Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Peluang BPR dari Makan Bergizi & 3 Juta Rumah

Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto memiliki sejumlah program unggulan yang siap dijalankan, di antaranya makan bergizi gratis dan menyediakan 3 juta rumah. BPR siap mengapitalisasi program-program tersebut?

Oleh Mohammad Adrianto Sukarso

PROSPEK baru, menarik, dan potensial di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto tersedia di hadapan pelaku industri, tak terkecuali industri bank perekonomian rakyat (BPR). Bayangkan, di awal-awal menjabat sebagai RI-1, Prabowo sudah siap melaksanakan sejumlah program yang ia janjikan saat masa kampanye.

Makan bergizi gratis, pembangunan 3 juta rumah, renovasi dan integrasi sekolah, hingga pembuatan rumah sakit di daerah terpelosok, adalah beberapa dari sekian banyak program yang Prabowo janjikan untuk masya rakat Indonesia. Mewujudkan program-programnya itu tentu butuh waktu, tenaga, strategi yang tepat, kerja sama dari banyak stakeholders, dan biaya yang tidak sedikit.

Dalam acara Infobank Banking Mastery Forum 2024, Agustus lalu, Bambang Brodjonegoro, sosok yang kini menjabat sebagai Penasihat Khusus Presiden Bidang Ekonomi, menantang pelaku industri BPR untuk bisa memanfaatkan peluang dari program dan kebijakan di era Prabowo. Kesempatannya besar dan terbuka bagi para pemain untuk ikut berkecimpung mendukung programprogram ini, khususnya dalam penyaluran kredit.

Benar, kebijakan-kebijakan ini skalanya besar dan cenderung mengarah ke ekonomi makro. Namun, patut diingat bahwa kebijakan makro pasti akan memengaruhi kegiatan mikro. Tidak menutup kemungkinan perputaran ekonomi makro ini nantinya juga akan menciprati pelaku industri yang bergerak di skala mikro. Pasarnya luas sehingga tidak mudah bagi pelaku industri berskala besar, seperti bank-bank besar, mengambil seluruh pangsa yang ada. Jadi, masih banyak segmen yang bisa digarap pelaku industri kecil seperti BPR.

Untuk makan bergizi gratis, misalnya, BPR-BPR bisa memberikan kredit kepada petani, pekebun, atau nelayan yang menyediakan bahan makanan. Peluang untuk menyalurkan pinjaman ke vendor katering yang memproduksi makan bergizi juga terbuka cukup luas.

Pun halnya dengan program 3 juta rumah. Terbuka peluang bagi bank-bank rural untuk menyalurkan kredit, baik kepada pengembang maupun konsumen. Ini merupakan tantangan sekaligus ujian bagi BPR untuk berpikir kreatif dan memanfaatkan peluang-peluang yang ada. Tentunya, para pelaku industri juga harus siap bersaing dengan bank umum atau industri lain.

“Barangkali, ini juga bisa jadi salah satu business opportunity bagi bank umum maupun BPR. Bagaimana caranya supaya kita bisa memasuki segmen, baik dari sisi supply yang memberikan kredit kepada developernya atau dari sisi demand untuk memberikan kredit kepada orang yang akan membeli atau menyewa rumah tersebut,” ujar Bambang.

Dibilang tantangan karena industri BPR selama ini lekat dengan penyaluran kredit produktif ke sektor perdagangan grosir (wholesale) maupun eceran (retail). Hal itu terlihat dari statistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dengan pangsa pinjaman mencapai 19,75%. Tertinggi di antara sektor produktif lainnya, dan sekitar tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan pangsa kredit produktif terbesar di bawahnya.

Bahkan, walaupun sektor-sektor kredit yang berkaitan dengan program-program pemerintahan baru digabungkan, pangsanya masih belum bisa menyamai sektor usaha perdagangan. Menurut Ricardo Simatupang, Direktur Utama BPR Daya Perdana Nusantara, hal itu karena terkait dengan sejarah pendirian bank rural yang memang dekat dengan pedagang sehingga para pemain banyak memberi pinjaman ke sektor ini.


Namun, dengan pasar yang kian terbuka luas, BPRBPR siap untuk masuk ke sektor-sektor lain dan melakukan diversikasi dalam hal penyaluran kredit. Apalagi, banyak pebisnis yang antusias mendukung agenda pemerintah. Ini makin memperbesar peluang bagi bank rural untuk ikut “bermain” di ranah makro ini.

“Banyak pengusaha yang terkait dengan kedua program unggulan itu akan dapat berkontribusi. Sebut saja petani sayur-sayuran dan buah-buahan, peternak ayam dan penggemukan sapi, para petani, developer, kontraktor, pedagang material bahan bangunan, dan sebagainya. Industri BPR tentu saja dapat mengambil peranan dalam pelaksanaannya,” kata Ricardo kepada Infobank, bulan lalu.

Entah itu melalui partisipasi langsung dengan menawarkan diri ke pasar atau mendapat mandat dari pemerintah, sudah tersaji kolam luas bagi bank rural yang hendak berenang di dalamnya. Namun, jangan lupa, berenang juga perlu persiapan diri. Terlalu tergesa-gesa untuk mencemplungkan diri ke dalam kolam justru bisa-bisa malah tenggelam.

Jika pelaku BPR hendak menyalurkan kredit ke sektor-sektor yang berkaitan dengan program pemerintah, sebaiknya membaca dan memahami situasi terlebih dahulu sektor atau pasar tersebut. Setiap BPR tentunya punya market serta keunggulan sendiri-sendiri. Karena itu, tak usah memaksakan diri masuk ke ranah yang kurang dipahami.

Hal itu dikemukakan Agus, Direktur Utama BPR Akasia Mas. Menurut Agus, jika para BPR ini gegabah dalam menyalurkan pinjaman tanpa memahami risikonya, dikhawatirkan malah hanya akan menambah kredit macet dan tidak mendapat prot dari pasar baru yang dimasuki nya itu. Itu yang harus dihindari.

Sebagai informasi, rasio kredit macet industri BPR terus meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Per Agustus 2024, angkanya sudah mencapai 11,67%, naik dari bulan sebelumnya.

Diharapkan, BPR-BPR tidak melupakan muruahnya sebagai bank untuk rakyat. Kekuatan yang dimiliki bank rural, seperti melakukan jemput bola, mengutamakan kenyamanan nasabah dan memahami apa yang mereka perlukan, jangan sampai hilang. Justru, ini yang harus makin ditekankan, guna meningkatkan keberhasilan dalam menetrasi pasar baru.

“Kami itu ‘kan unggulnya di pendekatan terhadap konsumen dan ?eksibilitas. Itulah kekuatan utama BPR. Kalau ada BPR yang jaga jarak dari konsumennya atau debiturnya, ya dia juga lama-lama akan ditinggalkan oleh mereka,” ujar Agus kepada Infobank.

Pemerintahan baru menawarkan peluang besar kepada BPR untuk berkembang, terutama melalui dukungan terhadap program-program pemerintah. Namun, diversikasi kredit ke sektor baru membutuhkan strategi yang matang dan pemahaman pasar yang baik. Dengan tetap berpe gang pada nilai-nilai inti sebagai bank rakyat, BPR dapat memanfaatkan peluang ini sekaligus memperkuat posisinya di pasar.

Kesuksesan BPR dalam menyambut era baru ini akan sangat bergantung pada kemampuannya untuk berinovasi, menjaga hubungan baik dengan nasabah, dan mengelola risiko dengan bijaksana.

Makan bergizi gratis, pembangunan 3 juta rumah, renovasi dan integrasi sekolah, hingga pembuatan rumah sakit di daerah terpelosok, adalah beberapa dari sekian banyak program yang Prabowo janjikan untuk masya rakat Indonesia. Mewujudkan program-programnya itu tentu butuh waktu, tenaga, strategi yang tepat, kerja sama dari banyak stakeholders, dan biaya yang tidak sedikit.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi Desember 2024

Rp 65.000

BELI