Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Makro Ekonomi

Menakar Perkembangan Ekonomi Global dan Indonesia 2025

APBN 2025 diarahkan untuk mendukung pemerataan pembangunan di seluruh Indonesia. APBN 2025 disusun di masa transisi pemerintahan dengan semangat keberlanjutan, optimisme. Namun, tetap hati-hati dan waspada terhadap dinamika global dan nasional.

Oleh Ryan Kiryanto
Sumber: Kementerian Keuangan, Diolah Kembali Oleh Biro Riset Infobank (Biri)

Sumber: Kementerian Keuangan, Diolah Kembali Oleh Biro Riset Infobank (Biri)

Tahun 2024 merupakan tahun politik global karena sebanyak 60 negara menyelenggarakan pemilihan umum (pemilu), baik pemilu presiden, perdana menteri (PM), maupun legislatif. Puncaknya akan terjadi pada 5 November 2024 saat pemilik suara di Amerika Serikat (AS) menentukan pilihan untuk kursi presiden/wakil presiden periode 2024-2028.

Pesta demokrasi global masih akan berlanjut di 2025, meskipun dengan jumlah negara penyelenggara tidak sebanyak tahun ini. Apa pun hasil pemilu tentu akan memberikan dampak atau pengaruh – baik positif maupun negatif – bagi negara tersebut maupun bagi negara-negara mitra dagang utamanya, bahkan bisa saja terhadap perekonomian global.

Pada Juli lalu, Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) merilis data perkiraan pertumbuhan ekonomi global tahun ini sebesar 3,2%, – sedikit melambat dibandingkan dengan realisasi 2023 yang 3,3% – dan akan membaik ke 3,3% di 2025. Beberapa lembaga ekonomi taraf internasional lainnya secara umum memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global tahun ini berkisar 2,5%-2,9% dan sebesar 2,6%-3,0% untuk 2025.

Melambatnya perekonomian Tiongkok dan membaiknya perekonomian Eropa serta terjaganya perekonomian negara berkembang di Asia, khususnya India dan Indonesia, menjadi faktor pertimbangan berbagai perkiraan tersebut.

Amerika Serikat (AS)

Data terbaru menunjukkan pasar tenaga kerja melemah. Ekonomi AS menciptakan 114.000 pekerjaan pada Juli, dan angka pengangguran naik ke 4,3%. Kenaikan tingkat pengangguran disebabkan oleh pertumbuhan angkatan kerja yang melebihi pertumbuhan pekerjaan daripada peningkatan kehilangan pekerjaan.

Data ini dicermati oleh bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed). Dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang berakhir pada Rabu (18/9) waktu AS, bank sentral AS memutuskan memangkas suku bunga The Fed sebesar 50 basis points (bps) dari posisi 5,25%-5,5% menjadi 4,75%-5% untuk mempertahankan kondisi ekonomi AS menjadi lebih stabil, khusus guna mencegah penurunan pada sector tenaga kerja. Pelaku pasar dan ekonom sudah mengantisipasi pemotongan lanjutan hingga suku bunga acuan bertengger di kisaran target 3,25%-3,5% pada akhir 2025.

Ke depannya, kondisi pasar tenaga kerja tetap akan menjadi fokus FOMC terkait pengambilan kebijakan yang makin longgar atau dovish. Untuk 2025, muncul spekulasi bahwa suku bunga dana federal dapat stabil sekitar 3,25%- 3,5%, asalkan kondisi pasar tenaga kerja terjaga.

Wilayah Euro

Ekonomi kawasan Euro secara tahunan tumbuh sebesar 0,3% pada kuartal kedua dibandingkan dengan kuartal pertama. Hambatan tak terduga dari Jerman, di mana pemulihan sektor manufaktur masih berlanjut, diimbangi oleh sektor pariwisata yang mendukung pertumbuhan di Spanyol dan Prancis. Diperkirakan pertumbuhan PDB setahun penuh untuk 2024 di kawasan Euro berkisar 0,8%.

ECB membiarkan suku bunga fasilitas depositonya tidak berubah di 3,75% pada Juli setelah penurunan suku bunga 25 bps pada Juni. Namun, pemotongan lebih lanjut akan menempatkan suku bunga kebijakan di 3,25% pada akhir 2024 dan 2,25% pada akhir 2025. Relaksasi kebijakan moneter ECB diperlukan untuk melandaikan angka pengangguran yang naik ke 6,5% pada Juni lalu dari rekor terendahnya yang 6,4% pada Mei.

Inggris

Data pertumbuhan dan inflasi terbaru menunjukkan ekonomi Inggris bergerak ke keseimbangan yang lebih baik. Inflasi lebih lemah dari yang diperkirakan pada Juli dan pertumbuhan kuartal kedua hanya sedikit lebih rendah daripada kuartal pertama, ketika Inggris keluar dari resesi ringan.

Tepat langkah yang diambil Bank of England (BOE) yang menurunkan suku bunga kebijakan pada 1 Agustus lalu sebesar 25 bps menjadi 5%, pemotongan pertama dalam siklus saat ini. BOE diperkirakan akan memangkas satu kali lagi suku bunga kebijakan tahun ini, dengan suku bunga kebijakan mendarat di 4,75% dan pemotongan 25 bps pada 2025.

PDB Inggris tumbuh 0,6% pada kuartal kedua dibandingkan dengan kuartal pertama (quarter to quarter/qtq), sedikit di bawah pertumbuhan kuartal pertama yang 0,7% (qtq). Ekonomi Inggris diperkirakan tumbuh sebesar 1,2%. untuk sepanjang 2024 ini. Potensi lonjakan inflasi dan penurunan serapan tenaga kerja menjadi momentum BOE untuk melanjutkan pelonggaran kebijakan suku bunga.

Jepang

Ekonomi Jepang berpeluang bangkit dari periode deflasi selama 30 tahun dan memiliki kesempatan langka untuk beralih ke pertumbuhan mandiri dipimpin oleh sektor swasta. Penuaan masyarakat telah membuat investor tampak kurang percaya diri mengenai pemulihan belanja konsumen dan inflasi 2% yang lengket, tapi 2024 ini sebagai tahun pertama dari siklus harga, upah, dan konsumsi yang baik — meskipun faktor kuncinya adalah apakah warga lanjut usia tanpa tabungan yang cukup akan berpartisipasi dalam angkatan kerja.

Namun, terdapat catatan peringatan, di mana sementara kenaikan upah adalah yang terbesar dalam 33 tahun, namun populasi Jepang telah menua selama periode ini, yang berarti sensitivitas konsumsi pribadi terhadap upah riil mungkin telah menurun. Sebanyak 40% konsumen adalah pensiunan, dan hanya sedikit dari mereka mendapat manfaat dari pertumbuhan upah. Pekerja juga membayar lebih banyak upah mereka dalam retribusi kesejahteraan sosial daripada yang mereka lakukan 30 tahun lalu. Pertanyaan kuncinya adalah apakah pemulihan paruh kedua dalam konsumsi pribadi tahun ini akan membantu mempertahankan inflasi dan membuat suku bunga bermakna.

Sementara suku bunga netral sangat tidak pasti, maka suku bunga kebijakan sebesar 1,5% diperkirakan akan dicapai pada Oktober 2026. Ini dengan konsensus bahwa kenaikan suku bunga disertai dengan ekonomi yang membaik dan pertumbuhan upah positif bagi rumah tangga secara keseluruhan.

Tiongkok

PDB tahunan tumbuh 4,7% pada kuartal kedua, mencerminkan permintaan domestik lemah, impor lamban, dan inflasi lemah. Ekonomi Tiongkok diperkirakan tumbuh 5,1% meskipun penawaran dan permintaan tetap tidak seimbang sehingga dapat mendistorsi keberlanjutan pertumbuhan tersebut.

Melemahnya ekonomi Tongkok terkonfirmasi dari inflasi yang amat rendah, yakni 0,5% pada Juli, jauh di bawah target inflasi bank sentral Tiongkok (People’s Bank of China/PBOC) sebesar 3%. Hancurnya sektor properti menjadi penyebab utama anjloknya perekonomian Tiongkok, dipicu oleh kebijakan salah total, yakni total lockdown pada kurun waktu 2020-2022 silam yang mengisolasi negara tersebut dari semua aktivitas ekonomi global.

Indonesia

Pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap terjaga baik dan perlu didorong lebih tinggi. Investasi terus tumbuh, khususnya investasi bangunan sejalan dengan tahapan finalisasi operasional Ibu Kota Nusantara (IKN) dan penyelesaian berbagai Proyek Strategis Nasional (PSN).

Pertumbuhan konsumsi rumah tangga tetap terjaga, khususnya untuk kelas menengah ke atas. Ekspor nonmigas tetap baik sehingga turut menopang pertumbuhan ekonomi. Belanja pemerintah yang diperkirakan meningkat pada akhir tahun diharapkan dapat juga menopang permintaan domestik.

Berbagai indikator terkini menunjukkan kegiatan ekonomi pada triwulan tiga 2024 tetap baik. Tecermin dari keyakinan konsumen yang tinggi, penjualan eceran positif, serta impor barang modal dan penjualan semen yang meningkat. Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2024 berkisar 4,7%-5,5%.

Mempertimbangkan indikasi pelemahan ekonomi, yang terlihat dari deflasi empat bulan berturut-turut ( Juni-September), angka purchasing manager indeks (PMI) Indonesia di zona kontraksi, yakni 49,3 dan 48,9 di Juli dan Agustus lalu, dan laju pengangguran yang melonjak, Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) pada 18 September 2024 lalu menurunkan BI-7 Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 6,0%.

Sebuah keputusan brilian, berani dan antisipatif untuk menahan pelemahan ekonomi berlanjut. Harapannya sektor perbankan melalui fungsi intermediasinya dan sektor riil melalui aktivitas perdagangan dan investasi bergerak bersama lebih agresif melanjutkan momentum pertumbuhan pada kisaran moderat yang sebesar 5% tahun ini.

Pertumbuhan kredit per Agustus 2024 tetap kuat mencapai 11,40% (year on year/yoy), ditopang oleh sisi penawaran sejalan dengan minat penyaluran kredit terjaga, pendanaan memadai, realokasi alat likuid ke kredit, dan dukungan kebijakan makroprudensial akomodatif. Pertumbuhan kredit juga didukung oleh sisi permintaan yang tetap terjaga baik dari korporasi, terutama korporasi di sektor padat modal. Permintaan kredit rumah tangga terjaga, terutama pada sektor properti.

Secara sektoral, pertumbuhan kredit pada mayoritas sektor ekonomi tetap kuat, terutama pada sektor industri; listrik, gas dan air; dan pengangkutan. Pertumbuhan kredit secara tahunan (yoy) ditopang oleh kredit modal kerja (KMK), kredit investasi (KI), dan kredit konsumsi (KK), masing-masing tumbuh 10,75%; 13,08%; dan 10,83%.

Untuk itu, tidak ada salahnya pemerintahan mendatang juga memperhatikan catatan IMF yang menyoroti melemahnya kerangka kerja makro-fiskal yang dapat menghambat kredibilitas kebijakan Indonesia, hingga risiko ekspor akibat dinamika ekonomi global.

Hal tersebut tercantum dalam laporan IMF Country Report No. 24/270 bertajuk “IMF Executive Board Concludes 2024 Article IV Consultation with Indonesia” yang diterbitkan 7 Agustus 2024. Dari sisi domestik, melemahnya kerangka kerja makro-fiskal yang telah lama ada dapat menghambat kredibilitas kebijakan, tulis IMF dalam laporan tersebut. Atas hal tersebut, IMF memberikan rekomendasi agar Indonesia menjaga kehati-hatian fiskal yang telah dipertahankan dalam waktu lama ini.

IMF menjelaskan, defisit fiskal yang lebih sempit dapat mendukung pertumbuhan dan bauran kebijakan menjadi lebih seimbang. Sebab, batas anggaran fiskal sebesar 3% dari PDB membuat kredibilitas fiskal terjaga.

Kerangka fiskal jangka menengah yang disempurnakan, dengan target operasional yang terdefinisi dengan baik, akan membantu memastikan bahwa kebijakan fiskal dapat bertindak secara kontrasiklikal dalam aturan fiskal secara lebih sistematis.

Dengan begitu, memprioritaskan kebutuhan serta reformasi administrasi dan kebijakan perpajakan dapat memperkuat ruang fiskal untuk membiayai kebutuhan pembangunan, namun tetap memenuhi aturan fiskal yang sehat. Maka, memantau risiko fiskal secara ketat dan menghindari penumpukan kewajiban kontingensi juga akan menjadi kunci keberlanjutan fiskal yang sehat dan kredibel.

IMF juga menyoroti risiko volatilitas harga komoditas akibat eskalasi geopolitik, risiko perlambatan mitra dagang utama Indonesia, hingga dampak negatif dari kondisi keuangan global. Hal tersebut merupakan beberapa isu penting yang perlu diperhatikan atas risiko dinamika yang terjadi di global dan domestik.

IMF menggarisbawahi bahwa pemerintah telah mengejar agenda pertumbuhan yang ambisius untuk mencapai status negara berpenghasilan tinggi pada 2045. Hal itu terdiri atas belanja publik, reformasi institusional, dan kebijakan industri. IMF mencatat pertumbuhan ekonomi masih ditopang permintaan domestik. Namun, pertumbuhan tersebut tertahan oleh penurunan harga komoditas.

Kesimpulannya, prospek tetap positif meskipun dalam konteks global yang penuh tantangan. Pertumbuhan ekonomi akan mencapai 5,0% dan 5,1% pada 2024 dan 2025. Proyeksi pertumbuhan sebesar 5,1% ini berlanjut hingga 2029.

Terkait inflasi, IMF meramal berada pada kisaran target pemerintah, berkisar 2,5%. Selanjutnya, ekspor diprediksi tumbuh dengan laju yang lambat dan impor diproyeksikan akan tumbuh sejalan dengan permintaan domestik yang terjaga. Perkembangan tersebut akan mengarahkan defisit transaksi berjalan pada level moderat pada 2024-2025.

Pesta demokrasi global masih akan berlanjut di 2025, meskipun dengan jumlah negara penyelenggara tidak sebanyak tahun ini. Apa pun hasil pemilu tentu akan memberikan dampak atau pengaruh – baik positif maupun negatif – bagi negara tersebut maupun bagi negara-negara mitra dagang utamanya, bahkan bisa saja terhadap perekonomian global.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi Oktober 2024

Rp 65.000

BELI