Penulis Adalah Honorable Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (Lppi). Tulisan Ini Merupakan Pendapat Pribadi
Era saat ini, meski belum tentu benar, sering saya sebut sebagai era banking in your hand karena semuanya dapat dilakukan melalui telepon seluler (ponsel). Ada beberapa indikator yang menjadi pendukung keberlanjutan era ini, antara lain sebagai berikut.
Satu, makin banyak bank yang telah mempraktikkan layanan voice banking (VB) untuk menciptakan suara sintetis yang dipersonalisasi atau personalised synthetic voice (PSV), yang sejatinya adalah suara alami seseorang (Costello, 2016). Suara ini nantinya dapat digunakan pada perangkat komunikasi, yang sering disebut komunikasi augmentatif dan alternatif. Melalui VB, pihak bank dapat memberikan manfaat kepada nasabah dalam hal kecepatan, kepraktisan, dan waktu.
Umumnya, layanan melalui VB memungkinkan nasabah untuk memeriksa saldo rekening, mentransfer dana, membayar tagihan, mengelola rekening kartu kredit, meminta laporan rekening, dan melakukan pemblokiran. Untuk menggunakan VB, nasabah dapat memanfaatkan perangkat seluler, seperti ponsel atau tablet, dan menggunakan layanan perbankan di toko-toko kecil, toko kelontong, stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), atau layanan lainnya. Beberapa bank yang telah menggunakan layanan VB juga menyertakan fasilitas lainnya terkait dengan pencarian lokasi ATM terdekat, yang secara langsung memandunya sampai ke lokasi dan pengajuan pinjaman.
Sebagai contoh, layanan VB dari HDFC Bank. Salah satu bank terbesar di India ini telah meluncurkan chatbot AI suara bernama ”Eva” untuk memberikan saran dan rekomendasi keuangan yang dipersonalisasi kepada nasabah.
Dua, terkait dengan layanan financial wellness (FW), yang secara bebas diartikan sebagai layanan dan/atau pengelolaan keuangan pribadi secara digital. FW memberikan kemampuan kepada nasabah untuk memenuhi kebutuhan dasar pokok, merencanakan dana terkait halhal yang tidak terduga, dan menabung untuk masa depan.
Dalam pengertian yang lebih luas, FW memberikan layanan personal agar nasabah tidak membuat keputusan yang salah terkait dengan pengelolaan keuangan dan investasi mereka. Misalnya, nasabah ingin mengoptimalkan imbal hasil investasi ketika membeli surat berharga lainnya, baik yang ada di pasar uang maupun pasar modal. Pihak bank dapat memberikan pilihan terbaik bagi nasabahnya, dan semua transaksinya tentu melalui pihak bank. Saat ini, sudah banyak bank dan financial technology (fintech) yang menawarkan layanan FW. Misalnya, Digit, Chime, Qapital, Acorns, Fifth Third, dan Bank of America.
Tiga, layanan biometric banking (BB) digital, yang menggunakan karakteristik fisik atau perilaku unik untuk mengamankan serta melakukan autentikasi akses akun dan transaksi perbankan digital. Umumnya, BB menggunakan sidik jari, wajah, atau suara untuk melakukan verifikasi identitas.
Saat ini, autentikasi biometrik dengan menggunakan wajah dianggap paling aman untuk mengon?rmasi identitas pengguna. Cara ini sulit untuk dipalsukan atau disalahgunakan sehingga hanya pengguna yang sah yang dapat mengakses akun mereka atau melakukan transaksi. Di lain pihak, penggunaan BB dapat dilakukan secara lebih cepat dan mudah. Pengguna terhindar dari beban mengingat dan membuat catatan khusus ketika harus menggunakan password yang makin lama makin rumit dengan jumlah kombinasi yang juga rumit.
Harus diakui, autentikasi biometrik memang memberikan keamanan yang lebih baik demi menghindari penyalahgunaan dan penipuan. Sekadar contoh, HSBC telah menyediakan layanan BB melalui aplikasi Featurespace yang mengadopsi teknologi anti-penipuan berbasis biometrik.
Beberapa Catatan
Meski era digitalisasi terus berlanjut, kenyataan menunjukkan bahwa masih banyak yang belum memanfaatkannya hingga saat ini. Bisa jadi itu karena tradisi dan/atau kebiasaan atau bagian lain dari status pemiliknya. Misalnya, penggunaan dompet bermerek yang dipersepsikan bahwa penggunanya memiliki status sosial lebih tinggi, kendati kegunaannya sama saja dengan dompet tidak bermerek dan relatif murah harganya. Para penggunanya juga menyadari dan paham bahwa kehilangan dompet bisa menimbulkan banyak kerumitan.
Membawa dompet seharusnya mulai ditinggalkan dan beralih menggunakan ponsel. Karena, semua bank dan fintech telah menyediakan aplikasi yang memungkinkan semua aktivitas dapat dilakukan melalui ponsel. Apalagi, sudah banyak penjual yang tidak menerima pembayaran secara tunai.
Menyatakan selamat tinggal dompet dan kartu akan menjadi era baru peradaban manusia sebagai konsekuensi yang tak dapat dihindari. Pengamanan ponsel pun sudah banyak menggunakan biometrik untuk mengurangi risiko digunakan pihak lain. Jadi, suka tidak suka, mengucapkan selamat tinggal dompet dan kartu adalah hal yang tak bisa dihindar
Satu, makin banyak bank yang telah mempraktikkan layanan voice banking (VB) untuk menciptakan suara sintetis yang dipersonalisasi atau personalised synthetic voice (PSV), yang sejatinya adalah suara alami seseorang (Costello, 2016). Suara ini nantinya dapat digunakan pada perangkat komunikasi, yang sering disebut komunikasi augmentatif dan alternatif. Melalui VB, pihak bank dapat memberikan manfaat kepada nasabah dalam hal kecepatan, kepraktisan, dan waktu.