Di usianya yang ke-75 tahun pada 9 Februari 2025, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) telah membuka babak baru untuk mencapai aspirasinya sebagai bank yang semakin diandalkan melayani sektor perumahan dan berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
Nixon LP Napitupulu, Direktur Utama BTN
Peran BTN selama 75 tahun ke belakang dibangun dengan fondasi untuk melayani negeri melalui penyediaan akses pembiayaan bagi jutaan rakyat Indonesia sehingga dapat memiliki hunian layak. Komitmen kuat untuk menjadi bank yang lebih sigap menghadapi perubahan yang pesat tampak pada Rapat Kerja Tahun 2025 BTN yang digelar pada 3 Januari 2025 di Menara 1 BTN, Jakarta. Dalam sambutannya di depan ratusan pejabat dan karyawan BTN, yang akrab disebut “BTNers”, Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu menekankan pentingnya para generasi muda BTNers untuk bergerak lebih cepat dan lebih berani dengan segenap kemampuan mereka.
“Kalau orang setengah dipaksa, mau tidak mau dia harus berenang, tinggal kita buat sungainya untuk dia berenang,” ujar Nixon mengibaratkan BTNers yang harus berani untuk terjun menghadapi tantangan agar BTN bergerak lebih cepat lagi.
Tuntutan agar BTN menjadi bank yang naik kelas atau go to the next level juga diutarakan oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir pada Raker tersebut. Dalam arahannya, Menteri BUMN meminta BTN untuk tidak berpuas diri dan bahkan sudah saatnya bagi BTN melangkah menjadi megabank yang bisa memberikan solusi komprehensif bagi perumahan dan ekosistemnya.
“Jangan lelah bertransformasi, karena transformasi tidak ada ending-nya,” ucap Menteri BUMN di hadapan para peserta Raker.
Transformasi BTN menjadi bank andalan utama yang berkontribusi bagi sektor perumahan dan perekonomian negara sesungguhnya dimulai dari sejarahnya yang panjang. Cikal-bakal BTN dimulai dari Postpaarbank yang didirikan oleh kolonial Belanda pada 1897 di Batavia untuk mempopulerkan budaya menabung di Hindia Belanda. Ketika kolonial Jepang masuk ke Indonesia, Postpaarbank berubah nama menjadi Tyokin Kyoku atau Kantor Tabungan. Setelah Indonesia merdeka, tepatnya pada 1950, pemerintah Indonesia mengambil alih Tyokin Kyoku dan mengubah nama bank tersebut menjadi Bank Tabungan Pos. Nama Bank Tabungan Negara baru muncul pada 1963 dan tetap bertahan hingga kini.
BTN kemudian mendapatkan penugasan dari Menteri Keuangan Ali Wardhana sebagai penyelenggara kredit pemilikan rumah (KPR) pada 29 Januari 1974, sejalan dengan program pemerintah yang tengah menggalakkan program perumahan untuk rakyat. Sejak penyaluran KPR perdana pada 10 Desember 1976, BTN secara konsisten menyalurkan KPR hingga saat ini lebih dari 90% portofolio kreditnya merupakan kredit perumahan. BTN memimpin pasar KPR di Indonesia dengan market share yang mencapai sekitar 40% secara nasional dan mendominasi saluran KPR Subsidi yang mendukung program rumah nasional dan berdampak pada 181 sub-sektor ekonomi turunannya terkait dengan pembiayaan pembangunan perumahan.
Kekuatan BTN sebagai penyalur KPR terbesar di Indonesia tersebut memantapkan posisi perseroan di top five bank dengan aset terbesar secara nasional. Hingga kuartal III2024, aset BTN telah mencapai Rp455,1 triliun, meningkat 11,1% secara year-on-year (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp409,7 triliun.
Nixon mengatakan, pertumbuhan BTN yang pesat selama lebih dari satu dekade ke belakang turut ditopang oleh Program 1 Juta Rumah di bawah pemerintahan sebelumnya yang dipimpin Presiden Joko Widodo. Melalui program tersebut, BTN menyediakan akses pembiayaan berupa KPR Subsidi bagi segmen masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
Nixon sebagai nakhoda perseroan mengungkapkan bahwa aset BTN diharapkan dapat menembus Rp500 triliun pada akhir 2025, yang utamanya akan didorong oleh Program 3 Juta Rumah yang diusung Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
“Sejak 2015, BTN telah menjadi pemain utama yang berkontribusi dalam realisasi Program 1 Juta Rumah di era pemerintahan Presiden Joko Widodo. Tentunya, pekerjaan rumah ini belum selesai karena masih tingginya backlog (kekurangan) perumahan nasional yang masih mencapai 9,9 juta. BTN siap untuk mendukung program selanjutnya yang diusung pemerintahan baru dalam rangka memenuhi kebutuhan rumah terjangkau dan layak huni,” kata Nixon.
Membangun Asa Perumahan Rakyat Lewat Program 3 Juta Rumah
Peran BTN sebagai mitra utama pemerintah dalam pembiayaan pembangunan rumah rakyat semakin nyata dengan adanya komitmen pemerintahan Presiden Prabowo Subianto untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi hingga 8%, yang salah satunya dipicu lewat sektor perumahan. Strategi utama pemerintahan baru untuk secara masif menggerakkan pertumbuhan di sektor perumahan adalah dengan Program 3 Juta Rumah, yang terdiri dari 1 juta rumah di perkotaan dan 2 juta rumah di pedesaan di seluruh Indonesia setiap tahunnya. Keseriusan pemerintahan baru telah terlihat bahkan sejak Presiden terpilih Prabowo Subianto belum dilantik menjadi Presiden Republik Indonesia, dengan dibentuknya Tim Satuan Tugas (Satgas) Perumahan yang dikepalai oleh adik Prabowo sendiri, yakni Hashim Djohohadikusumo. BTN sebagai agen pemerintah untuk pembiayaan sektor perumahan turut menjadi anggota satgas tersebut karena mengemban tugas dengan target yang jauh lebih tinggi dari sebelumnya.
Dalam sambutannya pada peluncuran Pilot Project Rumah Rendah Emisi BTN di Bekasi pada 2024, Hashim mengungkapkan bahwa sektor perumahan harus menjadi salah satu pilar pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa depan. “Secara pribadi saya optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai 10% atau double digit, dan salah satu faktor utamanya adalah pertumbuhan sektor perumahan, karena saat ini masih ada 37 juta rumah tangga di Indonesia yang membutuhkan rumah layak huni. Kami bertekad untuk memenuhi itu,” ucap Hashim.
Melalui kemitraannya dengan pemerintah, BTN tidak hanya sekadar menjadi agen penyalur pembiayaan perumahan, melainkan juga menunjukkan kesiapannya dengan berkontribusi secara proaktif dalam penggodokan strategi agar target 3 juta rumah dapat terwujud. BTN secara konsisten memberi masukan kepada pemerintah, bahkan membangun sebuah forum terbuka secara rutin yang mendudukkan pemerintah, para developer dan pemangku kepentingan lainnya di sektor perumahan yang telah dimulai sejak November 2024. Dalam forum tersebut, Nixon secara konsisten memberikan masukan strategi yang menyasar dari hulu ke hilir ekosistem perumahan nasional, baik dari sisi pasokan (supply) maupun permintaan (demand).
Hal yang tidak kalah mendesak dari sudut pandang BTN adalah pentingnya dorongan yang lebih kuat dan berkelanjutan dari pemerintah untuk pendanaan program. Pasalnya, dengan target 3 juta rumah per tahun, dibutuhkan pendanaan hingga tiga kali lipat dibandingkan sebelumnya. Sebab itu, BTN telah mengusulkan skema pembiayaan yang lebih efisien, tepat sasaran, dan tidak membebani keuangan negara karena bank ikut berbagi beban. Namun tidak kalah pentingnya, skema yang baru juga diharapkan dapat meningkatkan kinerja keuangan bank penyalur KPR Subsidi.
Dengan berkurangnya porsi APBN untuk pembiayaan rumah rakyat, BTN lantas harus mendapatkan sumber pendanaan raksasa. Selain dana pihak ketiga yang terus digencarkan, BTN berharap dapat menerbitkan obligasi yang dijamin pemerintah maupun sekuritisasi. Melalui sekuritisasi aset, bank dapat menjual portofolio KPR-nya sehingga dana yang didapatkan dapat digulirkan kembali untuk pengajuan KPR selanjutnya. Namun, diperlukan perubahan regulasi yang mengizinkan BTN untuk dapat melakukan sekuritisasi aset KPR FLPP.
BTN mau tidak mau, suka tidak suka harus siap untuk berusaha secara optimal mencari sumber dana dari dalam negeri maupun luar negeri (offshore), termasuk dengan mendorong sekuritisasi aset KPR. “Saat ini, nilai sekuritisasi KPR di Indonesia masih kecil sekali. Dengan adanya lebih banyak sekuritisasi, dana murah secara jangka panjang dapat terus tersedia. Selain itu, kita perlu mendorong dana investasi berkelanjutan (dari berbagai institusi pengelola keuangan). Termasuk dalam hal ini merangkul semua stakeholder terkait dengan ekosistem perumahan di Indonesia. Itu semua akan sangat membantu Program 3 Juta Rumah,” tegas Nixon.
Aspirasi Bank Transaksional Lewat Super Apps Bale by BTN
Kebutuhan yang mendesak untuk meningkatkan sumber pendanaan berbiaya murah dan berkelanjutan dalam rangka mendukung pembiayaan ke sektor perumahan menjadi bahan bakar BTN berinovasi dan bertransformasi agar perseroan semakin dipercaya untuk mengelola dana masyarakat, sejalan dengan aspirasi perseroan menjadi bank transaksional. Langkah tersebut telah dimulai sejak 2023, saat aplikasi BTN Mobile muncul untuk menjawab kebutuhan konsumen, terutama segmen milenial dan Gen Z.
BTN Mobile didesain dengan fitur-fitur yang menjawab kebutuhan nasabah yang memerlukan layanan yang lebih cepat, simple serta adaptif dengan dinamika kehidupan, namun tetap efisien. Sepanjang perjalanannya, BTN terus menambahkan fitur-fitur yang lebih lengkap di BTN Mobile, seperti reksa dana, online money changer, dan top up electronic money (e-money). Terobosan digital yang dilakukan melalui BTN Mobile mampu menarik hingga 1,9 juta pengguna per September 2024, yang turut membantu BTN mendapatkan sumber dana murah.
Tidak cepat puas, BTN terus berambisi menggencarkan upayanya dalam menarik lebih banyak dana murah ritel secara berkelanjutan dengan meng-upgrade BTN Mobile menjadi sebuah Super Apps bernama Bale by BTN, yang saat ini jumlah penggunanya telah mencapai 2,2 juta. BTN melakukan soft launching untuk memperkenalkan Bale by BTN pada 15 Desember 2024 saat ulang tahun KPR BTN ke48, yang turut dihadiri Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait dan Menteri BUMN Erick Thohir.
“Kami sengaja menggunakan nama Bale untuk Super Apps ini karena berasal dari kata “balai” yang berarti “rumah”, jadi ini adalah “rumah” bagi masyarakat Indonesia. Bale sudah tersambung dengan dua juta user hanya dalam waktu satu tahun, dan pada tahun 2025 diharapkan bisa didorong ke angka empat hingga lima juta user,” ujar Nixon saat soft launching Bale by BTN.
Untuk menggaet masyarakat secara lebih masif, setelah tahun lalu pada perayaan HUT ke-74 BTN melakukan secara masif perubahan logo barunya, kali ini bertepatan dengan HUT ke-75 BTN melakukan Grand Launching Bale by BTN yang diyakini memiliki berbagai fitur dan promo menarik, dan diharapkan menjadi bukti keseriusan BTN untuk bersaing di era digital dengan konsep Beyond Banking atau lebih dari sekadar layanan perbankan. Nixon meyakini, keunikan proposisi Bale by BTN sebagai Super Apps yang mampu melayani berbagai transaksi terkait sektor perumahan, dari pengajuan KPR secara daring (online) hingga pemesanan jasa kebutuhan rumah seperti servis AC, kebersihan harian, dan jasa tukang ledeng.
“Di tengah persaingan yang semakin ketat, transformasi digital menjadi kunci utama untuk memenangkan hati nasabah dan mempertahankan daya saing. Kami melihat fungsionalitas Bale by BTN saat ini sudah setara dengan peers atau pemain lainnya di industri. Kami berkomitmen untuk terus memperkuat Super Apps ini, termasuk dalam hal kapasitas dan sistem keamanannya,” tutur Nixon.
Penguatan Mesin Pendanaan Berkelanjutan di Usia ke-75.
Dengan perkembangan bisnis yang pesat dan tanggung jawab yang semakin besar sebagai pemain utama sektor perumahan nasional, BTN melihat penguatan struktur pendanaan yang murah dan berkelanjutan menjadi sebuah keniscayaan yang tidak bisa ditawar. Sebab itu, BTN menetapkan penguatan engine untuk sustainable funding sebagai tema utama pada 2025 dalam rangka mencapai visi jangka panjang hingga 2029, yaitu menjadi “Mitra Utama dalam Pemberdayaan Finansial Keluarga Indonesia”. Visi tersebut diturunkan ke dalam lima misi utama, yaitu: (1) Menjadi mitra utama pemerintah dalam inklusi perumahan dan keuangan; (2) Memberikan customer experience terbaik melalui layanan digital dan finansial yang terintegrasi; (3) Meningkatkan shareholder value dengan pertumbuhan profitabilitas yang berkelanjutan; (4) Menjadi rumah bagi talenta terbaik Indonesia; dan (5) Menerapkan praktik tata kelola perusahaan yang baik dan inovasi bisnis berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat dan kelestarian lingkungan.
BTN memulai tahun 2025 dengan strategi bisnis yang mengedepankan keberlanjutan dan digitalisasi untuk meraih yield yang lebih tinggi. Pasalnya, menurut Nixon, funding (pendanaan) telah menjadi tema besar di perbankan karena kondisi likuiditas yang ketat dan mahal akibat ketidakpastian ekonomi global. Perubahan persaingan di lapangan tersebut mempengaruhi kondisi penyaluran kredit yang—meskipun berharap pada masifnya Program Tiga Juta Rumah—kemungkinan pertumbuhannya masih akan terbatas di sekitar 8-10% jika tidak ada dorongan pendanaan yang signifikan.
Untuk itu, mulai tahun 2025, BTN telah melangkah keluar dari zona nyamannya dengan sudut pandang “Beyond Mortgage”, atau menjadi lebih dari sekadar bank penyalur KPR. Tujuannya adalah memposisikan diri menjadi bank primer atau sekunder yang melayani berbagai kebutuhan transaksi perbankan dan keuangan bagi firsttime home buyer atau masyarakat yang membeli rumah untuk pertama kalinya. Semakin banyak nasabah KPR BTN yang terbiasa bertransaksi sehari-hari menggunakan layanan BTN, maka semakin besar pula cashflow dana murah yang konsisten bagi BTN untuk disalurkan kembali menjadi kredit, tanpa harus bergantung pada dana mahal atau deposito.
“Hari ini kita duduk sepakat berdiskusi bagaimana membuat funding yang sustain, karena BTN harus dapat menekan cost of fund (biaya dana) sehingga dapat bersaing dengan bank-bank Himbara (Himpunan Bank Milik Negara). Pelan-pelan kita menarik biaya dana agar turun, tapi masih kurang cepat, sehingga banyak inisiatif yang harus BTN lakukan di banyak area, seperti digitalisasi, services, dan funding,” tutur Nixon menambahkan.
Selain menggencarkan transaksi ritel di Super Apps Bale by BTN, inisiatif baru telah dimulai pada 2025 dengan memperbanyak perubahan terhadap kantor cabang menjadi Digital Store yang akan meningkatkan efisiensi dan memodernisasi proses bisnis. Tidak hanya pendanaan ritel, BTN juga terus meningkatkan perolehan dana murah yang berasal dari nasabah institusi melalui layanan cash management system.
Dengan adanya fokus kepada pendanaan ritel dan institusi menengah, Nixon berharap BTN dapat meningkatkan proporsi dana murah (current account saving account/CASA) menjadi lebih dari 54% terhadap total dana pihak ketiga dan lebih tinggi lagi pada tahun-tahun yang akan datang sehingga struktur pendanaan BTN akan didominasi oleh dana murah. Dengan begitu, di usia keemasannya, BTN akan memiliki ruang untuk meningkatkan profitabilitasnya sambil tetap menjaga fungsi intermediasinya melalui penyaluran kredit. Ini menjadi fokus BTN sebagai bank pelat merah untuk bagaimana ke depan dapat berperan lebih aktif agar bermanfaat bagi negara dalam turut serta membiayai pembangunan ekonomi untuk kesejahteraan rakyat sesuai Asta Cita yang diamanahkan pemerintahan Prabowo-Gibran.
“Kalau orang setengah dipaksa, mau tidak mau dia harus berenang, tinggal kita buat sungainya untuk dia berenang,” ujar Nixon mengibaratkan BTNers yang harus berani untuk terjun menghadapi tantangan agar BTN bergerak lebih cepat lagi.