Ali Setiawan, Head of Global Markets and Securities Services HSBC Indonesia
“HIDUP bukanlah seberapa keras Anda dapat memukul, tetapi seberapa banyak pukulan yang Anda terima dan masih bisa bangkit,” kata Rocky Balboa dalam film legendaris berjudul Rocky Balboa yang rilis di 2006. Kutipan ini mencerminkan perjalanan Ali Setiawan, Head of Global Markets and Securities Services HSBC Indonesia. Inspirasi Ali untuk berkecimpung di pasar keuangan bermula dari sebuah film klasik bertajuk Wall Street (1987).
Saat masih duduk di bangku SMP, Ali melihat dunia pasar keuangan melalui layar kaca. “Zaman dulu ‘kan film terkait Wall Street lagi banyak tuh. Karena (film) Wall Street lagi banyak, impiannya awal-awal lihat, weh keren ya kerja, sepertinya environment-nya dinamis banget,” kenang pria kelahiran Jakarta, 28 Mei 1976, ini.
Kesan dari film itu begitu mendalam hingga membentuk jalur pendidikan dan kariernya. Ali memilih jurusan accounting and finance di University of Western Australia untuk S-1, lalu mengambil gelar S-2 di bidang keuangan di Curtin University, Australia.
Namun, perjalanan dari mimpi ke realita tak semulus cerita di film. Usai lulus kuliah, Ali menghadapi kesulitan mencari pekerjaan di Australia. Bahkan, ia harus menjalani magang tanpa bayaran di perusahaan manajemen aset. “Dan, take almost a year sebelum saya mendapatkan panggilan untuk mengikuti program graduate trainee di National Australia Bank. Ini adalah first official job offered to me,” tuturnya.
Kariernya dimulai dari posisi paling dasar, sebagai teller. Dari sana, Ali perlahan naik menjadi analis, asisten manajer, hingga akhirnya bertugas di kantor cabang. Perjalanan karier Ali seperti menanam benih, tidak langsung terlihat hasilnya, tapi butuh proses untuk berkembang hingga menjadi pohon yang rindang.
“Di situ, menurut saya, apa pun yang kita pelajari dan lewati dalam masa karier, di awal karier pasti adalah pelajaran untuk kita. Ada gunanya, turns out karena saya sempat di semua departemen, saya jadi mengerti perbankan secara keseluruhan,” tukasnya.
Saat masih duduk di bangku SMP, Ali melihat dunia pasar keuangan melalui layar kaca. “Zaman dulu ‘kan film terkait Wall Street lagi banyak tuh. Karena (film) Wall Street lagi banyak, impiannya awal-awal lihat, weh keren ya kerja, sepertinya environment-nya dinamis banget,” kenang pria kelahiran Jakarta, 28 Mei 1976, ini.