Kelompok BUS Dihuni 13 Bank, yang Tersebar di 3 Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti. Dari Jumlah Tersebut, Sebanyak 7 BUS Berhasil Mendapatkan Predikat “Sangat Bagus”. Peraih Predikat Prestisius Ini Masuk Dalam KBMI 3 dan KBMI 1. Di Kelas Atas, BSI Tetap Terbaik. Sementara, di KBMI 2, Tidak Ada yang Meraih Predikat “Sangat Bagus”
Sumber: Istimewa
BUS BERASET RP200 TRILIUN KE ATAS
1. Bank Syariah Indonesia
Tetap Paling Besar, Tetap "Sangat Bagus"
KONSISTENSI Bank Syariah Indonesia (BSI) dalam menjaga kinerja positif patut diacungi jempol. Bank syariah terbesar di Tanah Air ini kembali meraih predikat “sangat bagus” dalam “Rating Institusi Keuangan Syariah Versi Infobank 2024” berkat raihan skor 93,38%. Berdasarkan data rating, BSI meraih nilai sempurna di dua aspek penilaian, yakni permodalan dan efisiensi.
Capaian itu merupakan buah manis dari per[1]forma keuangan BSI yang membiru sepanjang 2023. Mengacu pada data Biro Riset Infobank (birI), tahun lalu, bank syariah terbesar di Indonesia yang dinakhodai Hery Gunardi sebagai direktur utama ini membukukan kenaikan pembiayaan sebesar 15,73% year on year (yoy), atau menjadi Rp239,69 triliun. Pembiayaannya tumbuh di atas rata-rata perbankan syariah (konsolidasi) yang di kisaran 15,63% yoy. Di samping itu, BSI mampu menjaga kualitas pembiayaan dengan baik. Lihat saja, rasio non performing financing (NPF)-nya terjaga rendah di angka 2,08%.
Dari sisi funding, dana pihak ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun BSI mencapai Rp293,78 triliun. Angka ini meningkat 12,35% dari Rp261,49 triliun di 2022. Laju pertumbuhan DPK BSI pun lebih tinggi dibandingkan dengan industri (konsolidasi) yang tercatat 10,43% yoy. Adapun, struktur dana nya didominasi dana murah (CASA) dengan porsi 60,57% terhadap total DPK.
Fungsi intermediasi yang berjalan baik turut mendorong raihan laba BSI, yakni mencapai Rp5,70 triliun atau tumbuh 33,88% dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang tercatat Rp4,26 triliun. Kenaikan laba bank syariah ini jauh di atas rerata pertumbuhan industri yang sebesar 8,06% yoy. Sedangkan, dari sisi aset, BSI makin jauh meninggalkan pesaing nya. Di akhir 2023, aset bank syariah ini makin gemuk, menembus Rp353,62 triliun berkat adanya kenaikan 15,67% secara tahunan.
BUS BERASET RP25 TRILIUN KE ATAS
1. Bank Syariah Aceh
Unggul di Aspek Efisiensi
KELOMPOK bank umum syariah (BUS) bermodal inti sampai dengan Rp6 triliun (KBMI 1), kelas aset Rp25 triliun ke atas, dihuni oleh tiga bank, yakni Bank Aceh Syariah, Bank BRK Syariah, dan Bank Muamalat. Pada rating kali ini, Bank Aceh Syariah dan Bank BRK Syariah meraih predikat “sangat bagus”. Sedangkan, Bank Muamalat berpredikat “cukup bagus”.
Dengan skor tertinggi sebesar 87,62%, Bank Aceh Syariah bercokol di posisi pertama di kelas ini. Bank yang dipimpin Fadhil Ilyas sebagai plt direktur utama ini menunjukkan performa kinerja keuangan yang baik sepanjang 2023.
Per akhir 2023, Bank Aceh Syariah terlihat mampu menjalankan fungsi intermediasi dengan baik. Penyaluran pembiayaan meningkat 7,81% yoy, dari Rp17,33 triliun di 2022 menjadi Rp18,69 triliun. Dana pihak ketiga (DPK) juga naik, yaitu 6,49% yoy, dari Rp22,98 triliun menjadi Rp24,47 triliun. Struktur dananya pun terbilang baik, dengan rasio dana murah (CASA) terhadap total DPK sebesar 61,69%. Perinciannya, tabungan Rp11,49 triliun dan giro Rp3,61 triliun. Sementara, depositonya tercatat Rp9,37 triliun.
Bank Aceh Syariah menutup tahun kerja 2023 dengan meraup laba sebesar Rp430,20 miliar. Permodalan bank ini juga kian menebal. Modal intinya tumbuh 2,91% yoy menjadi Rp3,39 triliun. Di lain sisi, total asetnya tercatat sebesar Rp30,47 triliun, atau meningkat 5,92% secara tahunan.
Rasio-rasio keuangan lainnya tampak bagus. Kualitas pembiayaan terjaga sangat baik, dengan rasio pembiayaan bermasalah di level 1,28%, di bawah threshold 5%. Angka ini juga berada di bawah rerata NPF industri perbankan syariah (BUS) sebesar 2,04%. Sedangkan, ROA dan ROE masing-masing 2,05% dan 13,02%. Bank Aceh Syariah terlihat efisien dalam menjalankan bisnisnya. AUS
1. Bank BRK Syariah
BANK Riau Kepri (BRK) Syariah menempati posisi runner-up di kelas ini. Sejak melakukan konversi dari bank konvensional menjadi bank syariah pada 2022, kinerja Bank BRK Syariah makin solid. Salah satu tolok ukurnya di sisi profitabilitas. Tahun lalu, laba Bank BRK Syariah tumbuh double digit sebesar 22,86% yoy, dari Rp230,96 miliar di 2022 menjadi Rp283,78 miliar di 2023. Pertumbuhan laba Bank BRK Syariah berada di atas industri perbankan syariah (konsolidasi) yang sebesar 8,06% yoy.
Kenaikan laba disokong oleh pertumbuhan pembiayaan yang naik 2,95% yoy menjadi Rp20,18 triliun pada 2023. Kinerja pembiayaan ini juga dibarengi dengan kualitas yang baik. Tercermin dari NPF yang berhasil ditekan dari 2,57% di 2022 menjadi 2,48% di 2023.
Per akhir 2023, bank yang dipimpin M.A. Suharto sebagai direktur dana dan jasa, Said Syamsuri sebagai direktur operasional, dan Fajar Restu Febriansyah sebagai direktur kepatuhan dan manajemen risiko ini beraset Rp29,34 triliun. Dana pihak ketiga (DPK) yang diraup BUS ini sebesar Rp23,49 triliun.
Untuk menambah lebih banyak simpanan, Bank BRK Syariah tahun ini gencar menggenjot DPK, khususnya dana murah dari tabungan dan giro. Agustus lalu, misalnya, Bank BRK Syariah menggelar kegiatan pembukaan tabungan simpanan pelajar (simpel) secara massal sebanyak 11.400 rekening di sejumlah SD hingga SMP sederajat di Kota Pekanbaru. Hal ini pun selaras dengan program satu rekening satu pelajar atau KEJAR yang masif disosialisasikan oleh Bank BRK Syariah.
“Sejak awal 2024 lalu, Bank BRK Syariah sudah mulai melakukan sosialisasi dan edukasi keuangan di setiap sekolah. Selain menyosialisasikan Tabungan Simpel, Bank BRK Syariah dalam setiap kegiatan menyosialisasikan Tabungan Sinar Belia,” ujar M.A. Suharto, bulan lalu.
Dalam rating kali ini, Bank BRK Syariah mendapatkan nilai sempurna di sejumlah aspek penilaian. Sebut saja aspek penilaian permodalan (CAR); aspek penilaian rentabilitas (pertumbuhan laba tahun berjalan); aspek penilaian likuiditas (FDR); serta aspek penilaian efisiensi (BO/PO dan NIM). AUS
BUS BERASET RP10 TRILIUN S.D. DI BAWAH RP25 TRILIUN
Salut untuk Peraih Skor Tertinggi
DARI total 13 bank umum syariah (BUS) yang dirating kali ini, lima di antaranya masuk dalam kelompok aset KBMI 1, aset Rp10 triliun sampai dengan di bawah Rp25 triliun. Di kelompok ini ada tiga BUS yang meraih predikat “sangat bagus” karena kinerjanya menawan di 2023.
Bank BCA Syariah bertengger di puncak. Bank anak usaha BCA ini meraih total skor 94,46%. Paling tinggi di antara semua BUS yang dirating. Luar biasa! Mesin bisnis bank yang dipimpin Yuli Melati Suryaningrum sebagai presiden direktur ini memang menderu kencang di 2023, di atas rata-rata industri perbankan syariah.
Berdasarkan data Biro Riset Infobank (birl), Bank BCA Syariah mencetak laba Rp153,80 miliar pada 2023. Raihan laba itu melonjak 30,80% year on year (yoy), di atas ratarata BUS dan UUS yang tercatat tumbuh 8,06% di periode yang sama. Kenaikan laba ditopang oleh sejumlah faktor, termasuk dari sisi intermediasi dan efisiensi operasional yang baik.
Sepanjang 2023, Bank BCA Syariah menyalurkan total pembiayaan sebesar Rp9,01 triliun, atau tumbuh 18,96% yoy. Lebih tinggi dibandingkan dengan ratarata industri, yakni 15,63% yoy. Dari sisi kualitas juga lebih baik daripada industri. Non performing financing (NPF) bisa ditekan ke posisi 1,04%, lebih rendah ketimbang ratarata industri yang 2,10%.
Pun demikian dengan DPK yang mengalami kenaikan 15,48% yoy atau menjadi Rp10,95 triliun. Bandingkan dengan industri yang tumbuh 10,43% yoy. Keberhasilan BCA Syariah menggenjot DPK salah satunya ditopang oleh digitalisasi, seperti lewat BCA Syariah Mobile. Per 2023, pengguna aplikasi ini sudah tembus 375,75 ribu.
Kesuksesan Bank BCA Syariah dalam menumbuhkan laba juga dibarengi dengan kemampuannya dalam menjaga efisiensi. Rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BO/PO) mampu ditekan ke posisi 78,59% pada 2023. Net interest margin (NIM) juga berada di level yang cukup baik, yaitu sebesar 4,71%. Sedangkan, dari sisi aset terjadi peningkatan 14,21%, dari Rp12,67 triliun di 2022 menjadi Rp14,47 triliun.
Pada 2024 ini, Bank BCA Syariah menargetkan pertumbuhan sekitar 9% 12% di berbagai aspek. Meskipun menghadapi sejumlah situasi, BUS ini optimistis bisa mencapai target pertumbuhan, dan sudah mempersiapkan sejumlah strategi guna mewujudkan ambisi tersebut.
“Fokus strategi kami pada tahun 2024 diarahkan pada peningkatan jumlah nasabah dan komposisi CASA, penyaluran pembiayaan yang ekspansif namun tetap hatihati, didukung oleh kapasitas dan kapabilitas SDM dan infrastruktur TI yang kuat serta praktik tata kelola perusahaan dengan standar global,” tegas Yuli. MA
1. 2. Bank NTB Syariah
BANK NTB Syariah kembali memperoleh predikat “sangat bagus” pada rating keuangan syariah edisi kali ini. Total skornya 92,55%.
Di bawah komando Direktur Utama Kukuh Rahardjo, Bank NTB Syariah menorehkan pertumbuhan positif di berbagai aspek pada 2023. Pembiayaan meningkat 15,45%, atau menjadi Rp10,07 triliun. Kualitas pembiayaan sangat baik, dengan NPF hanya 0,90%. Lalu, DPK mengalami pertumbuhan 9,16% yoy menjadi Rp10,68 triliun.
BUS ini juga memiliki permodalan kuat serta rentabilitas yang solid. Rasio kecukupan modal (CAR) tebal di posisi 24,47%. Untuk rentabilitas, return on asset (ROA) dan return on equity (ROE) masingmasing berada di angka 2,07% dan 13,58%. Bank NTB Syariah mampu mencatat laba bersih sebesar Rp211,99 miliar, atau tumbuh 17,18% dari 2022. Bank ini menutup 2023 dengan total aset Rp14,27 triliun. MAS
1. 3. Bank Mega Syariah
MENUTUP jajaran tiga terbaik di kelas ini ada Bank Mega Syariah, yang mendapat total skor 82,90% dan kembali memperoleh pre[1]dikat “sangat bagus”.
Bank yang dipimpin Waluyo Yuwono selaku direktur utama ini tercatat menyalurkan pembiayaan sebesar Rp6,99 triliun pada 2023 lalu. Sedangkan, DPK tercatat mencapai Rp9,69 triliun, dengan total aset mencapai Rp14,57 triliun.
Bank Mega Syariah menunjukkan komitmen untuk mendukung pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Hal itu tecermin dari porsi pembiayaan, yang sekitar 20,38% di antaranya mengalir ke sektor UMKM. Adapun dari sisi profitabilitas, tahun lalu Bank Mega Syariah mengantongi untung bersih Rp238,72 miliar, atau meningkat 2,77% dibandingkan dengan tahun sebelum-nya. BUS ini juga berhasil meraih nilai sempurna pada komposit good corporate governance (GCG). MAS
BUS BERASET DI BAWAH RP10 TRILIUN
Bank Victoria Syariah
Top, Kini "Sangat Bagus"
ADA tiga bank umum syariah (BUS) di KBMI 1 kelas aset di bawah Rp10 triliun. Namun, hanya satu BUS yang berhasil meraih predikat “sangat bagus” di rating kali ini, yaitu Bank Victoria Syariah. Capaian ini diraih berkat kinerja bisnis bank ini yang tumbuh solid pada 2023. Bank Victoria Syariah sukses mengamankan predikat “sangat bagus” dengan total skor 82,72%. Dibandingkan dengan rating tahun sebelumnya, capaian Bank Victoria Syariah kini lebih baik. Sebelumnya, bank ini berpredikat “bagus” saja.
Dari sisi kinerja keuangan, bank yang dipimpin Dery Januar sebagai direktur utama ini memang mencatatkan kenaikan signifikan pada 2023. Beberapa pos keuangan pentingnya tercatat tumbuh di atas ratarata industri. Lihat saja, pembiayaan meroket hingga 96,20% year on year (yoy), atau menjadi Rp1,22 triliun dari Rp622,95 miliar di tahun sebelumnya. Laju kencang pembiayaannya juga dibarengi dengan perbaikan kualitas. Rasio non performing financing (NPF) bank ini tercatat 0,73%, turun jauh dari 1,81% di periode yang sama tahun lalu.
Dari sisi funding, brankas likuiditas Bank Victoria Syariah juga terlihat makin gemuk. Dana pihak ketiga (DPK)-nya meningkat 39,55% secara tahunan, dari Rp811,92 miliar di 2022 menjadi Rp1,13 triliun di 2023. Dibandingkan dengan industri BUS dan UUS yang hanya tumbuh 10,43%, pertumbuhan DPK Bank Victoria Syariah lebih tinggi. Sementara, dari sisi struktur DPK, dana murah atau CASA-nya meningkat double digit, yakni sebesar 49,26% secara tahunan menjadi Rp66,03 miliar.
Sisi fundamental Bank Victoria Syariah pun menunjukkan peningkatan. Pemegang saham melakukan penguatan permodalan untuk menopang ekspansi bank ini. Meski modal intinya hanya naik tipis 0,97% yoy menjadi Rp1,02 triliun, rasio kecukupan modal atau CAR bank ini berada di posisi 65,83%. Terbilang kuat untuk melakukan ekspansi bisnis.
Tak hanya itu, operasional bisnis Bank Victoria Syariah juga makin efisien. Rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BO/ PO) bank ini tercatat menurun signifikan, dari 94,41% pada 2022 menjadi 89,52% pada 2023. Menurunnya rasio BO/PO ikut menopang pertumbuhan laba bank ini.
Tahun lalu, Bank Victoria Syariah mengantongi laba Rp9,78 miliar atau melonjak 91,18% dari Rp5,11 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Raihan laba itu antara lain disokong pendapatan yang meningkat 55,23% atau menjadi Rp162,32 miliar. Adapun, total asetnya tercatat Rp3,08 triliun atau melonjak 46,02% yoy. SW
1. Bank Syariah Indonesia