Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Ignasius Jonan

The Future Depends on What You Do Today

Oleh Ignasius Jonan

JUDUL di atas saya ambil dari perkataan Mahatma Gandhi (1869-1948), pemimpin spiritual sekaligus politik dari India. Ada pesan dan kebenaran mendalam dari petuah tersebut yang dapat dipahami setiap orang.

Masa depan adalah sebuah teka-teki dan semua orang ingin mengetahuinya. Makanya, banyak orang suka diramal atau diprediksi masa depannya. Memprediksi masa depan dan menciptakannya adalah sesuatu yang berbeda. Dan, itu pula yang membedakan seorang pemimpin dengan orang pada umumnya. Masa depan adalah ranah seorang pemimpin. Baik pemimpin di dunia bisnis maupun politik. Orang disebut pemimpin karena piawai menciptakan masa depan. Some people predict the future, a leader create. Atau seperti dikatakan Alan Kay, ilmuwan komputer dari Amerika Serikat, “the best way to predict the future is to invent it.”

Dalam kepemimpinan bisnis, ada contoh Steve Jobs (1955-2011), pendiri Apple yang menjadi maestro inovasi teknologi yang terkenal dengan visi dan kepemimpinannya yang inspiratif. Jobs bukan hanya seorang pengusaha, tetapi juga seorang futuristis yang melihat teknologi sebagai alat untuk mengekspresikan kreativitas dan memperkaya kehidupan manusia di masa depan. Berkat produk-produk revolusioner yang dikeluarkan Apple yang kemudian diikuti followers market, cara manusia modern berkomunikasi pun berubah.

Dalam kepemimpinan politik, ada contoh Lee Kuan Yew (1923- 2015) yang berhasil menciptakan masa depan bagi Singapura. Lee mulai memimpin Singapura dengan linangan air mata pada 1965. Sebab, Singapura terlalu kecil, terbelakang dengan GDP per kapitanya kurang dari US$320, serta rawan kerusuhan etnis seperti terjadi pada 1964 dan terulang lagi pada 1969. Namun, masa depan Singapura sebagai negara maju seperti yang kita saksikan sekarang itu tercipta karena Lee punya tekad kuat untuk menciptakan Singapura sebagai negara yang sejahtera, modern, efisien, dan bebas dari korupsi.

Sebagai sebuah bangsa, Indonesia juga memiliki masa depan. Seperti apa wajah masa depan Indonesia, itu tergantung pada para pemimpinnya. Pemimpin seperti Presiden Joko Widodo dan kini dilanjutkan oleh Presiden Prabowo Subianto ingin menjadikan Indonesia sebagai negara berpendapatan tinggi pada 2045. Untuk mencapai tujuan tersebut, Presiden Prabowo ingin mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 8%, menciptakan swasembada pangan dan energi dalam empat-lima tahun ke depan, serta menyelesaikan masalah yang menghambat seperti budaya korupsi.

“The best way to predict the future is to invent it.”

Karena pemimpin adalah orang yang piawai menciptakan masa depan, maka sudah menjadi kewajiban bagi setiap pemimpin untuk berhasil mewujudkan visinya. Para pemimpin negara berusaha mewujudkan janji-janji politiknya. Begitu juga para chief executive officer (CEO) di dunia bisnis yang berusaha keras merealisasikan rencana bisnisnya. Baik pemimpin politik maupun bisnis juga memiliki visi jangka panjang yang untuk mewujudkannya harus melalui berbagai dinamika dan tantangan pasar atau zaman.

Jalan menuju masa depan ada banyak faktor yang sulit dikontrol. Tidak ada asumsi yang pasti. Seperti yang terjadi beberapa tahun terakhir. Tidak satu pun orang di dunia yang mengetahui akan terjadi pandemi COVID-19 yang dilanjutkan dengan krisis biaya hidup di sebagian negara. Sekarang pun tidak ada yang tahu kapan perseteruan Rusia versus Ukraina akan berakhir. Dan, tidak ada satu pun orang yang menyangka konflik Israel versus Palestina akan meluas hingga melibatkan Iran dan Yordania. Dunia juga sedang menghadapi krisis iklim yang telah berinteraksi dengan krisis non-iklim seperti tingginya inflasi dan suku bunga yang meningkatkan cost of money sehingga biaya transisi energi untuk melindungi bumi pun makin besar.

Sebagai penutup, ada kalimat pendek dari pendiri Alibaba, Jack Ma, yang senada dengan apa yang dikatakan oleh Mahatma Gandhi di awal. “Masa depan dimulai hari ini,” katanya. Orang-orang yang berhasil membangun atau menciptakan masa depan itu memulainya dengan kerja keras, pantang menyerah, agility, adaptif, ketekunan, dan kesabaran. Seperti pesan Jack Ma, jangan memikirkan bagaimana sukses pada minggu depan, tapi berpikirlah apa yang akan dilakukan 10 tahun ke depan dan jalankan dengan sabar. Atau seperti kata Lee Kuan Yew yang punya keyakinan yang tinggi serta mencurahkan hati dan jiwanya untuk mewujudkan masa depan yang ingin dicapai, “I’am very determined. If I decide what something is worth doing, the I’ll put my heart and soul to it.”

Masa depan adalah sebuah teka-teki dan semua orang ingin mengetahuinya. Makanya, banyak orang suka diramal atau diprediksi masa depannya. Memprediksi masa depan dan menciptakannya adalah sesuatu yang berbeda. Dan, itu pula yang membedakan seorang pemimpin dengan orang pada umumnya. Masa depan adalah ranah seorang pemimpin. Baik pemimpin di dunia bisnis maupun politik. Orang disebut pemimpin karena piawai menciptakan masa depan. Some people predict the future, a leader create. Atau seperti dikatakan Alan Kay, ilmuwan komputer dari Amerika Serikat, “the best way to predict the future is to invent it.”

Dalam kepemimpinan bisnis, ada contoh Steve Jobs (1955-2011), pendiri Apple yang menjadi maestro inovasi teknologi yang terkenal dengan visi dan kepemimpinannya yang inspiratif. Jobs bukan hanya seorang pengusaha, tetapi juga seorang futuristis yang melihat teknologi sebagai alat untuk mengekspresikan kreativitas dan memperkaya kehidupan manusia di masa depan. Berkat produk-produk revolusioner yang dikeluarkan Apple yang kemudian diikuti followers market, cara manusia modern berkomunikasi pun berubah.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi November 2024

Rp 65.000

BELI