JARANG sekali kita melewati jalan yang bersih atau mulus dari segala macam sampah, kerikil, batu besar, atau lumpur. Tentu selalu ada salah satu atau beberapa di antaranya. Hidup memang didesain penuh dengan kendala. Satu masalah pergi, masalah lain datang. Satu selesai, satu lagi butuh penanganan. Tanah yang kita injak terkadang keras. Jalan yang kita tempuh adakalanya penuh liku dan dinamika, yang tidak mudah untuk dilalui.
Tahun 2025 yang sedang kita injak ini juga merupakan tahun yang tidak mudah. Sejumlah konflik global antarnegara masih berlangsung. Perang Rusia-Ukraina adalah salah satu konflik utama dengan dampak besar pada keamanan dan ekonomi dunia. Konflik Israel-Palestina yang berkepanjangan menjadi isu sentral di Timur Tengah.
Tanah dunia yang kita injak ini makin keras dengan dilantiknya Donald Trump pada akhir Januari kemarin sebagai Presiden Amerika Serikat (AS), yang berpotensi memicu ketegangan domestik dan internasional. Kebijakan proteksionisnya dapat memperdalam kesenjangan ekonomi dan sosial di dalam negeri, sementara pendekatan “America First” berisiko merusak hubungan diplomatik dengan sekutu dan memicu ketidakstabilan global.
Di dalam negeri, kita juga menginjak tanah yang lebih keras; menghadapi masalah-masalah korupsi, kepastian hukum, dan pemerataan ekonomi yang tidak selesai-selesai. Kita menghadapi berbagai tantangan ekonomi, antara lain perlambatan pertumbuhan akibat tekanan global, meningkatnya kemiskinan, dan tingginya angka pengangguran. Masalah-masalah sosial juga banyak merebak: pertikaian keluarga, pembunuhan karena kehidupan bertetangga yang terganggu, perampokan; belum lagi bencana force majeure seperti kebakaran dan kebanjiran.
Tidak henti-henti kita didera oleh banyak persoalan kehidupan. Termasuk kehidupan sehari-hari di bank sebagai tempat bekerja, seperti bertumpuknya tugas-tugas mesti lembur Sabtu dan Minggu, pimpinan yang sangat demanding dan micro manage, sehingga mengabaikan work-life balance. Belum lagi teknologi yang tidak mendukung, juga rekan kerja yang egois dan seenaknya sendiri. Ditambah bayang-bayang kemungkinan kecilnya kenaikan gaji dan bonus di industri perbankan karena melemahnya ekonomi negara secara keseluruhan di 2025 ini.
yang kapitalis dan individualis seperti ini memang mengancam dunia yang terasa makin sempit dan keras. Tanah yang kita injak terasa banyak kerikil tajamnya yang dapat melukai telapak kaki kita. Namun, apakah secara pribadi kita ikut melemah karena banyak tantangan yang bertubi-tubi ini? Tentu tak boleh. Kalau kita melemah, sama saja kita mulai menguburkan diri dalam kematian. Kita harus tetap kuat di atas tanah yang keras.
Manusia adalah khalifah di atas bumi ini. Manusia adalah nakhoda. Nakhoda dianggap berguna kalau lautan yang diseberangi penuh dengan ombak tinggi dan besar, disertai badai dan gelombang. Kalau jalannya mulus, tentu tidak perlu ada nakhoda. Sebagai khalifah, kita diharapkan bisa menyetir kehidupan ke arah yang lebih baik.
Kebutuhan utama kita di dunia adalah tumbuh dan berkembang. Nasihat bijak, “barang siapa yang hari ini lebih baik daripada kemarin, maka dia termasuk orang yang beruntung”. Kita mempunyai kebutuhan untuk selalu berkembang dari hari ke hari. Dan, jalan untuk tumbuh dan berkembang adalah melalui ujian dan menyelesaikan masalah yang bertubi-tubi yang datang kepada kita. Kondisi ekonomi Indonesia yang melemah adalah lecutan bagi para pemimpin untuk bisa mengendalikannya. Kehidupan kerja yang keras dan sering tidak fair merupakan tantangan bagi para karyawan, termasuk karyawan bank.
Ukuran sukses kita sebagai manusia adalah memberikan impact dan legacy, yaitu memberikan manfaat kepada sebanyak-banyaknya orang. Kita memberikan impact karena menyelesaikan banyak persoalan pribadi dan keluarga kita. Kita meninggalkan legacy karena di kantor selalu memberikan solusi dan kehadiran kita membantu perusahaan menjadi lebih maju.
Kita menjadi manusia yang bermanfaat kalau bisa memudahkan jalan orang lain. Cara mencapai itu adalah dengan menghadapi kerasnya tanah, banyaknya gelombang kehidupan, dan menyulap serta mengubahnya menjadi legacy supaya membawa ketenangan bagi banyak orang. Kita membawa perubahan ke arah yang lebih baik dengan memperbaiki keadaan yang selalu datang dengan segala tantangan dan lika-likunya.
Tahun 2025 yang sedang kita injak ini juga merupakan tahun yang tidak mudah. Sejumlah konflik global antarnegara masih berlangsung. Perang Rusia-Ukraina adalah salah satu konflik utama dengan dampak besar pada keamanan dan ekonomi dunia. Konflik Israel-Palestina yang berkepanjangan menjadi isu sentral di Timur Tengah.
Tanah dunia yang kita injak ini makin keras dengan dilantiknya Donald Trump pada akhir Januari kemarin sebagai Presiden Amerika Serikat (AS), yang berpotensi memicu ketegangan domestik dan internasional. Kebijakan proteksionisnya dapat memperdalam kesenjangan ekonomi dan sosial di dalam negeri, sementara pendekatan “America First” berisiko merusak hubungan diplomatik dengan sekutu dan memicu ketidakstabilan global.