Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Bubur Ayam

Oleh MUDJI SUTRISNO SJ. DOSEN PASCASARJANA UI, BUDAYAWAN.
Sumber : Istimewa

Sumber : Istimewa

Anda mau menikmati sedapnya bubur ayam Jakarta? Anda bisa pilih, lewat bubur ayam keliling pada pagi hari atau di tempat-tempat khusus. Namun, ada satu lorong, bukan di Pecenongan (kelas menengah) atau di rumah makan hotel (kelas atas), melainkan di sudut-sudut Jatinegara, Gondangdia, atau Jalan Sabang. Apa yang khas? Buburnya sendiri lezat dan gurih, dijual murah untuk ukuran Jakarta, dan berada di sepanjang jalan kaki lima. Di sini tukang-tukang ojek, sopir-sopir mikrolet, atau pegawai kelas menengah ke bawah menikmati bersama anak istrinya. Pemandangan ini menarik dan menunjukkan detak detak napas Kota Jakarta. Sudut kehidupan yang belum lama diberi predikat sektor informal ekonomi dan diberi nama kaki lima ini menegaskan bahwa Jakarta sama seperti kota-kota lain, yang sedang transisi dari kampung besar menjadi metropolis, tetap beresensi kehidupan kampung dengan segala nilai budaya, termasuk sisi peradaban makanannya. Ini mengingatkan akan substansi pembentuk Yoƒyakarta, yaitu susunan budaya dan masyarakat kampung yang menjadi rahim sekolahan hidup dan susu-susu pertumbuhan anak-anak luar Jawa yang kuliah dan tinggal di Yoƒya.

Kampung-kampung Yoƒya dengan keramahan penduduknya, sapaan nilai kebersamaan, termasuk bahasa Jawa, yang tanpa memaksa akhirnya dihayati dan dipakai mahasiswa mahasiswa luar Jawa. Kembali ke bubur ayam, yang bila ditarik ke pigura budaya sesungguhnya mampu menjadi napas kerakyatan dan kejelataan yang bisa-bisa menjadi bubur betul dan cair tak berdaya bila ditertibkan dan digusur atas nama Jakarta yang bersih, berwibawa. Salah kaprah wajah kota telah telanjur diidentikkan dengan tertib „isik, rapi bersih „isik, hingga dilupakan roh kemanusiaan kota, yang justru letaknya pada tetap memberikan ruang bagi hiruk pikuk penjaja bubur ayam dan hak hidup bagi pori-pori kecil para jelata menghidupi diri yang begitu kreatif, begitu tahan bantingan di jalur-jalur lambat kaki lima. Dalam skala makro dan optik budaya makro, keputusan membongkar dan membangun kota hanya bersandarkan pertimbangan kerapian dan wajah modern „isik tanpa menimbangnya dalam roh budaya sejarah, napas kehidupan jelata aslinya, dimensi nilai peradaban, dan bukan melulu kalkulasi ekonomis belaka. Di sana bubur-bubur ayam, simbol budaya jelata, dimatikan perannya dalam memberi makanan bagi kelas jelata. 

Di sana pula hak hidup ketegaran sektor kaki lima mau diingkari kemandiriannya di Ibu Kota dengan menghilangkan eksistensinya. Namun, karena bubur-bubur ayam merupakan satu lingkar tempat mencari nafkah dan tempat mendapatkan sesuap sarapan dari manusia-manusianya, begitu digusur oleh sebuah penertiban, mereka hanya pindah tempat sebagai cendawan subur di musim hujan. Begitu ditertibkan, „isik mereka hanya bergeser mencari tempat lain untuk tetap hidup. Hingga masalahnya, adakah jawaban penanganan roh budaya bubur ayam ini dengan dialog manusiawi lokalisasinya, bukan penertiban keras bersenjata kekuasaan serta ancaman-ancaman pungli yang merajalela dan menekan mereka? Kita mau menikmati bubur ayamnya dengan lahap, tapi bila tiba-tiba warungnya dibersihkan, kita hanya mampu menggunakan kata ”kasihan”! Cukupkah itu? Dalam taraf pemikiran, penataan bersumber dari obsesi membuat wadah atau format untuk segala yang ada. Bila semua diwadahi obsesi pikiran menata ini lalu merasa puas dan tenang, lantaran semua sudah ditata, diwadahi, atau dikuasai. Inilah fenomena formalis me yang pada puncak eksesnya lalu mewadahi dan mengotak-ngotakkan apa-apa yang tidak bisa diwadahi, misalnya kreativitas, inspirasi, dan mimpi, serta potensi-potensi kehidupan manusia. Akibatnya, formalisme membuat lemas kehidupan dalam kotak-kotak, entah bernama tertib birokrasi, tertib aturan, dan lain-lain. Counter culture, reaksi budaya terhadapnya adalah ikhtiar memberi ruang lagi untuk hidupnya potensi-potensi kreatif masyarakat agar dinamika tidak tersekat.

Menyadari bahwa bubur-bubur ayam adalah simbol potensi kreatif masyarakat jelata kota, kesadaran setitik cerah ini pun sudah mampu membuat kita kritis terhadap bermacam-macam penertiban atas nama kebersihan. Kebersihan untuk siapa dan kerapian untuk siapa? Fisik saja ataukah memberi ruang hidup bagi roh-roh jelata kota atau Ibu Kota kita dalam simbol warung warung bubur ayam dan warung warung tegak kerakyatan kita?

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi Desember 2024

Rp 65.000

BELI