Setiap perjuangan dan pencapaian diyakininya sebagai bagian dari campur tangan Tuhan, layaknya angin yang tak terlihat namun selalu mendorong layar kapal menuju tujuan. Berbekal nilai-nilai sebagai good banker, ia mengarahkan BPR yang dipimpinnya menuju pertumbuhan yang konsisten dan berkelanjutan.
BONIFATIUS BUDI SUNDJAJA, DIREKTUR UTAMA BPR ARTHARINDO
JARUM jam dinding sudah mendekati pukul 11:30 WIB. Suara detaknya seakan mengiringi langkah Bonifatius Budi Sundjaja yang meninggalkan kursi kerjanya dengan cepat. Di tengah kesibukan sebagai Direktur Utama BPR Artharindo, ia tak pernah melupakan satu rutinitas penting: beribadah siang di kapel dekat kantor. Kegiatan itu ia lakukan secara rutin, setidaknya dua hingga tiga kali seminggu. Jika kesibukan kantor tidak memungkinkan, ia tetap meluangkan waktu beribadah di pagi hari di kapel dekat rumahnya di BSD, Tangerang Selatan.
Bagi Budi, agama bukan sekadar pegangan hidup, melainkan fondasi utama dalam menjalani setiap langkah. Ia meyakini bahwa usaha keras yang diiringi dengan doa akan membawa ke jalan yang terang. “Kalau kita percaya kita berbuat baik dan bekerja keras, Tuhan pasti akan bantu. Dan, kalau kita mau berbuat macam-macam, ingat Yang Di Atas. Apa yang kita capai sekarang bukan hanya karena kemampuan kita, tapi juga karena pertolonganNya,” ungkap Budi kepada Infobank, bulan lalu.
Prinsip hidup yang kuat ini menjadi salah satu faktor yang mengantarkan Budi ke posisinya saat THE MICRO BANKER BONIFATIUS BUDI SUNDJAJA, DIREKTUR UTAMA BPR ARTHARINDO ini. Sosok pria yang lahir dan besar di Semarang, Jawa Tengah, ini membuktikan bahwa perjalanan hidup bisa penuh liku tetapi tetap berakhir pada tujuan yang indah.
Awalnya, orang tua Budi menginginkannya menjadi dokter. Mereka membujuknya dengan iming-iming kehidupan yang nyaman jika berprofesi sebagai dokter. Namun, takdir berkata lain. Budi malah melanjutkan pendidikan di Jurusan Akuntansi Universitas Diponegoro.
Selepas menyelesaikan studinya, Budi memulai karier sebagai akuntan di sebuah perusahaan kayu lapis di Pontianak, Kalimantan Barat. Awal dekade 1990-an, ketika banyak bank bermunculan akibat kebijakan deregulasi perbankan melalui Paket Kebijakan Oktober 1988 (Pakto 88), Budi melihat peluang emas. Bank Internasional Indonesia (BII), yang kini dikenal sebagai Bank Maybank Indonesia, sedang berekspansi dengan membuka banyak kantor cabang di berbagai daerah. Salah satunya Samarinda.
“Waktu itu saya kerja di Samarinda dan ada BII yang mau buka cabang di sana. Saya coba melamar, lalu diterima sebagai assistant account officer setelah menjalani pelatihan di Balikpapan pada tahun 1990,” kenangnya.
Karier Budi di dunia perbankan mulai menanjak sejak saat itu. Perlahan tapi pasti, ia meniti tangga karier hingga menjadi kepala cabang. Selama hampir dua dekade bekerja di BII, ia berpindah dari satu daerah ke daerah lain, mulai dari Samarinda, Palembang, Bogor, hingga Denpasar. Pada 2005, Budi dipercaya menempati posisi wakil kepala divisi kredit pemilikan rumah (KPR) di kantor pusat Jakarta.
Namun, 2008 menjadi penanda akhir perjalanan panjangnya di BII. Setelah 18 tahun mengabdi, Budi merasa sudah waktunya menetap di satu tempat demi keluarga. Tepat pada saat itu, ia mendapat tawaran untuk menjadi direktur utama di BPR Artharindo, yang berkantor pusat di Jl. K.H. Hasyim Ashari, Jakarta Pusat. Tugas penting pertamanya ialah mengatasi masalah NPL yang dihadapi BPR Artharindo pada saat itu.
Saat pertama kali bergabung dengan BPR Artharindo, dunia sedang menghadapi krisis keuangan global 2008. Tantangan besar langsung mengadang langkah awal Budi di industri bank rural. Namun, pengalaman bertahun-tahun di BII membuatnya mampu beradaptasi dengan cepat. Ia membawa serta nilai-nilai penting dalam profesi bankir, seperti integritas, trust, dan tata kelola perusahaan yang baik atau good corporate governance (GCG) ke lingkungan barunya.
Dalam memimpin rekan-rekannya, Budi mengedepankan prinsip keterbukaan dan keteladanan. Sebagai leader, pria dengan hobi membaca buku dan berita soal ekonomi serta perbankan ini memilih untuk memberi contoh dan mengedukasi langsung para karyawan, menunjukkan hal-hal apa saja yang boleh mereka lakukan maupun kegiatan yang sebaiknya dihindari.
“Saya pribadi tidak yang aneh-aneh dalam memimpin. Kalau saya, yang penting kasih teladan ke karyawan. Maksudnya, apa yang kita sampaikan dan berikan ke karyawan, itu juga harus kita lakukan. Sesederhana itu,” jelas Budi.
Tak hanya mengedepankan profesionalisme, Budi juga menekankan pentingnya spiritualitas dalam kehidupan sehari-hari. Ia kerap mengingatkan rekan-rekannya untuk tetap teguh beribadah sesuai dengan keyakinan masing-masing. Menurutnya, iman yang kuat adalah perisai dalam menghadapi godaan dan tantangan.
Di bawah kepemimpinannya, BPR Artharindo berkembang pesat. Pada awal kepemimpinannya, aset bank ini hanya sekitar Rp40 miliar. Kini, asetnya telah melampaui Rp500 miliar. Persisnya, per September 2024, BPR Artharindo beraset Rp644,05 miliar. Budi menargetkan tercapai aset Rp1 triliun dalam beberapa tahun ke depan.
Untuk mencapai target tersebut, Budi bersama tim telah menyusun berbagai strategi, salah satunya konsolidasi yang terukur. Pada 2024 lalu, BPR Artharindo melakukan merger dengan empat bank rural di berbagai daerah. Langkah ini untuk memperkuat model bisnis dan memperluas jangkauan layanan.
Selain konsolidasi, kaderisasi menjadi perhatian utama. Budi menyadari bahwa masa depan BPR Artharindo ada di tangan generasi muda yang penuh semangat dan inovasi. Karena itu, ia aktif mengedukasi para karyawannya agar siap menerima tongkat estafet kepemimpinan di masa mendatang.
Teknologi terus berkembang pesat, tak terkecuali teknologi digital. Para pelaku bisnis kini ramai-ramai mengadopsi teknologi tersebut dalam menjalankan bisnisnya. Gelombang transformasi digital pun tak bisa dihindari. Budi menyadari bahwa untuk tetap relevan di era yang serba digital, bank rural harus mampu beradaptasi dengan cepat. “Kami harus memperbaiki sistem IT agar siap merambah ke layanan digital. Kami mungkin akan melewati fase penggunaan ATM karena infrastrukturnya mahal dan sudah tertinggal. Sebagai gantinya, kami langsung mempersiapkan layanan mobile banking dan pembayaran menggunakan QRIS,” ungkapnya.
Namun, Budi menegaskan bahwa inovasi digital harus diimbangi dengan sistem keamanan yang andal. Kepercayaan nasabah adalah hal yang utama sehingga aspek keamanan menjadi prioritas dalam setiap langkah digitalisasi yang diambil.
Bonifatius Budi Sundjaja adalah contoh nyata dari seorang pemimpin yang tidak hanya mengandalkan kecerdasan, tetapi juga kekuatan spiritual dan integritas pribadi. Perjalanan hidupnya mengajarkan bahwa sukses bukan hanya soal kecepatan, tetapi juga ketekunan dan ketulusan hati. Seperti pohon yang kokoh di tengah badai, Budi tetap teguh dan tegar melangkah di jalan sunyi, berbekal doa dan kerja keras.
Dengan visi yang jelas dan prinsip yang kuat, ia terus membawa BPR Artharindo menuju masa depan yang lebih cerah. Seperti pepatah Latin, per aspera ad astra – melalui kesulitan menuju bintang. Setiap langkah yang ia ambil adalah cerminan dari filosofi hidupnya: sederhana, tulus, dan penuh keyakinan. Ia percaya, hasil terbaik selalu hadir dari kombinasi antara kerja keras, integritas, dan doa. Dengan membawa prinsip-prinsip itu, ia yakin mampu mengantarkan BPR Artharindo mencapai puncak.
Bagi Budi, agama bukan sekadar pegangan hidup, melainkan fondasi utama dalam menjalani setiap langkah. Ia meyakini bahwa usaha keras yang diiringi dengan doa akan membawa ke jalan yang terang. “Kalau kita percaya kita berbuat baik dan bekerja keras, Tuhan pasti akan bantu. Dan, kalau kita mau berbuat macam-macam, ingat Yang Di Atas. Apa yang kita capai sekarang bukan hanya karena kemampuan kita, tapi juga karena pertolonganNya,” ungkap Budi kepada Infobank, bulan lalu.