Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Awaldi

Pemimpin Hujan – Hujanan

Penulis adalah Pemerhati SDM Bank.

Oleh Awaldi

PRESIDEN Prabowo Subianto pada waktu acara dinner setelah parade senja, Jumat, 25 Oktober 2024, di depan para menteri Kabinet Merah Putih dan taruna Akmil, menyampaikan bahwa pemimpin itu harus berada di tengah-tengah bawahannya. Pemimpin itu harus merasakan yang dirasakan oleh timnya, berbaur, dan bekerja bersama.

Prabowo tidak hanya menyampaikan itu sebagai orasi di tengah dinner dengan makanan dalam kotak yang disediakan bagi para menteri, dengan waktu makan 40 menit yang dimulai dan diakhiri berbarengan dengan komando bunyi lonceng, seperti yang dilakukan para taruna Akmil. Prabowo menunjukkannya pada waktu parade senja, dengan memeriksa barisan para taruna Akmil langsung di tengah hujan yang membasahi Kota Magelang, menolak penggunaan payung yang disediakan panitia.

Sewaktu ditugaskan di Timor Timur (sekarang Timor Leste), Prabowo juga melakukan hal yang sama. Ceritanya, pada waktu berada di tengah medan pertempuran dan pasukannya tertinggal di tengah hutan, Prabowo kembali ke area itu dan memimpin langsung untuk turun dari helikopter, ikut bergabung dalam medan perjuangan.

Pemimpin tidak boleh menjaga jarak dengan anak buahnya. Dia harus merupakan bagian dari timnya. Pemimpin menunjukkan arah yang akan dilalui dan juga berjalan bersama-sama dengan timnya mengarungi berbagai rintangan yang ada untuk sampai ke tujuan yang hendak dicapai. Pemimpin tidak boleh hanya menyuruh-nyuruh, memberikan instruksi ini dan itu; tapi tidak memberikan contoh. Pemimpin tidak boleh hanya melihat dari jauh apa yang dilakukan oleh timnya; lalu kalau ada kesalahan dia angkat tangan, atau bahkan malah mencari-cari kambing hitam supaya dirinya sendiri selamat.

Pemimpin ditunjuk oleh yang punya otoritas dan diakui oleh timnya sebagai pemimpin karena memang dibutuhkan untuk utamanya memberikan rasa aman kepada anggota, kalau seandainya ada serangan dari musuh. Kalau ada hujatan dari tim lain, dia yang dulu maju untuk menjelaskan dan membela anak buahnya. Kalau ada kesalahan tidak sengaja yang dilakukan oleh timnya, dia yang maju menjelaskan kepada jajaran direksi di perusahaan kenapa kelalaian itu terjadi, kemudian mencari solusi. Bukannya malah cuci tangan dan menunjuk-nunjuk anak buahnya yang harus mempertanggungjawabkan.

Pemimpin didaulat dan ditinggikan oleh anak buahnya karena dia memberikan rasa aman, karena dia melindungi, dan juga tentu karena pemimpin itu tangkas dan cerdas. Dia mengerti persoalan yang dihadapi. Dia mengerti ladang perang. Dia mengerti jalan mana yang ditempuh, yang tidak bisa dilihat oleh anggota timnya. Dia berani mengambil risiko melalui jalan-jalan yang terjal. Dia punya kemampuan dan keterampilan untuk melakukan itu.

Anggota tim senang kalau punya pemimpin yang bisa diandalkan, dan bisa bersama-sama dengan tim memperjuangkan apa yang hendak dicapai. Semua itu hanya bisa dilakukan bila pemimpinnya bisa menunjukkan keahliannya dan bisa melakukannya sendiri, di tengah-tengah anak buahnya.

Pemimpin didaulat dan ditinggikan oleh anak buahnya karena dia memberikan rasa aman, karena dia melindungi, dan juga tentu karena pemimpin itu tangkas dan cerdas.

Dengan berada di tengah-tengah anak buahnya, dia ingin memberikan pesan bahwa mereka bersama-sama dapat melalui jalan yang terjal. Mereka bersama-sama menyelesaikan persoalan yang ada. Pemimpin seperti ini juga tahu kebutuhan di lapangan. Bisa melakukan monitoring atau pengawasan supaya tidak terjadi penyimpangan dari tujuan awal. Bisa memberikan bimbingan kepada anak buah yang membutuhkan. Bisa segera memberikan apresiasi jika ada anggota yang memberikan usaha ekstra dalam menjalankan tugasnya.

Berada di tengah-tengah anak buahnya, pemimpin seperti ini juga bisa memberikan motivasi atas peristiwa unik dan bersifat pribadi dari masing-masing anggota. Akan tetapi, berada di tengah-tengah anak buah tidak berarti memata-matai semua gerakan yang dilakukan oleh mereka, lalu menggunakannya sebagai senjata untuk “menyerang” dan menyalahkan. Jangan sampai itu merupakan modus untuk memperlihatkan ketidakpercayaan terhadap anak buah.

Berada di tengah-tengah anak buah jangan sampai jatuh ke praktik yang “menyakitkan” dalam berorganisasi, yaitu “micro-managing”, bahwa segala sesuatu diatur dan tidak memberikan ruang kepada anggota tim untuk melakukan kreasi dan inovasi. Praktik yang dikenal sebagai “racun” yang akan membuat perusahaan mati sebelum ajalnya.

Prabowo tidak hanya menyampaikan itu sebagai orasi di tengah dinner dengan makanan dalam kotak yang disediakan bagi para menteri, dengan waktu makan 40 menit yang dimulai dan diakhiri berbarengan dengan komando bunyi lonceng, seperti yang dilakukan para taruna Akmil. Prabowo menunjukkannya pada waktu parade senja, dengan memeriksa barisan para taruna Akmil langsung di tengah hujan yang membasahi Kota Magelang, menolak penggunaan payung yang disediakan panitia.

Sewaktu ditugaskan di Timor Timur (sekarang Timor Leste), Prabowo juga melakukan hal yang sama. Ceritanya, pada waktu berada di tengah medan pertempuran dan pasukannya tertinggal di tengah hutan, Prabowo kembali ke area itu dan memimpin langsung untuk turun dari helikopter, ikut bergabung dalam medan perjuangan.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi November 2024

Rp 65.000

BELI