Neobank mengacu pada istilah layanan perbankan tanpa kantor cabang. Di Indonesia, sejumlah tantangan masih harus dihadapi dalam menerapkan neobank. Infrastruktur digital hingga tingkat literasi masyarakat masih menjadi PR.
TRANSFORMASI digital adalah realitas mendasar bagi bisnis saat ini. Begitu kata Warren Buffett, salah satu investor paling sukses di dunia. Perubahan zaman memang membawa dunia ke era serbadigital. Dan, fenomena digitalisasi ini terjadi di hampir semua sektor, tak terkecuali perbankan.
Adopsi teknologi digital terbaru di industri perbankan sangat tinggi. Pelaku industri perbankan saling bersaing dalam memperkuat kapasitas digital. Tak hanya untuk memberikan layanan dan pengalaman terbaik bagi nasabah, tapi juga efisiensi biaya dan mempercepat proses bisnis.
Dengan digitalisasi, bank tidak perlu mengeluarkan investasi dan biaya operasional besar untuk membuka kantor cabang. Semua kebutuhan nasabah dalam berbank bisa dilayani melalui platform digital. Mulai dari membuka rekening, transaksi, hingga tarik tunai tak lagi membutuhkan kantor cabang fisik.
Di Indonesia, sejumlah bank sudah mempraktikkan layanan yang kerap disebut sebagai neobank atau neobanking ini. Namun, tak banyak bank yang benarbenar murni digital, tanpa kantor cabang. Beberapa bank digital pun masih membutuhkan kantor cabang untuk memperluas jangkauan nasabah. Hal ini tidak terlepas dari belum meratanya infrastruktur digital di Tanah Air.
Beda halnya dengan beberapa negara lain, yang infrastruktur digitalnya sudah lebih maju. Bank-bank di sana memungkinkan untuk memberikan layanan yang sepenuhnya digital. Mereka bisa beroperasi tanpa kantor cabang sama sekali.
“Keberadaan neobanking bisa menimbulkan kolaborasi yang mungkin terjadi antara fintech dengan perbankan. Sebab, keduanya sama-sama bergerak di bidang finansial. Dan, khusus untuk fintech, mereka juga bergerak ke arah perkembangan teknologi,” Ida Bagus Ketut Subagia, Direktur Utama Bank Raya.
“Kalau kita berbicara soal neobanking, nantinya interaksi orang di dalam bank akan semakin kecil. Beberapa pekerjaan seperti teller atau customer service akan tergantikan. Kantor cabang juga akan semakin sedikit, nantinya akan berpotensi digantikan oleh ATM,” Aditya Windarwo, Direktur Bisnis Bank Neo Commerce (BNC).
Mengutip Advapay, perusahaan financial technology (fintech) asal Estonia, bank yang pertama kali memopulerkan servis neobank adalah Simple asal Amerika Serikat (AS) pada 2009, disusul Moven pada 2011. Di Eropa, neobank berkembang sejak 2014, dan muncul pertama kali di Inggris melalui Atom Bank, hingga akhirnya perlahan menyebar ke berbagai belahan dunia.
Ada banyak sekali negara yang sudah menerapkan neobank. Merujuk pada data milik Seon, perusahaan keamanan siber multinasional, India tercatat sebagai negara dengan jumlah nasabah neobank paling banyak. Per 2023, jumlahnya mencapai 371,80 juta akun. Namun, jika melihat rasio terhadap total populasi negara secara keseluruhan, Brasil merupakan yang tertinggi. Sekitar 43% penduduk Brasil atau sebanyak 93,05 juta jiwa tercatat memiliki akun neobank.
Pada 2027 mendatang, Seon memprediksi, Filipina akan mencatatkan peningkatan jumlah pemakai layanan neobank sebesar 161% dari 2023, yakni menjadi 39,79 juta pengguna. Disusul Meksiko yang pertumbuhan nasabahnya diprediksi mencapai 148% pada 2027, lalu Portugal yang diperkirakan tumbuh 133%.
Bagaimana dengan Indonesia? Jumlah nasabah neobank di negeri ini juga berpotensi tumbuh pesat.
Dengan jumlah penduduk yang besar, ditambah masifnya digitalisasi, tidak menutup kemungkinan neobank akan tumbuh cepat di Indonesia. Tapi, tantangannya, penerapan neobank di negeri ini tidak akan mudah dan bisa memakan waktu yang tak sebentar.
Ada beberapa tantangan yang mesti dihadapi. Salah satunya, infrastruktur digital di Indonesia belum sempurna. Selain itu, neobank berpotensi menggantikan peran manusia di kantor cabang. Konsep neobank memang akan meminimalisasi kontak fisik antarmanusia, bahkan tak menutup kemungkinan memakai teknologi buatan seperti chatbot.
“Kalau kita berbicara soal neobanking, nantinya interaksi orang di dalam bank akan semakin kecil. Beberapa pekerjaan seperti teller atau customer service akan tergantikan. Kantor cabang juga akan semakin sedikit, nantinya akan berpotensi digantikan oleh ATM,” terang Aditya Windarwo, Direktur Bisnis Bank Neo Commerce (BNC), kepada Infobank, beberapa waktu silam.
Eksistensi kantor cabang bank di Indonesia memang terus berkurang. Data statistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan, hingga Desember 2023, rata-rata 3,44% kantor cabang bank hilang setiap tahunnya. Jika pada 2016 lalu jumlah kantor cabang bank di Indonesia mencapai 32.720 kantor, per Agustus 2024 jumlahnya hanya tersisa 23.972 kantor.
Namun, mengingat masyarakat Indonesia masih belum sepenuhnya memiliki kebiasaan digital, tak heran jika banyak bank yang masih mempertahankan eksistensi kantor cabang. Kebanyakan bank di Indonesia menerapkan hybrid model. Layanan konvensional seperti kantor cabang tetap ada, sembari memperkuat kapasitas digital. Tak dapat dimungkiri, keberadaan kantor cabang memang masih cukup penting bagi masyarakat Indonesia, menjadi proxy business untuk melayani sejumlah segmen nasabah.
“Kantor cabang ini berperan sebagai extended arm dari bisnis BNC, baik itu untuk segmen komersial maupun segmen ritel. Karena, masih ada orang-orang yang belum fully confident untuk sepenuhnya menjadi branchless,” tambah Adit.
Tantangan lain yang dihadapi perbankan dalam menerapkan neobank adalah literasi keuangan di Indonesia. Hasil survei literasi dan inklusi keuangan yang dikeluarkan OJK dan BPS menunjukkan, persentasenya masing-masing 65,43% dan 75,02%. Angka tersebut tidak buruk, tapi menunjukkan perlunya pembenahan dan pemerataan.
Menurut Ida Bagus Ketut Subagia, Direktur Utama Bank Raya, situasi tersebut membuat penerapan neobank di negara ini belum sepenuhnya ideal. Namun, ia juga mengakui bahwa Indonesia perlahan sedang berjalan ke arah sana. Berbagai stakeholders mulai menggenjot literasi dan inklusi keuangan digital agar masyarakat luas tidak merasa gagap dalam mengelola keuangan secara virtual. Dan, semuanya bisa berawal dari eksistensi kantor cabang.
“Bank Raya menghadirkan community branch (kantor cabang) di 23 kota di Indonesia yang berperan untuk membantu meningkatkan akses literasi dan inklusi perbankan masyarakat dan akan mengakomodasi kebutuhan finansial nasabah retail, pelaku usaha, dan juga komersial,” ujar Ida kepada Infobank.
Dari keberadaan kantor cabang ini, terjadilah proses offline to online (O2O). Ini berpotensi mengubah kebiasaan nasabah dari yang awalnya lebih nyaman bertransaksi secara konvensional, pada akhirnya lebih percaya diri untuk mengakses keuangan secara digital. Dengan demikian, prospek pelaksanaan neobank perlahan akan terbuka luas bagi bank-bank di Indonesia.
Terlebih, banyak orang yang sudah merasakan kemudahan yang ditawarkan bank-bank digital melalui pelayanan virtualnya. Ini menjadi pesona khusus bagi neobank, khususnya untuk nasabah-nasabah yang memang memerlukan servis ini. Sementara, dari sisi bisnis, ini juga membuka peluang bagi bank untuk berkolaborasi dengan stakeholders lain. Misalnya, pelaku fintech.
“Keberadaan neobanking bisa menimbulkan kolaborasi yang mungkin terjadi antara fintech dengan perbankan. Sebab, keduanya sama-sama bergerak di bidang finansial. Dan, khusus untuk fintech, mereka juga bergerak ke arah perkembangan teknologi,” kata Ida.
Inovasi di ranah digital menjadi sesuatu yang diperlukan industri mana pun, termasuk perbankan, untuk bisa bertahan hidup. Mereka yang gagal mengantisipasi perubahan harus bersiap-siap tergerus zaman dan “dimangsa” rival yang sudah lebih siap menghadapi tantangan ini.
Adopsi teknologi digital terbaru di industri perbankan sangat tinggi. Pelaku industri perbankan saling bersaing dalam memperkuat kapasitas digital. Tak hanya untuk memberikan layanan dan pengalaman terbaik bagi nasabah, tapi juga efisiensi biaya dan mempercepat proses bisnis.