Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Bank BPD Bali: BUMD Penyumbang Dividen untuk Pembangunan di Pulau Dewata

Bank BPD Bali telah memantapkan posisinya sebagai ujung tombak perekonomian di Pulau Dewata dan menjadi BUMD yang berkontribusi besar baik dari sisi aset, profit, dan pengembangan UMKM.

Oleh Ranu Arasky Lubis
Direktur Utama Bank BPD Bali I Nyoman Sudharma

Direktur Utama Bank BPD Bali I Nyoman Sudharma

Meski Bali sempat menjadi wilayah yang paling parah menderita akibat pandemi Covid-19, namun kini kondisi ekonomi Bali semakin tangguh. 

Di balik itu semua, ada peran besar yang membuat perputaran ekonomi di Bali menjadi kuat. Tidak lain adalah berkat andil dari BUMD, utamanya Bank BPD Bali. Bank BPD Bali berupaya menopang aktivitas bisnis masyarakat dan menjalankan program-program dari Pemerintah Daerah (Pemda). 

Direktur Utama Bank BPD Bali I Nyoman Sudharma mengungkapkan, Bank BPD Bali berkontribusi pada peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) lewat layanan digital perbankan kepada Pemda dan masyarakatnya. Bahkan, Bali menjadi daerah percontohan untuk tingkat program digitalisasi daerah di mana penerimaan daerah lebih banyak dari digitalisasi. 

Sudharma menjelaskan, digitalisasi PAD Bali berasal dari pungutan wisatawan, pajak daerah, Samsat daerah, e-retribusi pariwisata, termasuk Pajak Galian C. “Pemerintah Daerah Bali menjadi Tim Percepatan dan Peningkatan Digitalisasi Daerah [TP2DD] terbaik. Dimana Pemerintah Kota Denpasar dan Pemerintah Kabupaten Buleleng termasuk kedalam tiga besar. Kami berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten/Kota untuk mengoptimalkan digitalisasi dana desa serta pencairan/pembayaran nontunai sehingga belanja daerah ke vendor di masing-masing desa dapat dimaksimalkan.” terangnya saat ditemui oleh Infobank baru-baru ini. 

Selain berkontribusi terhadap PAD, Bank BPD Bali juga menyumbang dividen yang besar untuk mendukung belanja daerah bagi pembangunan Bali. Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Bank BPD Bali memutuskan untuk membagikan dividen tahun buku 2024 sebesar Rp658,84 miliar. Angka ini meningkat dibanding pembagian dividen tahun sebelumnya yang sebesar Rp553,67 miliar. 

“Bank BPD Bali adalah BUMD yang menjadi sumber daya ekonomi daerah. Kami menyumbang di atas 95%. Tahun ini kami membagikan dividen sebesar Rp658 miliar. Hal tersebut nantinya akan mengalir ke daerah dan untuk pembangunan serta perputaran ekonomi,” jelasnya. 

Besarnya dividen yang dibagikan tersebut berasal dari keberhasilan perseroan dalam mengakselerasi aktivitas bisnisnya. Dalam setahun terakhir, Bank BPD Bali sukses mencatatkan kinerja yang solid. Perseroan berhasil mengantongi laba bersih Rp878,46 miliar, atau tumbuh 19% secara tahunan (year on year/yoy) dari periode sama tahun sebelumnya Rp738,23 miliar. 

Menurut Sudharma, pertumbuhan laba didongkrak dari sejumlah faktor seperti meningkatnya penyaluran kredit, optimalisasi dana murah, dan pendapatan bunga non kredit yang berasal dari treasury. 

Di sisi penyaluran kredit, Bank BPD Bali telah mengucurkan Rp22,83 triliun per Desember 2024, dimana angka ini naik 7,94% dibandingkan tahun sebelumnya. Komposisi penyaluran kreditnya didominasi sektor produktif seperti pertanian, akomodasi, makanan, dan transportasi (Akmamin) serta pariwisata yang mencapai 56,76% dari total portofolio kredit, naik dibandingkan tahun sebelumnya yaitu 54,34%. 

“Untuk UMKM kami berfokus kepada kredit KUR. Pertama, karena ATMR-nya lebih kecil. Kedua, recovery resikonya lebih cepat karena ada penjaminan. Jadi, minimal 70% dana sudah kembali dan NPL bisa turun lebih cepat,” jelasnya. 

Di sepanjang 2024, penyaluran kredit kepada debitur UMKM mencapai Rp11,68 triliun atau 51,29% dari total kredit yang disalurkan. Adapun Kredit Usaha Rakyat (KUR) mencapai Rp1,93 triliun. 

Jika dilihat berdasarkan sub sektor, penyaluran kredit produktif untuk pariwisata didominasi daerah Denpasar, Badung, dan Gianyar, sedangkan 6 kabupaten lainnya terkonsentrasi produk KUR pertanian. Di luar kredit KUR, Bank BPD Bali juga memberikan program graduasi KUR dengan bunga single digit bagi nasabah UMKM yang sudah naik kelas. 

“Kredit Kusuma termasuk kedalam kredit komersil dengan bunga di bawah 9%. Porsinya kira-kira Rp900 miliar dan selama dua tahun NPL Kusuma 0%, karena nasabah kredit ini sudah melewati KUR graduasi,” bebernya. 

Derasnya penyaluran kredit itu juga berjalan serempak dengan upaya bank dalam menjaga kualitas kredit di mana rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) gross di Desember berada di level 0,92, sedangkan NPL net sebesar 0,02. Sementara rasio Cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) Bank BPD Bali dibandingkan NPL sudah di atas 500%. 

Berpijak dari meningkatnya penyaluran kredit pada tahun lalu, Sudharma menargetkan dapat bertumbuh 8-9% pada tahun 2025, mengingat pertumbuhan ekonomi Bali sudah semakin baik. 

“Di tahun 2025 kita menargetkan pertumbuhan kredit tumbuh 9%. Recovery pariwisata kita semakin bagus. Di luar itu tentunya turunan sektor pariwisata pasti akan hidup. Sehingga kita memang harus bisa memberikan penetrasi yang lebih kuat, untuk mencegah penurunan market share,” jelasnya. 

Sejalan dengan upaya untuk terus menggenjot kredit, Bank BPD Bali juga berhasil meningkatkan sisi pendanaannya. Hingga Desember 2024, dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 15,10% yoy menjadi Rp32,16 triliun dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp27,94 triliun. Di akhir tahun 2024, CASA Bank BPD Bali berada di level 70,80%.

“Di 2025 kita menargetkan kredit tumbuh 9%. Recovery pariwisata kita semakin bagus. Kita harus bisa memberikan penetrasi yang lebih kuat, untuk menghindari penurunan market share,” 

I Nyoman Sudharma Direktur Utama Bank BPD Bali

Sudharma mengatakan, porsi CASA yang besar disebabkan semakin tingginya kepercayaan masyarakat atas kinerja Bank BPD Bali. Hal ini tidak terlepas dari komitmen pemegang saham yang terus mendorong masyarakat luas, kontraktor, serta pegawai pemerintahan maupun swasta untuk menggunakan produk dan layanan Bank BPD Bali. 

“Pemerintah Daerah selaku pemegang saham di Bank BPD Bali sangat aktif memberikan edukasi dan literasi kepada masyarakat. Ditambah dengan adanya digitalisasi daerah serta ekosistem APBD yang terintegrasi dengan kami menjadi salah satu faktor pendukung peningkatan penggunaan produk jasa dan layanan kami.” jelasnya.

 

Kredit di Sektor Prioritas

Capaian kinerja positif yang ditorehkan Bank BPD Bali telah membuktikan perannya sebagai agent of development yang berkontribusi dalam mendukung agenda-agenda pembangunan Pemerintah Daerah, baik dari sisi fungsi intermediasi, digitalisasi PAD, hingga penyertaan modal. 

Dalam memantapkan posisi bisnisnya ke depan, Sudharma menyatakan bahwa Bank BPD Bali akan siap mendukung program-program yang dijalankan pemerintah dalam bentuk fasilitas kredit dan pemberdayaan. Salah satunya ialah program transformasi ekonomi “Kerthi Bali” dengan enam sektor penunjang ekonomi. 

Enam sektor itu mencakup sektor pertanian dengan sistem pertanian organik, sektor kelautan dan perikanan, sektor industri manufaktur dan industri berbasis budaya Bali, sektor industri kecil menengah (IKM), UMKM dan koperasi, sektor ekonomi kreatif dan digital, dan terakhir sektor pariwisata. 

“Jadi kedepannya kami akan optimalkan enam subsektor ekonomi Kerthi Bali yang sudah dicanangkan dahulu. Enam subsektor ekonomi Kerthi Bali itu menjadi fondasi dasar untuk ekonomi Bali ke depan,” ucapnya. 

Dalam menjaga bisnisnya agar tetap sustain, Sudharma menambahkan bahwa Bank BPD Bali akan tetap fokus memperkuat sektor-sektor prioritas yang mendapatkan Insentif Giro Wajib Minimum (GWM), seperti UMKM.

Insentif GWM yang diberikan Bank Indonesia (BI) kepada Bank BPD Bali pada akhir tahun lalu mencapai 4% lantaran gencar memberikan pembiayaan untuk sektor prioritas. 

“Ini menjadi buffer kami di tahun-tahun berikutnya. Rasio CAR kami sudah di atas industri, sekarang di 27% dengan modal inti hampir Rp4,5 triliun. Tentunya ini yang kiranya akan kami optimalkan untuk memperkuat pembiayaan pada UMKM,” pungkasnya. 

Sebagai bentuk apresiasi atas keberhasilannya, tahun ini Majalah Infobank kembali memberikan penghargaan peringkat pertama di ajang “TOP BUMD 2025” untuk kategori KBMI 1 dengan Modal Inti Rp6-14 triliun. Prestasi yang prestisius tersebut menandakan bahwa Bank BPD Bali memang tidak main-main dalam menjaga keberlanjutan usahanya dan membangun ekonomi dari dalam.  

Di balik itu semua, ada peran besar yang membuat perputaran ekonomi di Bali menjadi kuat. Tidak lain adalah berkat andil dari BUMD, utamanya Bank BPD Bali. Bank BPD Bali berupaya menopang aktivitas bisnis masyarakat dan menjalankan program-program dari Pemerintah Daerah (Pemda). 

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi Maret 2025

Rp 65.000

BELI