Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Spin Off Menjadi BUS Tidak Menakutkan

Bank syariah termuda di Indonesia ini tengah membangun fondasi yang kuat pasca-spin di awal 2024. Stabilitas kinerja keuangan benar-benar dijaga, sebelum melakukan ekspansi. Bank ini ingin menjadi contoh sukses dari perjalanan spin o sebuah bank syariah.

Oleh Ayu Utami Saraswati

BANK Nano Syariah (Nanobank Syariah) adalah bank hasil spin off atau pemisahan Unit Usaha Syariah (UUS) Bank Sinarmas. Aksi korporasi ini efektif sejak awal Januari 2024 dan menjadi bagian dari upaya memenuhi ketentuan regulator, sekaligus meningkatkan pangsa pasar perbankan syariah di Tanah Air.

Di usia yang belum genap satu tahun beroperasi sebagai bank umum syariah (BUS), Nanobank Syariah menunjukkan penguatan kinerja. Tak hanya bertumbuh dari sisi aset, tapi juga sisi rentabilitas yang makin solid. Per September 2024, Nanobank Syariah membukukan laba sebelum pajak Rp165 miliar. Kualitas asetnya pun terjaga. Tecermin dari non performing financing (NPF) net yang di level sangat rendah, 0,02%.

Di luar kinerja keuangan, sejalan dengan rencana awal ketika spin o, Nanobank Syariah perlahan menggeser segmen bisnis, dari korporasi ke retail. Saat ini porsi retail memang masih dominan, sekitar 80%, tapi sudah mengalami pergeseran dari sekitar 95% ketika masih beroperasi sebagai UUS. Salah satu tantangan sekaligus fokus Nanobank Syariah ke depan adalah menumbuhkan segmen retail.

Nanobank Syariah ingin menjadi preseden baik bagi bank yang melakukan spin off. Di tahap awal, bank ini ingin meletakkan fondasi yang kuat, sebelum agresif melakukan ekspansi. Dari sisi size, Nanobank Syariah masih terbilang kecil untuk saat ini dengan aset Rp8,9 triliun per September 2024. Tapi, bank ini optimistis mampu bersaing di industri perbankan syariah. Bank ini akan berupaya memperkuat kehadirannya di market dengan sejumlah strategi.

Apa visi Nanobank Syariah ke depan? Bagaimana strateginya menghadapi persaingan? Berikut penuturan Halim, Direktur Utama Nanobank Syariah, didampingi Uzan Tedjamulia, Direktur Bisnis Nanobank Syariah, secara eksklusif kepada Infobank di Jakarta, November lalu. Petikannya:

Anda memimpin Nanobank Syariah sebagai BUS yang didirikan melalui spin off dan beroperasi sejak Januari 2024. Apa visi dan misi Nanobank Syariah?

 Kami adalah bank syariah yang pada 1 Januari 2024 sudah resmi beroperasi sebagai BUS, di mana sebelumnya sejak 2009 kami adalah UUS Bank Sinarmas. Langkah spin off ini merupakan salah satu bentuk realisasi pemegang saham pengendali (PSP), yaitu Bank Sinarmas, memenuhi kebijakan regulator untuk meningkatkan pangsa pasar perbankan syariah.

Visi kami adalah menjadi bank syariah yang modern, inovatif, dan transparan sesuai dengan nilai hidup pilihan nasabah. Sedangkan, misi kami, yang pertama adalah menyediakan solusi keuangan berbasis hybrid model yang mencakup tradisional maupun digital platform yang andal dan lengkap, serta didukung talenta profesional untuk membantu nasabah memiliki kondisi keuangan yang lebih baik. Yang kedua, mengembangkan ekosistem keuangan melalui kemitraan berbasis hybrid model.

Seperti apa gambaran solusi keuangan berbasis hydrid model yang ditawarkan Nanobank Syariah?

Di sisi sistem bank secara tradisional, Nanobank Syariah memiliki 31 kantor cabang, 10 kantor cabang pembantu, 27 unit pelayanan kas, dan 229 layanan syariah bank. Jadi, kami selalu siap melayani nasabah di cabang-cabang kami. Termasuk di kantor cabang Nanobank Syariah Cik Ditiro, Jakarta, ini, di mana kami melakukan pilot project konsep cabang community hub, serta hanya menggunakan sejumlah perangkat digital dan mesin ATM untuk melayani nasabah, tanpa customer service atau teller. Tapi, kalau nasabah membutuhkan, karyawan kami selalu siap melayani. Kalau konsep ini berhasil, kami akan mereplikasi cabang seperti ini di kota-kota besar lainnya.

Sedangkan, secara digital, kami memiliki aplikasi mobile banking bernama Aira Mobile. Aplikasi ini mencakup berbagai layanan keuangan yang bisa diakses nasabah individu melalui ponsel pintar. Ke depan, kami akan terus mengembangkan fitur-fitur digital di aplikasi ini.

Kedua model ini yang saya denisikan sebagai hybrid model. Dan, model ini menjadi cara Nanobank Syariah untuk mentransformasi sistem perbankan tradisional menjadi lebih digital. Apalagi di masa depan nanti, generasi milenial dan gen Z yang akan eksis di industri perbankan. Generasi ini, yang sangat paham teknologi, menjadi suatu game changer di industri perbankan Tanah Air ke depannya.

Apa keunggulan atau diferensiasi Nanobank Syariah dibandingkan dengan bank syariah lainnya?

Kami sebagai bank syariah tidak hanya fokus terhadap bisnis bank, namun juga secara spiritual. Sebagai contoh, sebagian dari biaya admin yang dibayarkan oleh nasabah ketika melakukan transaksi, kami salurkan untuk donasi. Jadi, donasi itu mengambil dari fee based income kami.

Nantinya donasi dikumpulkan dalam waktu setahun, lalu akan disalurkan. Jumlah donasi maupun berapa nilai yang telah didonasikan bisa dilihat melalui aplikasi Aira Mobile milik nasabah masing-masing. Sehingga, bisnisnya jalan, spiritualnya jalan.

Kemudian, per September 2024, kami sudah menyalurkan zakat, infak, & sedekah sebesar Rp350 juta ke Baznas.

Haji menjadi bagian penting dari perbankan syariah Tanah Air. Bagaimana peran Nanobank Syariah di ekosistem haji?

Saat ini, saya meyakini salah satu backbone bisnis perbankan syariah adalah haji. Kami telah menjadi BPS BPIH sejak 2018. Selain itu, semua unit pelayanan kas Nanobank Syariah ada di kantor Kementerian Agama (Kemenag). Hal ini sebagai bentuk dukungan terhadap program haji yang digagas oleh dua stakeholder besar, Kemenag dan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH).

Pada September 2024, Nanobank Syariah berada di posisi ketiga dari 30 bank syariah dengan jumlah registrasi jemaah haji terbanyak sebanyak 18.227 orang. Dari angka ini, kami memegang market share sebesar 6,8%. Selain itu, kami baru saja di-invite oleh Kemenag dan BPKH untuk berpartisipasi dalam aplikasi untuk memudahkan orang mendaftar haji, khususnya generasi milenial.

Seperti apa target kinerja keuangan Nanobank Syariah di 2025?

Kinerja keuangan bank adalah backbone utama yang harus kami jaga. Untuk tahun ini hingga tahun depan, kami membuat fondasi yang kuat terlebih dulu dan stabilitas kinerja keuangan pasca-spin off. Tahun 2026 baru ekspansif.

Bagaimana strategi untuk memacu pertumbuhan pembiayaan, dan bagaimana pula komposisi pembiayaan bank saat ini?

Pembiayaan adalah pekerjaan rumah saya dan board of directors (BOD) lain. Yang pertama, kami sebagai BUS baru yang merupakan hasil spin off itu mencoba menjadi preseden baik bahwa spin o? menjadi BUS itu tidak menakutkan. Kami bisa tetap bersaing dengan bank-bank syariah lain. Ditambah lagi, kami dipermudah oleh OJK dengan sinergi perbankan, sehingga kami masih bisa memanfaatkan hal-hal yang boleh dimanfaatkan dari induk kami. Jadi, kami masih banyak bersinergi dengan Bank Sinarmas, sehingga kami secara biaya itu masih efisien. Secara profitabilitas juga, kami masih bisa bersaing di industri.

Kalau secara pertumbuhan pembiayaan, kami masih ada tantangan bahwa kami harus menyesuaikan BMPD atau batas maksimum penyaluran dana bahwa - kalau dulu kami mengikuti BMPD dengan Bank Sinarmas. Bank Sinarmas modalnya sudah sekitar Rp7 triliun, sehingga satu nasabah itu 25%-nya bisa dihitung sendiri berapa triliun. Ketika kami sudah menjadi BUS, modalnya adalah Rp1 triliun, di mana 25%-nya kami harus menurunkan satu nasabah itu menjadi sekitar Rp250 miliar. Jadi, kami butuh waktu yang relatif lama dan effort-nya juga cukup besar.

Sekarang komposisi pembiayaan kami kisaran 80% masih korporasi, 20% retail. Dari sebelumnya 95% korporasi, 5% retail. Segmen retail ini sedang terus berjalan, on going. Perpindahan antara korporasi dengan retail itu juga kami butuh effort, di mana kami harus di tengah-tengah. Kami ingin growth. Tapi, di lain sisi, kami juga harus hati-hati, sehingga bisa kami maintain NPF di batas yang sehat.

Dalam lima tahun ke depan, harus seperti apa Nanobank Syariah menurut Anda?

Tetap dengan tagline kami “Jadi Lebih Baik”, lebih baik dalam segi finansial dan spiritual. Karena, ruang untuk bertumbuh di industri ini masih besar. Ditambah, saya lihat (ke depannya), sistem perbankan di Indonesia kian lama kian terjaga. Ditambah, saya lihat (ke depannya), sistem perbankan di Indonesia kian lama kian terjaga. Kemudian, kami secara organik harus tumbuh bagus. Legacy itu yang mesti ditanamkan sebagai anchor bank ini. Dan, Nanobank Syariah harus bisa menjadi sebuah bank yang sehat dan value yang baik. 

Di usia yang belum genap satu tahun beroperasi sebagai bank umum syariah (BUS), Nanobank Syariah menunjukkan penguatan kinerja. Tak hanya bertumbuh dari sisi aset, tapi juga sisi rentabilitas yang makin solid. Per September 2024, Nanobank Syariah membukukan laba sebelum pajak Rp165 miliar. Kualitas asetnya pun terjaga. Tecermin dari non performing financing (NPF) net yang di level sangat rendah, 0,02%.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi Desember 2024

Rp 65.000

BELI