Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Mudahnya Aktivitas Perbankan di Era AI

AI dapat membantu bank dalam berbagai aspek. AI memberikan kemudahan dan kenyamanan kepada bank dan juga nasabah. Tapi, hatihati, kalau tidak bijak, AI juga bisa laksana pisau bermata dua.

Oleh Mohammad Adrianto Sukarso

Teknologi terus berkembang seiring dengan terus meningkatnya kebutuhan hidup manusia. Siapa menyangka, kecerdasan buatan (artificial intelligence/ AI), yang dulu hanya bisa dibayangkan, sekarang benar-benar telah ada di depan mata. Hampir semua orang mengenal dan memanfaatkannya. AI telah dipergunakan di berbagai sektor kehidupan dan juga sektor bisnis, seperti bisnis perbankan. AI kini telah menjadi bagian penting dalam bisnis atau usaha apa pun. Tak heran kalau hampir semua petinggi perusahaan berpendapat, siapa yang tidak menggunakan AI akan tertinggal oleh kompetitor.

Survei dari Mercer, firma konsultasi sumber daya manusia (SDM), menyebutkan sebanyak 50% responden, yang merupakan eksekutif perusahaan, yakin bahwa perusahaan mereka tidak akan mampu bertahan pada 2030 jika tidak mengimplementasikan AI. Sebanyak 75% dari mereka percaya bahwa AI akan meningkatkan produktivitas pegawai sebesar 20%, dan 69% dari pemimpin yakin bahwa hasil pekerjaan bawahannya akan lebih memuaskan.

Dianggap begitu besar manfaatnya, kini banyak pelaku bisnis yang menerapkan AI dalam menjalankan bisnisnya. Tak terkecuali bisnis perbankan. Menurut data dari McKinsey & Company, perusahaan konsultasi manajemen bisnis, penggunaan AI (dalam hal ini AI generatif ) dalam operasional perusahaan dapat menyumbang pendapatan bagi perbankan sebesar 2,8% sampai dengan 4,7%.

Dari 21 sektor yang terdata, peningkatan persentase pendapatan industri perbankan menempati urutan kedua, di bawah sektor high tech, yang memang sudah seharusnya terintegrasi dengan AI. Ini menunjukkan bahwa dampak AI terhadap bisnis industri perbankan itu besar. Potensinya masif untuk keberlangsungan usaha perbankan.

Yang menarik, implementasi AI ini sangat fleksibel, dapat disesuaikan dengan keperluan perusahaan. Bank - bank yang masih berskala kecil-menengah pun bisa berinvestasi di teknologi ini, misalnya untuk melakukan komputasi sederhana. IBK Bank Indonesia, sebagai contoh, sudah mulai menerapkan AI untuk mendukung kegiatan operasional bisnisnya.

Diungkapkan MC Vera Afianti, Direktur IBK Bank Indonesia, pihaknya sudah menerapkan AI untuk transaksi nasabah, membantu verifikasi di beberapa aspek agar prosesnya berjalan lancar. Di sisi keamanan, bank asal Korea Selatan ini juga mengimplementasikan fraud detection system (FDS), memanfaatkan teknologi turunan seperti data analytics dan machine learning.

Pemanfaatan teknologi ini di industri perbankan sudah terbilang luas. Bukan tidak mungkin di masa mendatang, penggunaan AI akan mencapai dimensi yang berbeda dari sekarang.

“AI diharapkan dapat mendorong transformasi digital yang lebih luas di sektor perbankan, mempercepat proses analisis data untuk pengambilan keputusan yang lebih cepat, meningkatkan keamanan dengan deteksi ancaman yang lebih proaktif, serta menciptakan pengalaman pelanggan yang lebih baik,” cetus Vera kepada Infobank, bulan lalu.

Kendati demikian, layaknya sebuah samudera yang luas dan dalam, masih banyak hal yang perlu dijajaki, diketahui, dan dipahami terkait AI ini. Hal tersebut diungkapkan David Krueger, pakar AI yang merupakan asisten profesor di Cambridge University, kepada The Business Insider, beberapa waktu lalu. Ini menimbulkan kekhawatiran tersendiri terkait penerapan AI di masa mendatang.

Setidaknya ada tiga hal yang menjadi sumber kekhawatiran bagi para pakar AI. Tiga hal yang dimaksud meliputi pengambilalihan kontrol manusia oleh AI, ketergantungan berlebih terhadap teknologi, dan pemutusan hubungan kerja massal (PHK). Poin terakhir menjadi salah satu sorotan utama, karena lapangan kerja yang makin sedikit tidak sebanding dengan jumlah pekerja yang akan selalu meningkat.

Ini akan menjadi ujian sekaligus. Karena itu, butuh kejelian perusahaan pemakai AI untuk menyeimbangkan kepegawaian dengan teknologi. Korporasi yang cerdas akan melihat AI bukan sebagai pengganti manusia, melainkan sebagai alat untuk membantu manusia dalam menggapai sejumlah pencapaian yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

“Sepintar dan secanggih apa pun AI, dia tidak bisa menggantikan manusia. Walaupun secara logika, AI bisa meng-compute dan calculation lebih cepat daripada manusia, tapi kadang-kadang ketika kamu ingin membuat keputusan itu ‘kan tidak hanya hitung-hitungan matematis. Ada science dan ada human touch-nya,” terang Aditya Windarwo, Direktur Bisnis Bank Neo Commerce (BNC), kepada Infobank.

AI memang canggih dan terbukti telah banyak membantu manusia dalam melakukan berbagai aktivitas, termasuk aktivitas bisnis. Namun, secanggih apa pun AI, kalau tak bijak menggunakannya bisa menjadi bumerang. Karena itu, pemangku kepentingan punya pekerjaan rumah untuk memastikan bahwa AI tetap bisa terkontrol oleh manusia.

Sudah banyak negara yang menyadari pentingnya pengawasan dan pemantauan terhadap AI. Riset dari Universitas Stanford mengungkapkan, ada setidaknya 75 negara yang membuat strategi nasional untuk AI. Indonesia termasuk salah satunya, dengan menerbitkan “Strategi Nasional Kecerdasan AI Indonesia 2020-2045”.

“Strategi Nasional Kecerdasan AI Indonesia 2020- 2045” berisikan tentang sejumlah area fokus utama dari penerapan AI di Tanah Air, seperti kebijakan etik, pengembangan talenta digital, infrastruktur data, serta riset dan inovasi. Ada beberapa sektor prioritas dari infrastruktur AI ini, mulai dari kesehatan, pemerintah, riset dan edukasi, ketahanan pangan, hingga kota pintar.

Industri keuangan belum masuk dalam strategi nasional ini. Hal ini tentu butuh perhatian dari regulator perbankan, seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK), mengingat aktivitas pemakaian AI yang masif di industri perbankan saat ini. Regulator perlu segera mengambil langkah agar teknologi ini dapat membantu secara optimal aktivitas keuangan, seperti perbankan, dan tidak membawa kerugian bagi para pemakainya.

Eddy Manindo Harahap, Kepala Departemen Pengaturan dan Pengembangan Perbankan OJK, menyebut pihaknya akan segera meluncurkan panduan tata kelola AI di industri perbankan. Nantinya panduan ini akan mengikuti sejumlah best practices AI, yang meliputi pertumbuhan berkelanjutan, nilai keadilan yang mengutamakan kemanusiaan, ketahanan, keamanan, dan keselamatan, transparansi, serta akuntabilitas.

“Dengan semakin meningkatnya penggunaan AI di sektor jasa keuangan, OJK berencana juga untuk menerbitkan panduan tata kelola AI di sektor perbankan. Mungkin rencananya akan kami terbitkan tahun ini atau paling tidak awal tahun depan,” tutur Eddy di acara Infobank Outlook 2025 bertajuk “Artificial Intelligence for Banking Future: Banks Transition to New Operating Models”, yang diadakan Infobank Institute.

Teknologi AI akan terus berkembang dan akan membawa kemudahan serta kenyamanan bagi penggunanya. Namun, AI ini juga bisa seperti pisau bermata dua. Karena itu, diperlukan kontrol agar AI tetap membawa kemaslahatan

Survei dari Mercer, firma konsultasi sumber daya manusia (SDM), menyebutkan sebanyak 50% responden, yang merupakan eksekutif perusahaan, yakin bahwa perusahaan mereka tidak akan mampu bertahan pada 2030 jika tidak mengimplementasikan AI. Sebanyak 75% dari mereka percaya bahwa AI akan meningkatkan produktivitas pegawai sebesar 20%, dan 69% dari pemimpin yakin bahwa hasil pekerjaan bawahannya akan lebih memuaskan.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi November 2024

Rp 65.000

BELI