Belum ada produk di keranjang belanja kamu

ARTAJASA

Semangat Kolaborasi Artajasa Bersama Pelaku Sistem Pembayaran Melalui Optimalisasi Al dan Pembayaran Antarnegara

Digitalisasi di sektor jasa keuangan bergerak cepat, melahirkan berbagai inovasi layanan digital dan transaksional yang berkembang, bahkan di atas ekspektasi pasar.

Oleh Infobank

Untuk menangkap peluang yang ada, maka diperlukan sinergi dan kolaborasi yang erat antarpelaku jasa pembiayaan dalam memanfaatkan era keemasan ekonomi digital, di mana teknologi menjadi tonggak utama.

Berangkat dari cita-cita itu, PT Artajasa Pembayaran Elektronis (Artajasa) menggelar Members Meeting ATM Bersama 2024, dengan melibatkan puluhan perbankan dengan mengusung tema "AI Assistant & Cross-Border Payments: The Future of Banking" di Mandalika, Lombok, Nusa Tenggara Barat, pada 15-16 Oktober 2024.

Pertemuan ini menghadirkan workshop dalam dua sesi. Sesi pertama bertem Cross-Border Payment Landscape" dengan narasumber Gary Yeoh, Chief Marke Officer PayNet Malaysia dan William Chang, Vice President Consumer Business a Business Development NETS Singapura.

Dilanjutkan sesi kedua mengangkat tema "AI Technology in Banking", yang nenghadirkan narasumber Bayu Hanantasena, President Director & CEO PT Aplikanusa Lintasarta dan Teguh Arifiyadi, Kepala Biro Hukum Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Vice President of Product Management Artajasa Fathan Juniadi mengatakan, dua kunci utama untuk membentuk ekosistem adalah inovasi dan kolaborasi. Di aspek inovasi, ada tiga hal penting yang diperhatikan, yakni teknologi, bisnis model, dan experience.

Sebagai perusahaan enabler pembayaran nontunai terintegrasi, Artajasa terus memperkuat ekosistem sistem pembayaran dengan menyediakan layanan optimal bagi berbagai institusi, pelanggan, dan masyarakat melalui solusi layanan sistem pembayaran yang terintegrasi.

Di aspek switching, hingga saat ini Artajasa telah terkoneksi ke lebih dari 80 ribu ATM yang tergabung dalam jaringan ATM Bersama. Selain itu, Artajasa juga kini turut mengelola terminal ATM dengan brand ATM Plus.

"Untuk memenuhi permintaan pasar dan memperluas daya jangkau, Artajasa siap lebih ekspansif di tahun depan dalam mengembangkan layanan ATM Plus. Dan itu own by brand kita sendiri. Layanan ini di luar dari manage service yang kita provide ke beberapa bank selama ini," terangnya di hadapan para members.

Fathan mengatakan, ATM Bersama sudah menerapkan teknologi standard cardless withdrawal domestic and international serta akan memberikan solusi transaksi dengan experience yang lebih seamless dan immersive.

Tak hanya menyediakan platform switching, Artajasa juga fokus mengembang- kan layanan payment debit dan credit card sekaligus memperluas QRIS cross-border. Artajasa telah memperluas jangkauan bisnisnya ke negara negara lain di luar negeri, yang dimulai dengan terkoneksi dengan jaringan Malaysian Electronic Payment System (MEPS), yang saat ini dikenal sebagai PayNet, dan jaringan perusahaan pembayaran asal Singapura NETS untuk memperluas jaringan ATM Bersama.

Gary Yeoh, Chief Marketing Officer PayNet Malaysia mengatakan, Malaysia terus berupaya memperluas kemudahan pembayaran QR cross-border ke negara-negara lain, seperti Indonesia, Singapura, dan Thailand.

Ia berpandangan bahwa potensi transaksi pembayaran di Malaysia dan Indonesia sangat besar seiring semakin banyaknya masyarakat yang menyukai pembayaran menggunakan QR. Terlebih, wisatawan Indonesia yang datang ke Malaysia sangat banyak, bahkan melampaui wisatawan dari Tiongkok.

"Jadi kami butuh bantuan Artajasa dan kami senang bekerja sama dengan siapa pun yang ingin mempromosikan orang-orang yang datang dari Indonesia ke Malaysia, atau Malaysia ke Indonesia. PayNet siap membantu mendorongnya," papar Gary.

Ia mengatakan, saat ini PayNet memiliki sekitar 2,2 juta titik sentuh QR, masih jauh di bawah Indonesia yang memiliki 50 juta titik sentuh QR. Berangkat dari itu, Gary Yeoh menginginkan adanya kerja sama yang lebih kuat terkait pembayaran lintas batas dengan Indonesia dan negara-negara di Asia yang memungkinkan terjadinya interoperabilitas.

"Saya rasa kita semua memiliki banyak ruang untuk berkembang. Indonesia adalah mitra nomor satu kami, disamping Singapura karena kita adalah tetangga. Tentunya potensi layanan pembayaran lintas negara, khususnya bagi Indonesia pasti sangat besar," terangnya.

Hal yang tak jauh berbeda juga diungkapkan William Chang, Vice President Consumer Business and Business Development NETS Singapura. Menurutnya, pertumbuhan pembayaran QR di Singapura dalam beberapa tahun ini tampak mengesankan. Ia meyakini jumlahnya akan tumbuh dua kali lipat, apalagi jika Artajasa, NETS, dan PayNet melakukan pemasaran secara bersama.

"Indonesia adalah salah satu negara dengan turis terbanyak di Singapura. Tiga juta orang mengunjungi kami. Anda dapat menggunakan QR untuk memindai saat masuk ke taksi. Anda juga dapat menggunakan QR untuk belanja. Namun sejujurnya, kami melihat masih 1% atau kurang dari total wisatawan mengetahui layanan ini," tuturnya.

William berujar, NETS tengah menjangkau sebanyak mungkin pedagang kaki lima di Singapura dan juga pedagang di semua mal. Saat ini, NETS sendiri telah memiliki sekitar 144.000 titik pemindai QR. Berbeda dengan penggunaan kartu kredit yang dibebankan tambahan biaya 10%, masyarakat yang bertransaksi menggunakan QR tidak dikenakan biaya tambahan.

“Kita harus saling berkolaborasi satu sama lain untuk terus  memperluas jaringan, mengajak bank-bank kita bergabung dalam satu ekosistem sistem pembayaran. Lalu banyaknya konektivitas di masa depan, tentu inilah yang menjadi tujuan. Jadi, yang kita harapkan di masa depan, baik Artajasa, NETS, dan PayNet adalah terus bersinergi untuk mengakselerasi sistem pembayaran melalui interkoneksi antar negara," ucapnya.

Optimalisasi Al di Industri Perbankan

Sejalan dengan upaya untuk merekatkan kolaborasi, forum Members Meeting ATM Bersama 2024 berbicara tentang penting- nya bagi perbankan untuk mempertimbangkan penggunaan artificial intelligence (AI) assistant yang tepat sesuai kebutuhan.

Bayu Hanantasena, Presiden Direktur Lintasarta memaparkan, Al menjadi suatu keniscayaan untuk diterapkan di berbagai bidang usaha, terutama di dunia perbankan.

"Ini hanya masalah waktu saja. Sudah nggak ada lagi pertanyaan 'kita pakai Al gak ya?' Kita tinggal tunggu kapan. Pada tingkat tertentu, semua sudah pakai. Kemudian fraud management. Itu tidak bisa berjalan tanpa AI," tegas Bayu.

Di masa depan, Al akan mengakselerasi perkembangan teknologi untuk menemukan hal-hal baru, mempermudah perusahaan dalam meningkatkan efisiensi operasional, mengurangi pekerjaan manual dan mengoptimalkan proses bisnis. Di saat itu, AI betul-betul merasuk ke banking sehingga akan terjadi banyak perubahan.

"Nanti ultimate payment itu akan account to account atau sebetulnya person to person. Ke depan, mungkin nggak perlu account lagi. Tapi your ID is you," sebutnya.

Di waktu yang sama, Teguh Arifiyadi, Kepala Biro Hukum Kementerian Komunikasi dan Informatika menyatakan bahwa setidaknya ada tiga aspek yang menjadi kebutuhan mendasar di industri keuangan yaitu, menyangkut keamanan data harus yang menjadi prioritas. Kemudian, teknologi verifikasi dan otentifikasi. Terakhir, aspek yang berkaitan dengan fraud detection system (FDS).

"FDS dengan Al itu akan jauh lebih powerful dibanding misalnya dengan konsep yang konvensional dalam FDS. Dengan AI akan jauh lebih komplit analisanya, dan deteksi atas risikonya jauh lebih luas," jelas Teguh.

Di level industri, ia menilai bahwa untuk saat ini penggunaan Al masih sebatas supporting tools. Namun, ke depan teknologi ini diprediksi akan menjadi backbone dalam hal pemberian layanan, analisa transaksi, verifikasi, dan pengamanan.

Berangkat dari cita-cita itu, PT Artajasa Pembayaran Elektronis (Artajasa) menggelar Members Meeting ATM Bersama 2024, dengan melibatkan puluhan perbankan dengan mengusung tema "AI Assistant & Cross-Border Payments: The Future of Banking" di Mandalika, Lombok, Nusa Tenggara Barat, pada 15-16 Oktober 2024.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi November 2024

Rp 65.000

BELI