Perusahaan-Perusahaan pembiayaan (multifinance) milik investor asal Asia Timur, seperti Jepang, Korea, dan Tiongkok, telah lama menjadi bagian penting dalam industri pembiayaan di Indonesia. Dengan pertumbuhan ekonomi yang stabil dan kebutuhan pembiayaan konsumen yang kian meningkat, investor asing, termasuk yang berasal dari Asia Timur, melihat Indonesia sebagai pasar yang sangat potensial untuk memperluas bisnis mereka. Namun, perubahan cepat dalam dinamika pasar, tantangan regulasi, dan perubahan preferensi konsumen membuat multifinance milik investor asing harus terus beradaptasi agar tetap relevan dan kompetitif.
Dalam beberapa tahun terakhir, investasi asing di sektor multifinance Indonesia memang kian meningkat. Kabar terbaru, menurut Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya merangkap Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Agusman, saat ini terdapat empat perusahaan pembiayaan yang sudah merealisasikan akuisisi oleh investor asing, dan dua perusahaan lagi sedang dalam proses akuisisi. Investor asing ini datang dari Korea Selatan, Hong Kong, dan Jepang. “Sektor yang paling menarik perhatian investor asing adalah pembiayaan kendaraan bermotor, khususnya roda dua,” kata Agusman dalam Konferensi Pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan, September 2024.
Hingga Agustus 2024, outstanding pembiayaan kendaraan bermotor roda dua menyumbang 20,63% dari total pembiayaan kendaraan bermotor. Pembiayaan roda empat, baik kendaraan baru maupun bekas, juga mengala mi peningkatan signifikan sebesar 12,58% year on year (yoy) menjadi Rp240,86 triliun. Ini menunjukkan betapa besarnya potensi pasar pembiayaan otomotif di Indonesia, yang menjadi sektor kunci bagi perusahaan pembiayaan yang ingin berkembang.
Dari sisi kinerja, sepanjang 2023 industri multifinance menunjukkan pertumbuhan yang solid. Melansir data OJK, piutang pembiayaan industri ini tumbuh 14,48% yoy atau menjadi Rp467,64 triliun pada 2023. Secara akumulasi, 141 perusahaan pembiayaan yang berbisnis di Indonesia mengantongi laba bersih Rp22,31 triliun atau tumbuh 20,48%. Total aset pun ikut tumbuh 14,32% menjadi Rp544,32 triliun.
Khusus untuk perusahaan pembiayaan yang terafiliasi langsung maupun tak langsung dengan investor dari Asia Timur, yang kinerjanya paling dominan di Indonesia adalah multifinance yang terafiliasi investor asal Jepang, sebanyak 33 multifinance. Menurut catatan Biro Riset Infobank (birI), pada 2023, multifinance terafiliasi investor asal Jepang menguasai market share 40,81% dari sisi aset. Adapun dari sisi piutang pembiayaan, sebanyak 33 multi[1]finance itu menyalurkan pembiayaan sebesar Rp192,58 triliun atau setara dengan 41,18% dari total pembiayaan industri multifinance yang mencapai Rp467,64 triliun.
Di 2023, Biro Riset Infobank mencatat, jumlah perusahaan pembiayaan yang dimiliki investor asal Asia Timur adalah sebanyak 48 perusahaan. Total pembia yaannya sebesar Rp217,28 triliun. Dengan pembiayaan sebesar itu, perusahaanperusahaan pembiayaan milik investor asal Asia Timur itu menguasai market share pembiayaan 46,46% terhadap total pembiayaan industri multifinance nasional yang sebesar Rp467,64 triliun.
Salah satu contoh perusahaan pembiayaan terafiliasi dengan investor asal Jepang yang terus menunjukkan kinerja positif adalah Mandala Finance. Hingga Juni 2024, perusahaan yang menjadi bagian dari Mitsubishi UFJ Financial Group (MUFG) ini berhasil menyalurkan pembiayaan sebesar Rp5,38 triliun, meningkat 18% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Direktur Mandala Finance, Christel Lasmana, menegaskan bahwa perusahaan mengutamakan prinsip kehatihatian dalam setiap langkah bisnisnya, termasuk dalam menjaga kualitas portofolio. “Kami melakukan diversifikasi portofolio serta terus berinovasi dalam produk dan layanan berbasis teknologi untuk dapat menjawab berbagai kebutuhan konsumen yang terus berkembang,” ujar Christel menjawab pertanyaan Infobank, bulan lalu.
Salah satu inovasi yang dijalankan Mandala adalah aplikasi digital Mantis, yang diluncurkan sejak 2021. Aplikasi ini mempermudah konsumen dalam melakukan pengajuan pembiayaan secara online, tanpa perlu mendatangi kantor cabang. Langkah ini merupakan bagian dari strategi Mandala yang menggabungkan model bisnis O2O (offline to online), dalam hal ini konsumen punya pilihan untuk mengakses solusi pembiayaan secara fleksibel. Dengan demikian, Mandala tidak hanya memperluas akses pembiayaan, tapi juga meningkatkan efisiensi operasional. Selain fokus pada pembiayaan konsumen, Mandala menjajaki segmen UMKM, khususnya untuk modal kerja bagi sektor produktif.
Sebagai bagian dari MUFG Group, Mandala Finance memanfaatkan sinergi dengan anak perusahaan MUFG di Indonesia untuk memperkuat posisi di pasar, meningkatkan efisiensi, dan memperluas jangkauan layanan. Hingga September 2024, Mandala Finance mencatatkan non performing financing (NPF) sebesar 2,3%, masih di bawah ratarata industri. Ini menunjukkan bahwa strategi mitigasi risi[1]ko yang diterapkan, seperti seleksi debitur yang ketat, pencadangan optimal, dan pemantauan berkala, berhasil menjaga stabilitas portofolio. KB Bukopin Finance, yang menjadi bagian dari KB Financial Group (KBFG), grup keuangan asal Korea Selatan, juga menunjukkan performa yang menjanjikan. Berdasarkan data Biro Riset Infobank, hingga Desember. 2023 perusahaan mencatatkan piutang pembiayaan Rp141,85 miliar atau tumbuh 85,61% dari Rp76,42 miliar di 2022.
Direktur Utama KB Bukopin Finance, Hendra Gunawan, menyatakan bahwa perusahaan kini lebih fokus pada pengembangan pembiayaan korporat dengan kualitas yang dominan. “Pengembangan bisnis tetap pada posisi kita ingin mengembangkan pembiayaan corporate menjadi majority, dominan dengan kualitas yang bagus tentunya,” kata Hendra. Selain fokus pada sektor pembiayaan korporat, KB Bukopin Finance melihat peluang besar di sektor logistik dan pertambangan. Namun, perusahaan ini tetap harus selektif dalam memilih debitur dan menghadapi tantangan pricing dalam sektorsektor ini.
KB Bukopin Finance juga akan menjadikan sektor pembiayaan syariah sebagai fokus utama ke depan, mengingat potensi pasar yang besar dan menarik. Hendra menyebutkan bahwa dukungan dari investor asing dan ekosistem grup menjadi faktor penting yang membantu perusahaan untuk memperluas lini bisnis syariah dan meningkatkan kinerjanya di masa mendatang.
Di lain sisi, salah satu tantangan utama yang sebelumnya dihadapi oleh KB Bukopin Finance adalah tingginya rasio kredit bermasalah (NPF). Namun, Hendra mengonfirmasi bahwa rasio NPF perusahaan kini berada di level yang sangat rendah, dengan proyeksi NPF gross di bawah 1% pada Desember 2024 dan NPF nett mencapai 0,12%. Penurunan ini merupakan hasil dari upaya KB Bukopin Finance dalam seleksi ketat calon debitur, pengawasan ketat, dan manajemen risiko yang kuat.
Secara keseluruhan, perusahaan pembiayaan milik investor asal Asia Timur di Indonesia terus menunjukkan kinerja yang baik di tengah tantangan ekonomi global dan dinamika pasar yang berubah. Komitmen terhadap inovasi digital, diversifikasi portofolio, dan mitigasi risiko menjadi kunci keberhasilan mereka dalam menjaga pertumbuhan yang berkelanjutan. Meskipun terdapat ketidakpastian ekonomi dan tantangan regulasi, perusa haanperusahaan ini optimistis bahwa pasar multifinance Indonesia masih menjanjikan, terutama dengan meningkat nya kebutuhan akan pembiayaan konsumen dan korporat.
Dalam beberapa tahun terakhir, investasi asing di sektor multifinance Indonesia memang kian meningkat. Kabar terbaru, menurut Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya merangkap Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Agusman, saat ini terdapat empat perusahaan pembiayaan yang sudah merealisasikan akuisisi oleh investor asing, dan dua perusahaan lagi sedang dalam proses akuisisi. Investor asing ini datang dari Korea Selatan, Hong Kong, dan Jepang. “Sektor yang paling menarik perhatian investor asing adalah pembiayaan kendaraan bermotor, khususnya roda dua,” kata Agusman dalam Konferensi Pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan, September 2024.