Leader asal Jepang ini punya jejak karier perbankan di kancah global. Ia telah membuktikan kemampuan leadership luar biasa di berbagai negara. Ia menerapkan gaya kepemimpinan yang mengedepankan eksibilitas dan pemahaman mendalam terhadap keunikan budaya tiap bangsa.
SEBAGAI bankir, Kazushige Nakajima, Executive Ocer & Country Head of Indonesia, Mitsubishi UFJ Financial Group (MUFG) Bank, punya pengalaman kerja mendunia. Selain MUFG Bank di Tokyo, Jepang, yang menjadi kantor pusat bank ini, Kazu, panggilan akrabnya, pernah berkarier di cabang MUFG sejumlah negara. Sebut saja, Inggris (London), Amerika Serikat (New York), Singapura, dan Indonesia ( Jakarta).
Pemahaman Kazu yang luas di industri perbankan global membuatnya paham bahwa setiap negara mempunyai keunikan, gaya, maupun budaya kerja yang berbeda-beda. Makanya, tak salah jika menyebut pria ini sebagai global banker.
“Salah satu keunggulan saya adalah pengalaman bekerja di berbagai negara. Setiap lokasi memiliki budaya, cara berbisnis, dan pendekatan pengambilan keputusan yang berbeda. Dan, semua itu menjadi bekal berharga dalam perjalanan karier saya,” ujar Kazu, saat berbincang dengan tim Infobank di kantor MUFG Jakarta, pada Kamis, 21 November 2024.
Saat Kazu bekerja di MUFG New York, misalnya, meski merupakan bagian dari MUFG Jepang, tapi budaya kerja lokal di New York mengharuskannya untuk mengambil keputusan dan bekerja cepat. Jika salah, mereka juga menjalankan penyesuaian dengan sangat cepat.
Berbeda dengan MUFG Jepang, di mana budaya kerja tanah kelahirannya itu kerap mengambil waktu, melakukan analisis dan pembicaraan matang, sebelum menghasilkan keputusan. Pendekatan-pendekatan dari berbagai negara itu makin memperkaya pengetahuan Kazu dalam hal kepemimpinan.
Dan, pengalaman dari sejumlah negara itu memberinya wawasan untuk menerapkan pendekatan yang relevan di Indonesia. Saat memimpin MUFG Indonesia selama tiga tahun terakhir, Kazu menerapkan gaya kepemimpinan situasional. “Saya selalu mencoba menjadi situasional. Situational leadership atau kepemimpinan situasional artinya berubah secara ?eksibel bergantung pada situasi,” kata pria yang mulai memimpin MUFG Jakarta, Indonesia, pada 2022 ini.
Kepemimpinan situasional diimplementasikan saat dirinya mencoba mengenalkan pendekatan baru di MUFG Indonesia. Misalnya, kata Kazu, ada anggapan bahwa orang Indonesia cenderung malu untuk berbicara. Namun, dalam situasi tertentu, orang Indonesia bisa menjadi sangat terbuka, tergantung pada lingkungan dan motivasi yang diberikan.
Selain itu, Kazu melihat satu budaya kerja di Indonesia, di mana karyawan cenderung mengikuti apa pun arahan pemimpinnya. Dalam menjalankan roda organisasi, menurut Kazu, hal itu bisa berhasil. Namun, jika punya target berkembang atau menciptakan kemajuan yang lebih tinggi, seorang leader harus mendorong karyawannya untuk berbicara dan memberikan ide secara aktif. Itulah yang dilakukan Kazu. Ketika hendak membuat keputusan, Kazu juga selalu mendengar pendapat seluruh timnya.
“Meskipun saya berada di posisi atas dalam budaya organisasional, tetapi saya selalu senang mendengar suara dari semua lapisan. Kami semua harus berkolaborasi satu sama lain, membantu satu sama lain,” tuturnya.
Tak hanya jejak karier panjang di industri perbankan, ada passion di bidang keuangan yang membuat Kazu menjadi bankir yang sangat profesional. Sejak kecil, Kazu menyukai ilmu matematika. Karena itu, ia memilih berkarier di bank sebagai jalan hidup dan pilihan tepat. Apalagi, Kazu menjadi satu di antara bankir MUFG lainnya yang sukses berkarier di luar Jepang. Karena, tak semua bankir MUFG punya kesempatan berkarier secara global.
“Tidak semua, ada banyak bankir di Tokyo yang fokus pada perbankan ritel domestik. Namun, saya merasa beruntung karena MUFG memiliki sistem pengembangan talenta global. Banyak bankir, termasuk para pendahulu saya, memiliki pengalaman internasional di berbagai lokasi. Sistem ini memberikan peluang besar bagi mereka yang ingin memperluas wawasan, termasuk untuk berkontribusi di Indonesia,” ungkap Kazu.
Bila ditarik ke belakang, sebetulnya pria yang memulai kariernya di industri perbankan sejak 1993 ini sudah familier dengan Indonesia. Sebelum memimpin MUFG Indonesia, Kazu pernah mengikuti pelatihan bahasa di Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung, Jawa Barat, hingga practice banking Indonesia. Karena itu, Kazu merasa, meski baru dua tahun memimpin MUFG Indonesia, ia bisa beradaptasi dengan sangat baik.
“Secara total mungkin sudah sekitar 4,5 tahun saya tinggal di Indonesia. Saya tidak pernah merasa homesick karena bagi saya di sini, Indonesia, saya seperti pulang ke rumah,” ujar Kazu. Kazu sangat menyukai musik, terutama jaz. Ketika berkunjung ke Bandung, ia bahkan belajar memainkan kendang karena terpesona dengan seni tradisional Sunda seperti jaipong. Ia juga menyukai musik tradisional Jawa.
“Dari sisi pekerjaan, jaz menginspirasi saya untuk lebih fleksibel. Dalam bisnis, terlalu banyak persiapan terkadang membatasi kreativitas. Sama seperti jaz, improvisasi sering kali diperlukan untuk menangkap peluang dan membawa bisnis ke tingkat yang lebih baik,” pungkas pria yang juga hobi olahraga golf ini.
Pemahaman Kazu yang luas di industri perbankan global membuatnya paham bahwa setiap negara mempunyai keunikan, gaya, maupun budaya kerja yang berbeda-beda. Makanya, tak salah jika menyebut pria ini sebagai global banker.