nilai sempurna pada sejumlah aspek penilaian. Dari lima aspek penilaian, yaitu permodalan, kualitas aset, rentabilitas, likuiditas, dan efisiensi, Bank BPD Bali memperoleh nilai sempurna pada aspek permodalan, rentabilitas, dan efisiensi.
Kepada Infobank, Sudharma mengungkapkan bahwa pihaknya akan terus berupaya menjaga kinerja Bank BPD Bali yang selama ini sudah baik. Di antaranya, dengan mengoptimalkan pertumbuhan kredit serta memperdalam penetrasi di segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Kami sudah punya corporate plan. Salah satunya pasti di pertumbuhan perkreditan, akan kami optimasi karena ‘kan itu nanti yang mendorong pertumbuhan eko nomi Bali. Kemudian, dari sektor UMKM, kami akan terus tingkatkan pembiayaannya,” ujar Sudharma, beberapa waktu lalu.
Sementara, kinerja cemerlang Bank BPD Bali di tahun lalu berlanjut sampai dengan Maret 2024. Menurut catatan Biro Riset Infobank (birI), Bank BPD Bali berhasil mengukir kinerja yang solid, bahkan secara rata-rata dapat dikatakan tumbuh di atas industri bank umum yang diwakili 106 bank per Maret 2024.
Per Maret 2024, total aset Bank BPD Bali tumbuh 14,53% secara tahunan atau menjadi Rp35,86 triliun. Pertumbuhan aset ini di atas rata-rata pertumbuhan industri bank umum yang tercatat 8,16%. DPK mengalami kenaikan 16,61% atau menjadi Rp30,69 triliun. Pertumbuhan DPK ini juga di atas rata-rata pertumbuhan industri yang sebesar 7,44%. Sementara pada pos kredit, Bank BPD Bali berhasil menggenjot penyaluran kreditnya sehingga tumbuh 6,11% atau menjadi Rp21,39 triliun.
Di sisi profitabilitas, Bank BPD Bali berhasil mencetak pertumbuhan yang sangat impresif. Laba bersihnya memelesat 35,96% dari Rp198,98 miliar di Maret 2023 menjadi Rp270,53 miliar. Pertumbuhan laba Bank BPD Bali ini jauh di atas rata-rata pertumbuhan laba industri bank umum. Di triwulan pertama 2024, laba industri bank umum tercatat hanya tumbuh 2,02%.
Untuk 2024, Bank BPD Bali optimistis dapat menjaga kinerjanya tetap tumbuh, sehat, dan berkelanjutan. Secara angka, bank ini menargetkan pertumbuhan yang moderat, di kisaran 8% untuk funding dan lending, mengingat kondisi perekonomian tahun ini yang lebih challenging.
“Tahun ini, pertumbuhan kredit memang kita buat moderat, 8%. Pertumbuhan DPK juga 8%. Tapi, kalau kita lihat data terakhir, kami sebenarnya sudah lebih tinggi dari target pertumbuhan, khususnya untuk DPK,” terang Sudharma.
Dari sisi laba, Bank BPD Bali menargetkan laba di kisaran Rp840 miliar hingga akhir 2024. Tren suku bunga tinggi menjadi tantangan mewujudkan ambisi tersebut. Bank ini pun menyiapkan sejumlah strategi menjaga profitabilitas alias laba di era suku bunga tinggi.
Menurut Sudharma, Bank BPD Bali akan fokus menjaga kualitas aset. Ekspansi kredit tetap dilakukan secara prudent atau menerapkan prinsip kehati-hatian. Ditambah dengan penguatan dana murah.
“Untuk menjaga profitabilitas di tengah suku bunga tinggi sekarang, kami menjaga CASA. Kami juga menjaga overhead cost agar tetap optimal, termasuk dengan digitalisasi. Rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) kami di kisaran 64%. Sangat rendah dibandingkan rata-rata BPD ataupun industri,” tutur Sudharma.
Kontribusi Besar sebagai Agen Pembangunan
Bank Bali secara konsisten terus mengepakkan sayap bisnisnya dengan tetap menjaga kehati-hatian untuk memberikan kontribusi yang besar sebagai agen pembangunan daerah.
Direktur Utama Bank BPD Bali I Nyoman Sudharma mengatakan, pihaknya optimistis dapat menjaga kinerja pada 2024 ini dengan solid, sekaligus memberikan dampak positif bagi perekonomian daerah. Salah satu langkah nyata yang paling menonjol ialah dengan terus menyalurkan kredit produktif dan kredit usaha rakyat (KUR) untuk pelaku sektor wisata dan kreatif.
“Kami di kredit masih mengandalkan KUR. Tahun ini kami sudah salurkan Rp2,9 triliun. Sampai Maret kemarin, UMKM kita sudah 49,70%. Di Bali kan PNS-nya kecil, beda dengan BPD-BPD lain yang kalau saya lihat konsumernya masih banyak. Sedangkan backbone kita masih di UMKM,” ujarnya kepada Infobank pada Juni lalu.
Ia optimistis kinerja positif kuartal pertama tahun ini menjadi tolok ukur pertumbuhan selama 2024 dengan berupaya meningkatkan pembiayaan untuk pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) lokal Bali.
Bank Bali melakukan segmentasi penerima kredit usaha rakyat (KUR), di antaranya sektor prioritas UMKM pertanian dan peningkatan digitalisasi yang mempercepat penilaian terhadap debitur. Tidak mau muluk-muluk, I Nyoman Sudharma menargetkan pertumbuhan penyaluran kredit tumbuh sebesar 8% pada 2024 dari realisasi kredit tahun lalu yang mencapai Rp21 triliun.
“Mungkin, kalau kita sih, seluruhnya bisa tumbuh positif. Tapi, di kredit kita kendalikan dengan sebaik-baiknya. Tidak jor-joran. Karena, Bali sangat tergantung terhadap pariwisata ya. Kalau kita nanti jor-joran, geopolitik saat ini kita lihat lagi seperti itu, takutnya, kalau ada faktor eksternal, gampang turun lagi itu sektor kita,” saat ditemui Infobank di Bali pada Juni lalu.
Meski terlalu ekspansif, I Nyoman Sudharma mengaku sedang fokus memperkuat struktur dana murah CASA, memupuk pencadangan (CKPN) yang memadai, dan menjaga kualitas aset.
Kualitas aset yang terjaga berdampak positif pada pertumbuhan laba yang tumbuh signifikan. Hal itulah yang menjadi kunci kinerja Bank BPD Bali yang tumbuh solid di kuartal I 2024.
“Kita memang sudah siapkan soft lending dan yang lain-lainnya juga, termasuk CKPN. Kalau kami, CKPN itu sudah disiapkan dari 2020. Makanya, coverage CKPN kita yang khusus NPL itu sudah di atas 260%. Makanya, NPL net kita kan hanya 0,05%,” ungkapnya.
Sementara struktur dana pihak ketiga (DPK) yang bagus menjadi faktor penting. Pada kuartal I/2024, sekitar 69,37% dari total DPK Bank BPD Bali bersumber dari himpunan dana murah. Dana murah sangat menentukan untuk perbankan bisa berkembang. Kondisi ini diakui Nyoman menjadi pondasi kuat bagi Bank BPD Bali untuk membiayai kredit UMKM dengan bunga yang kompetitif.
Semakin tinggi dana murah, maka potensi pertumbuhan kinerja bank akan semakin baik, karena biaya dananya akan menjadi rendah. Dengan Cost of Fund (CoF) rendah, Bank Bali bisa lebih bersaing dalam menyalurkan kredit.
“Kita diuntungkan 2023 sampai dengan Maret kemarin adalah, DPK kita yang kasarnya tinggi. Dan kami tingkat suku bunga kredit untuk UMKM [di luar KUR] itu single digit. Jadi kompetitif sekali,” tegas Nyoman.
Menariknya, pertumbuhan dana murah juga diperoleh dari sumber pungutan wisatawan mancanegara (wisman). Per Februari 2024, setiap wisman yang masuk ke Bali dikenai biaya Rp150.000 per orang, di mana uang tersebut langsung disetor ke Bank Bali.
“Kalau itu kan Rp150.000 dia [wisman] per orang, jadi tinggal dikali. Cuma kan, belum optimum. Maksudnya, ini masih sedang dievaluasi ya. Kalau itu bisa 100% atau 80% saja kan sudah lumayan. Setahun bisa dapat Rp1 triliun dari pungutan wisatawan aja,” bebernya.
"Kita dari pertumbuhan ekonomi dan volume binis yang ada bisa menjaga rasio CASA kita di sekitar 68%. Inilah yang menjadi pondasi dasar kami untuk bisa membiayai kredit kepada UMKM. Karena suku bunga kredit UMKM kami itu single digit. Di luar KUR kita juga ada kredit yang single digit juga. Jadi kompetitif sekali. Ini jadi komitmen kita kepada pemegang saham karena Bali adalah industri kreatif dan pariwisata, banyak UMKM ini yang menjadi pondasi dasar kami,” I Nyoman Sudharma, S.H., M.H., Direktur Utama Bank BPD Bali.
2.BANK NAGARI
Bank Nagari kembali memperoleh predikat “sangat bagus” dengan total skor 92,43%. Peringkatnya juga naik dari rating tahun lalu yang berada di posisi keempat. Pada 2023, kinerja bank yang mulai Juni lalu dipimpin Gusti Candra sebagai direktur utama ini menawan. Bank ini mencetak laba bersih Rp523,77 miliar. Secara tahunan, laba tersebut tumbuh 11,14%.
Pertumbuhan laba yang double digit ditopang oleh kinerja positif sejumlah pos keuangan lainnya. Sebut saja dana pihak ketiga (DPK) yang mengembang 5,64% secara tahunan menjadi Rp25,95 triliun di 2023. Pertumbuhan DPK Bank Nagari ini melebihi rata-rata pertumbuhan DPK industri bank umum yang sebesar 3,73%. Di lain sisi, penyaluran kreditnya bertumbuh 6,94% menjadi Rp24,03 triliun.
Kualitas asetnya juga tercatat sangat baik, dengan non performing loan (NPL) 1,98% di 2023. Turun dari 2,49% di 2021 dan 2,21% di 2022. Dari sisi rentabilitas, Bank Nagari memiliki return on asset (ROA) dan return on equity (ROE) yang terus meningkat. Berdasarkan data rating, dibandingkan dengan sebagian besar peer-nya, Bank Nagari menonjol di aspek permodalan, kualitas aset, rentabilitas, dan efisiensi. Per akhir 2023, Bank Nagari beraset Rp31,91 triliun atau tumbuh 6,04% secara tahunan.
BANK PAPUA
Direktur Utama Bank Papua, Yuliana D. Yembise, beserta jajarannya berhasil membawa Bank Papua mengukir kinerja cemerlang pada 2023. Bank Papua membukukan total aset Rp32,28 triliun per akhir 2023 atau tumbuh 8,26% secara tahunan. Pertumbuhan aset tersebut melampaui rata-rata pertumbuhan total aset industri bank umum yang sebesar 5,87%.
Selain aset, kinerja ciamik Bank Papua terlihat dari sisi penyaluran kredit yang meningkat sebesar 7,92% secara tahunan atau menjadi Rp19,59 triliun di 2023. Dana pihak ketiga (DPK)-nya pun membengkak dari Rp24,13 triliun di 2022 menjadi Rp25,60 triliun di 2023 atau naik 6,11% secara tahunan. Pertumbuhan DPK ini juga melampaui rata-rata pertumbuhan DPK industri bank umum yang sebesar 3,73%.
Bank Papua membukukan pendapatan sebesar Rp2,65 triliun di 2023 atau naik 15,83% secara tahunan. Kemudian, laba bersihnya tercatat sebesar Rp427,02 miliar, tumbuh 9,82% secara tahunan.
Bank Papua mendapatkan predikat “sangat bagus” dengan total skor 91,81% pada rating bank kali ini. Berdasarkan penilaian rating, Bank Papua mendapat nilai sempurna di aspek permodalan dan efisiensi. Untuk aspek lain, nilainya juga terbilang baik, terutama likuiditas yang sebesar 12,28%. Salah satu yang tertinggi di kelompoknya.
BANK SUMUT
Bank Sumut kembali meraih predikat “sangat bagus” pada rating bank versi Infobank. Bank yang dipimpin Babay Parid Wazdi selaku direktur utama ini memperoleh total skor 89,03%. Pertumbuhan aset dan dana pihak ketiga (DPK)-nya di 2023 masing-masing sebesar 9,29% dan 9,75% secara tahunan, menjadi Rp44,39 triliun dan Rp35,02 triliun.
Pertumbuhan aset dan DPK itu melampaui rata-rata industri yang 5,87% dan 3,73%. Permodalan Bank Sumut pun terpantau kokoh dengan capital adequacy ratio (CAR) di level 22,70% pada 2023. Modal intinya sendiri tercatat Rp4,46 triliun.
Kredit yang disalurkan Bank Sumut di 2023 tercatat sebesar Rp29,35 triliun atau naik 5,38% secara tahunan. Total pendapatannya meningkat 2,41% secara tahunan atau menjadi Rp4,76 triliun di 2023, sedangkan laba bersihnya naik 5,62% secara tahunan menjadi Rp740,08 miliar.
Bank Sumut juga mampu menjaga efisiensi aktivitas bisnisnya. Terlihat dari rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BO/PO) yang berada di level 74,82%. Level BO/PO itu terpantau lebih rendah ketimbang rata-rata industri bank umum yang di level 78,92%. Di rating ini, Bank Sumut terlihat kuat di aspek rentabilitas dan efisiensi.
Bank BPD Bali kembali meraih predikat “sangat bagus” pada rating bank tahun ini. Kesungguhannya dalam melayani masyarakat Bali mengantarkannya pada pertumbuhan bisnis berkelanjutan dengan kualitas yang apik.