Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Menanti Gebrakan untuk Swasembada Pangan

Program Swasembada Pangan menantang sekaligus membawa peluang bagi industri pangan, termasuk holding BUMN pangan. Beban masa lalu harus segera dituntaskan agar ekspansi bisnis bisa lebih kencang.

Oleh Ari Astriawan

PEMERINTAH Indonesia berambisi mencapai swasembada pangan melalui kolaborasi semua pihak, termasuk ID Food. Sebagai holding BUMN pangan, ID Food memiliki kapasitas besar dalam ekosistem pangan end-to-end yang harus dimaksimalkan dengan perbaikan dan transformasi. Program ini membutuhkan terobosan, bukan business as usual. ID Food juga harus menyelesai kan restrukturisasi keuangan anak usaha untuk mendu kung program strategis Presiden Prabowo Subianto.

Bagaimana kesiapan ID Food dalam menyukseskan program swasembada pangan? Terobosan apa saja yang akan dilakukan untuk mengoptimalkan dan meningkat kan kapasitasnya? Berikut penuturan Sis Apik Wijayanto, Direktur Utama ID Food, kepada Infobank, November lalu. Petikannya:

ID Food bisa berperan penting dalam program swasembada pangan. Apa persiapan ID Food dalam mendukung program tersebut?

ID Food dibentuk salah satunya untuk mendukung program pemerintah di bidang pangan, termasuk swasembada pangan. Pemerintah menargetkan (swasembada pangan) bisa dicapai dalam empat-lima tahun, tapi kalau bisa secepat nya. Menurut saya, peluang swasembada pangan besar untuk diwujudkan. Potensinya ada, lahan juga cukup.

Kami di ID Food menyiapkan sejumlah strategi untuk mendukung program tersebut. Di antaranya, optimalisasi lahan 3.200 hektare (ha) di Sukamandi dan pengaktifan kembali unit pengolahan benih (UPB) di 42 titik. Lalu, pemanfaatan aset ID Food untuk mend ukung program Makan Bergizi Gratis (MBG), termasuk Menanti Gebrakan untuk Swasembada Pangan BUMN REVIEW Sis Apik Wijayanto; digitalisasi pertanian membantu supply bahan baku dan distribusi makanan.

Kami juga akan meningkatkan produksi gula, di antaranya dengan pengaktifan kembali PG Subang, peningkatan dan optimalisasi smart farming, dan penguatan kerja sama lahan tebu plasma.

Apa syaratnya agar Indonesia bisa swasembada pangan?

Tantangannya ada perubahan iklim, luas dan kualitas lahan pertanian, minimnya regenerasi petani, pertumbuhan penduduk, hingga penyakit baru dan kondisi geopolitik dunia. Swasembada pangan bisa diwujudkan dengan kolaborasi bersama, strategi tepat, dan komitmen kuat dari pemerintah, swasta, dan masyarakat.

Khususnya di sektor komoditas yang dikelola ID Food, kami mengupayakan intensi?kasi dan ekstensifikasi pertanian. Strategi intensifikasi mencakup penguatan produksi benih, pupuk, irigasi, pencegahan hama, dan budi daya. Lalu, penguatan riset untuk meningkatkan kualitas benih unggul, sinergi kelembagaan guna memas tikan pupuk tersedia dengan harga kompetitif, termasuk didukung logistik yang andal. Selanjutnya, memperkuat riset soal penanganan hama tanaman, inovasi teknologi budi daya tanaman, penguatan sarana irigasi dan infra struktur, serta implementasi precision and digital farming.

Sedangkan, strategi ekstensifikasi meliputi perluasan lahan pertanian dengan pola kemitraan petani-swasta dan fokus pengelolaan kerja sama berbasis corporate farming, penguatan riset untuk pening katan produktivitas, dan kualitas produk. Lalu, penguatan kelem bagaan petani dan kolaborasi antar-stakeholder guna memasti kan harga beli petani tetap optimal dan harga jual komodi tas terjaga.

Terakhir, perlunya penguatan lembaga keuangan untuk support semua stakeholders, baik petani, koperasi, BUMN (badan usaha milik negara), maupun swasta.

Program swasembada pangan akan berdampak pada kinerja sektor pangan. Bagaimana ID Food menangkap peluang tersebut?

Program swasembada pangan dan makan bergizi akan berda mpak luar biasa ke sektor pangan. Bukan hanya ID Food, tapi juga seluruh ekosistem masyarakat, termasuk UMKM di bidang pangan akan mening kat ekonominya. Tahun depan, anggaran makan bergizi Rp71 triliun. Pasti ini akan meningka tkan perputaran ekonomi di bidang pangan. Dengan adanya program ini, kami targetkan bisa tumbuh 30% tahun depan.

Aktivitas bisnis ID Food mencakup banyak sektor. Lini bisnis mana yang menjadi kontributor utama? Ada strategi khusus untuk mendorong lini bisnis lainnya?

Saat ini, yang terbesar gula, kontr ib usinya sekitar 45% terhadap portofolio kami. Gula juga masih mempunyai ruang untuk tumbuh. Produksi gula masih bisa ditingkatkan. Kami akan kerja sama dengan PTPN dan Perhutani. Lahan semakin luas, otomatis produksi tebu dan gula akan meningkat. Di komoditas unggas, kami ada anak usaha Berdikari yang mempunyai jaringan RPHU. Itu akan kami optimal kan, menggandeng peter nak-peternak untuk program makan bergizi.

Aset-aset yang ada juga akan kami optimalisasi untuk meningkatkan revenue. Refocusing Sang Hyang Seri (SHS) untuk mengelola benih juga akan menyu m bang peningkatan revenue. Lahannya luas. Infrastruktur nya juga ada. Begitu juga lini lain, termasuk distribusi, garam, dan perikanan.

Terkait dengan anak usaha atau perusahaan di bawah naungan ID Food yang mengalami tekanan atau sedang dalam upaya restrukturisasi, kapan targetnya bisa tuntas?

Akhir tahun ini bisa selesai restrukturisasinya. Untuk SHS, kami selesaikan restrukturisasinya, biar sehat dan bisa running lagi. Begitu juga Perindo (Perikanan Indonesia), tahun ini semoga sudah sehat kembali. Jadi, target saya tahun ini bisa menyehatkan empat atau lima perusahaan di bawah ID Food.

Soal transformasi digital di ID Food, termasuk smart farming, seperti apa penerapannya?

Digitalisasi ini akan terus kami lakukan. Pengembangan transfor masi digital juga diharapkan bisa menarik minat petani-petani milenial. Seperti ajakannya Menteri Pertanian, para sarjana pertanian diharapkan mengem bangkan sektor ini. Anak-anak muda ini ‘kan kreatif dan inovatif. Harapannya, bisa mendorong digitalisasi pertanian.

Kami sudah menerapkan Geospatial Information System (GIS) untuk pemetaan wilayah. Metode ini menggunakan drone RTK, drone aplikasi kebun, web based service analysis, dan unit pelayanan jasa drone kepada mitra atau tebu rakyat. Kami juga sudah menera pkan precision farming berupa drone spraying untuk pemupukan lahan. Di lahan HGU, ID Food mengembangkan optimasi pengairan untuk tanaman dengan teknologi boom sprayer dan manajemen sumber air.

Saat ini, kami sudah menera pkan dashboard integrasi smart farming di tiga anak perusahaan gula ID Food, yakni Rajawali I, Rajawali II, dan Candi Baru. Sistem ini mencakup administr asi, perencanaan, proses budi daya, permintaan biaya, panen, dan pascapanen.

ID Food mendapat beberapa penugasan dari pemerintah. Bagaimana menyeimbangkan antara penugasan dan bisnis?

Kami ada PSO, salah satunya soal cadangan pangan pemerintah (CPP). ID Food mendapat penugasan mengelola 10 komoditas dari 13 komoditas CPP, yaitu gula konsumsi, minyak goreng, ikan, cabai, daging sapi, daging ayam, telur ayam, bawang merah, bawah putih, dan garam. Kami juga bertugas menjaga stabilitas harga di lapangan, termasuk menjadi off taker.

Kedua, penyaluran bantuan pangan pemerintah untuk penanganan stunting. Tahun ini, kami menyerah kan ke 1,4 juta penerima di tujuh provinsi. Setiap penerima mendapatkan enam kali. Jadi, totalnya 8 juta lebih paket yang disalurkan. Alhamdulillah, sudah selesai, tinggal tunggu settlement. Untuk pembiayaan modal kerja program ini, kami kerja sama dengan bank. Hitung-hitungan dari pemerintah profitnya ada. Untuk program CPP kami juga ada subsidi bunga. Jadi, profit masih terjaga.

Seperti apa kinerja ID Food sampai dengan kuartal ketiga 2024? Dan, bagaimana proyeksinya hingga akhir tahun ini?

Kami sangat bergantung dengan gula, dan itu kebanyakan di semester kedua. Jadi, kita lihat nanti sampai akhir tahun. Harapannya, revenue bisa tembus Rp20 triliun. Untuk bottom line, naiknya memang tidak besar dari tahun lalu karena kami perlu restrukturisasi. Setelah restrukturisasi selesai, tahun depan larinya lebih kencang.

Ketika Anda ditunjuk sebagai Dirut ID Food, adakah arahan khusus dari pemegang saham terkait dengan upaya restruk tu risasi dan penyehatan keuangan? 

Tentu ada harapan ya, melihat background saya dan beberapa direksi lain juga bankir. Perma salahan keuangan ini perlu diperbaiki. Itu menjadi tugas kami. Tidak hanya restrukturisasi keuangan, tapi juga meningkatkan kinerja bisnis. Kalau restrukturisasi berhasil, tapi bisnis tidak berkembang, tidak bisa sustain. Perbaikan ini mencakup banyak hal, termasuk sisi governance-nya. Sambil melakukan transformasi, semua kami perbaiki. Harapannya, ID Food Group ke depan tumbuh menjadi perusahaan yang sehat.

Bagaimana kesiapan ID Food dalam menyukseskan program swasembada pangan? Terobosan apa saja yang akan dilakukan untuk mengoptimalkan dan meningkat kan kapasitasnya? Berikut penuturan Sis Apik Wijayanto, Direktur Utama ID Food, kepada Infobank, November lalu. Petikannya:

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi Desember 2024

Rp 65.000

BELI