Ekonomi ultramikro adalah ekonomi perempuan. Dari 63 juta pelaku usaha ultramikro, mayoritas adalah perempuan. Mereka lebih resilience dalam menghadapi badai krisis keuangan. Di segmen badan usaha besar, banyak wanita berhasil meraih puncak. Dari 1.928 kursi direksi di 489 lembaga keuangan dan BUMN, ada 362 kursi atau 18,78% yang diduduki kaum wanita. Dari 1.602 kursi komisaris, 224 kursi atau 13,98%-nya diduduki kaum wanita. Mereka duduk di sektor jasa keuangan, perusahaan pelat merah, hingga lembaga publik.
Kegiatan literasi oleh Otoritas Jasa Keuangan dan Infobank 2024; Agar kaum perempuan lebih berdaya untuk menopang ekonomi keluarga.
Ekonomi Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Kepercayaan pasar yang merosot membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk 6,12% ke angka Rp6.076,081 pada perdagangan sesi I per 18 Maret 2025, hingga perdagangan ditutup sementara. Aksi jual besar-besaran investor tak hanya menghancurkan IHSG, tapi juga menaikkan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun yang menembus 7,025% atau naik dari perdagangan sehari sebelumnya yang di angka 6,99%.
Nilai tukar rupiah terus amblas hingga menembus Rp16.580 per US$1 sampai tulisan ini dibuat pada 19 Maret 2025. Itu nilai terendah setelah terjadinya krisis moneter 1998 yang mencapai titik Rp16.650 per US$1. Dibandingkan dengan posisi awal 2024 yang sebesar Rp15.390 per US$1, nilai tukar rupiah merosot 7,21%.
Para pelaku bisnis pun nelangsa, terutama sektor manufaktur yang menerima dua pukulan. Satu, beban biaya yang naik karena bahan baku impor. Dua, penjualan yang menurun karena lemahnya permintaan pasar. Kelas menengah yang menentukan market demand, jumlahnya sudah merosot 10 juta orang selama lima tahun terakhir.
Di berbagai obrolan informal kelompok intelektual dan kelas menengah, mereka sudah waswas bakal terulang krisis moneter seperti 1998. Rendahnya kepercayaan makin meningkatkan permintaan mata uang dolar Amerika Serikat (US$) dan emas, yang harga keduanya telah melambung. Sementara, fiskal menghadapi tekanan. Per Februari, anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) defisit Rp31 triliun dan pajak anjlok 30%.
Menurut Nailul Huda, Ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios), pemerintah harus lebih waspada menyikapi perkembangan kondisi makro-ekonomi dan sektor riil yang terus diwarnai gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK). “Kebijakan yang diambil pemerintah pun tidak mencerminkan upaya pemulihan ekonomi. Kebijakan Undang-Undang (UU) Cipta Kerja hingga pelemahan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) yang dilakukan oleh pemerintahan Joko Widodo, dampaknya sekarang sangat terasa. Kebijakan Presiden Prabowo juga sama, seperti efisiensi anggaran hingga elpiji 3 kilogram, menunjukkan ketidakpekaan kepemimpinan terhadap nasib rakyatnya,” ujarnya kepada Infobank, Maret lalu.
Sementara, Poppy Amalia, psychologist and micro expression expert, mengatakan bahwa ada fenomena fraktal yang tandatandanya mirip seperti sebelum krisis moneter 1998. Bukan hanya dilihat dari mata uang rupiah yang anjlok, tapi juga model kepemimpinan dan pembangunan politik yang mirip seperti era Orde Baru.
“Kita semua berdoa agar kejadian krisis moneter tidak berulang kembali ya. Tapi, situasi ini kalau diukur dengan konsep fraktal kelihatan memiliki kemiripan di berbagai skala,” ujarnya kepada Infobank, sebelum menjadi pembicara seminar “Economy Outlook 2025” yang digelar Infobank Media Group bersama Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), Februari lalu.
Tsunami PHK diprediksi bakal berlanjut. Pada tiga bulan pertama 2025, sudah ada 38 pabrik tutup. Salah satunya, Sritex yang memiliki lebih dari 10.000 pegawai. Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia menyebutkan, sebanyak 44,069 ribu buruh terkena PHK pada JanuariFebruari 2025. Kementerian Tenaga Kerja pun mencatat angka PHK terus membengkak dari 25.114 orang pada 2022, 64.855 orang pada 2023, dan 77.965 orang pada 2024. PHK makin menekan daya beli masyarakat yang berpengaruh pada kinerja sektor riil.
Selain menciptakan rantai kemiskinan baru, PHK besar-besaran kerap menjadikan perempuan sebagai korban pertama. Sebab, industri padat karya umumnya banyak mempekerjakan kaum perempuan. Misalnya, Sritex yang memiliki pegawai perempuan dengan porsi 55%. Surutnya industri manufaktur yang diiringi dengan pengurangan tenaga kerja membuat persentase tenaga kerja perempuan berkurang dari 39,19% pada 2019 menjadi 36,32% pada 2024, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS).
António Guterres, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), juga pernah mengatakan demikian. “Perempuan 24% lebih rentan kehilangan pekerjaan dan mengalami penurunan pendapatan yang lebih tajam. Kesenjangan upah berdasarkan gender yang sudah tinggi, akan melebar ketika krisis,” ujar António dalam pidatonya saat masih terjadi pandemi COVID-19, pada 2021.
Namun, wanita biasa mengambil peran saat ekonomi diterpa badai krisis. Ketika keuangan korporasi ambruk, keuangan keluarga menjadi perhatian agar masyarakat bisa bertahan hidup di tengah impitan krisis. Contohnya, pelaku usaha ultramikro yang menjadi nasabah Mekaar di Permodalan Nasional Madani (PNM), yang justru tumbuh agresif selama pandemi COVID-19. Jumlahnya bertambah dari 6 juta pada 2019 menjadi 7,90 juta pada 2020, lalu naik menjadi 10,8 juta pada 2021 dan 13,82 juta orang pada 2022.
Nasabah Mekaar adalah nasabah unbankable bahkan unfeasible yang mayoritas adalah kaum perempuan. “Jumlah nasabah aktif, termasuk ULaMM (segmen mikro), di PNM itu 97% perempuan, dan kalau khusus nasabah Mekaar saja 100% perempuan dengan usia produktif,” kata Arief Mulyadi, Direktur Utama PNM, kepada Infobank, bulan lalu.
Saat ini, jumlah nasabah Mekaar telah menembus 15,4 juta, yang dikelompokkan dalam 890.000 kelompok di 7.500 kecamatan di seluruh Indonesia. Sedangkan, secara akumulatif, PNM telah melayani 21,9 juta nasabah mikro dan ultramikro.
Begitu juga nasabah ultramikro BTPN Syariah yang mencapai 7 juta nasabah dan semuanya adalah wanita.
Ekonomi ultramikro adalah ekonomi perempuan. Sebab, segmen ultramikro yang diisi kaum wanita berada di piramida badan usaha paling bawah (the bottom of pyramide). Porsinya mencapai 98% dari 64 juta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia, dengan daya serap sebesar 89% dari total tenaga kerja dan menyumbang 37,35% dari produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Karena salah satu tantangan yang dihadapi ultramikro adalah tidak adanya jaminan untuk mendapatkan pembiayaan, negara melakukan intervensi lebih masif, terutama dalam mengatasi krisis keuangan.
WOMENOMICS DAN ENAM KARAKTERISTIK
Menurut Goldman Sachs, womenomics adalah tentang kontribusi perempuan terhadap angkatan kerja dan peluang untuk partisipasi yang lebih besar dalam perekonomian. Kendati kerap menghadapi diskriminasi gender dan dianggap sebagai makhluk yang lembut, perempuan sangat resilience dalam menghadapi kesulitan. Mereka juga lebih mudah meraih dukungan sosial, lebih fleksibel dalam beradaptasi, dan mudah membangun jaringan.
Saat badai krisis menerpa, perempuan lebih resilience sehingga bisa segera menjadi motor penggerak ekonomi keluarga dengan melakukan pekerjaan informal. Perempuan bisa menciptakan peluang usaha kecil, seperti membuat kue, menjahit kebutuhan lokal, menjual jasa cuci gosok, atau mengolah sumber daya yang ada untuk bertahan hidup. Makanya, pelaku usaha ultramikro dan mikro di dunia pun didominasi kaum perempuan.
Menurut Dewi Nuzulianti, Direktur BTPN Syariah, perempuan yang berdaya akan membuat keluarga berdaya dalam situasi apa pun. “Kunci bagi perempuan ultramikro untuk resilience dalam situasi apa pun adalah dengan memberikan mereka akses keuangan dan pembiayaan serta pengetahuan melalui pendampingan yang berkelanjutan serta akses suplai dan pasar,” ujarnya kepada Infobank. BTPN Syariah adalah bank swasta yang fokus membidik kaum wanita di segmen ultramikro.
“Kunci bagi perempuan ultramikro untuk resilience dalam situasi apa pun adalah dengan memberikan mereka akses keuangan dan pembiayaan serta pengetahuan melalui pendampingan yang berkelanjutan serta akses suplai dan pasar,”
Dewi Nuzulianti, Direktur BTPN Syariah.
Menurut kajian Biro Riset Infobank (birI) bertajuk “500 Most Outstanding Women 2025”, peran wanita dalam perekonomian atau womenomics terlihat dari enam hal berikut.
Satu, partisipasi dalam pasar tenaga kerja. Menurut data BPS per Februari 2024, ada 21,98 juta wanita yang bekerja di sektor formal atau 33,52% dari jumlah tenaga kerja. Di sektor jasa, perempuan berperan sebagai tenaga kerja di sektor pariwisata, perawatan kesehatan, pendidikan, dan sektor jasa lainnya. Bahkan, lapangan kerja informal di segmen ultramikro mayoritas diisi kaum wanita. Di badan usaha besar juga telah terbukti bahwa makin banyak perempuan yang bisa mengambil kesempatan dan berkarier hingga jenjang yang tinggi.
Menurut Azizatun Azhimah, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Perum LPPNPI, perbedaan gender tidak menunjukkan mana yang lebih pantas untuk meraih kesempatan kerja dan sukses dalam karier. “Bukan karena gender pria atau wanita untuk bisa mendapatkan pekerjaan dan kesempatan berkarier. Justru wanita memiliki keunikan untuk mendukung kemajuan dalam berkarier,” tutur mantan Direktur Utama BRI Finance ini kepada Infobank, bulan lalu.
“Bukan karena gender pria atau wanita untuk bisa mendapatkan pekerjaan dan kesempatan berkarier. Justru wanita memiliki keunikan untuk mendukung kemajuan dalam berkarier,”
Azizatun Azhimah, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Perum LPPNPI.
Dua, partisipasi dalam kepemimpinan organisasi. Di dunia, posisi tertinggi kepemimpinan negara mulai dipegang wanita ketika Sirimavo Bandaranaike menjadi Perdana Menteri Sri Lanka pada 1960, kemudian terus berkembang di 62 negara. Saat ini, ada 11 negara yang dipimpin oleh wanita. Bila ditambah lagi dengan kaum wanita yang duduk di kursi kabinet, legislatif, dan lembaga publik lain, jumlahnya tentu lebih banyak lagi. Menurut PBB, perempuan menempati seperempat dari anggota legislatif nasional di seluruh dunia, sepertiga dari anggota pemerintah daerah, dan hanya seperlima dari menteri kabinet.
Di Indonesia, ada sederet wanita yang menduduki kursi kepemimpinan institusi publik, seperti Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan. Di jajaran Anggota Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) ada Destry Damayanti, Filianingsih, dan Aida S. Budiman. Sementara, di jajaran Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ada Friderica Widyasari Dewi dan Sophia I. Wattimena.
Jumlah wanita tangguh lebih banyak lagi jika ditambah daftar wanita yang duduk di kursi kepemimpian korporasi. Dari 1.928 direksi yang bekerja di 489 perusahaan di sektor jasa keuangan dan lingkungan badan usaha milik negara (BUMN), 18,78%-nya atau 362 orang adalah wanita. Sedangkan, yang duduk di kursi dewan komisaris sebanyak 224 wanita. (Lihat Tabel: Porsi Wanita di Kursi Direksi dan Komisaris)
Di bidang perbankan, di antaranya ada Lani Darmawan yang memimpin Bank CIMB Niaga, Meliza M. Rusli di kursi Direktur Utama PermataBank, Alexandra Askandar sebagai Wakil Direktur Utama Bank Mandiri, Parwati Surjaudaja yang menakhodai Bank OCBC NISP, dan Vera Eve Lim yang menjadi Direktur Bank Central Asia (BCA) bersama Lianawaty Suwono. Di dunia asuransi ada Juliati Boddhiya yang menjadi orang nomor satu di Asuransi Central Asia (ACA) dan Nina Ong yang memimpin Great Eastern Life Indonesia.
Sementara, di industri multifinance ada Lynn Ramli yang menakhodai Bussan Auto Finance dan Matilda Esther Rotinsulu yang menjadi Direktur Astra Sedaya Finance. Di bidang pembayaran ada Gretel Griselda yang duduk sebagai CEO ALTO Network dan Siti Hidayati yang menjadi Direktur Artajasa Pembayaran Elektronis.
Sedangkan, di perusahaan pelat merah, di antaranya ada Maya Watono yang memimpin Aviasi Pariwisata Indonesia, Tri Andayani yang menakhodai Pelayaran Nasional Indonesia, Dwina Septiani Wijaya di kursi Direktur Utama Perum PERURI, dan Asih Kurniasari Komar yang menjadi Direktur Pos Indonesia.
Menurut Indah Kurniawati, Anggota Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), kaum wanita bisa mengambil kesempatan untuk berprestasi dan mendapatkan pengakuan, kepercayaan, serta kehormatan. “Saya melihat struktur untuk relasi gender yang dianggap patriarkis di Indonesia itu telah berubah menjadi egaliter. Artinya, kita semua mendapatkan kesempatan dan perlakuan yang sama. Saya pun tidak pernah merasa didiskriminasi di mana pun saya berada, baik itu perbankan, ekonomi, olahraga, budaya, dan politik,” ungkapnya kepada Infobank, Maret lalu.
“Kita semua mendapatkan kesempatan dan perlakuan yang sama. Saya pun tidak pernah merasa didiskriminasi di mana pun saya berada, baik itu perbankan, ekonomi, olahraga, budaya, dan politik,”
Indah Kurniawati, Anggota Komisi XI DPR.
Tiga, partisipasi dalam memproduksi barang dan jasa. Bahkan, mereka berkontribusi penting dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat dan kewirausahaan. Misalnya, Dewi Kam yang memiliki saham di PT Bayan Resources dan dikenal sebagai salah satu dari 10 orang terkaya di Indonesia. Ada pula Marina Budiman, pendiri PT DCI Indonesia dan Catherine Hindra Sutjahyo, pendiri Zalora Indonesia yang kini menjadi salah satu pemegang saham sekaligus Presiden Layanan On-Demand Gojek Indonesia.
Kaum wanita juga mendominasi kegiatan di segmen UMKM. Sebanyak 64,50% UMKM diisi pengusaha wanita. Begitu juga dari sisi tenaga kerja yang lebih banyak kaum wanita ketimbang pria di UMKM, termasuk yang bekerja di sektor informal. Di segmen mikro dan ultramikro, porsinya lebih besar lagi. “Perempuan lebih fokus pada kebutuhan prioritas. Seperti para nasabah Mekaar di PNM yang memprioritaskan kebutuhan pengembangan usaha untuk mendukung terciptanya penghasilan tambahan bagi keluarga,” kata Triswahyu Herlina, Direktur PNM, kepada Infobank, Maret lalu.
“Perempuan lebih fokus pada kebutuhan prioritas. Seperti para nasabah Mekaar di PNM yang memprioritaskan kebutuhan pengembangan usaha untuk mendukung terciptanya penghasilan tambahan bagi keluarga,” Triswahyu Herlina, Direktur Perencanaan Strategis dan Keuangan PNM.
Empat, partisipasi dalam konsumsi, yang merupakan salah satu mesin penggerak PDB di Indonesia dengan kontribusi sekitar 53%. Dalam ekonomi, terutama dari sisi pengeluaran, perempuan memiliki peran penting karena menjadi pengelola sekaligus pengambil keputusan dalam pembelian. “Perempuan itu umumnya lebih bijak dalam mengelola uang, mengutamakan pengeluaran yang esensial, sehingga keputusan untuk melakukan pembelian banyak dilakukan oleh perempuan,” ujar Vera Eve Lim kepada Infobank.
“Perempuan itu umumnya lebih bijak dalam mengelola uang, mengutamakan pengeluaran yang esensial, sehingga keputusan untuk melakukan pembelian banyak dilakukan oleh perempuan,”
Vera Eve Lim, Direktur Keuangan BCA.
Lima, partisipasi dalam pengelolaan keuangan. Didukung budaya yang berkembang, bahwa wanita memiliki hak memegang uang atas penghasilan suami, maka wanita memiliki peran penting dalam mengatur keuangan, membuat anggaran, melakukan belanja rutin, menabung, dan berinvestasi. Dalam kondisi kepepet, wanita biasanya lebih pintar mengatur uang.
OJK pun sudah mengajak industri jasa keuangan untuk terus mengedukasi kaum perempuan pelaku UMKM. “Agar makin banyak ibu-ibu lebih pandai mengelola keuangan, bagaimana memisahkan antara keuangan untuk bisnis dan keuangan keluarga, sehingga bisnisnya bisa terus berkembang,” ujar Friderica Widyasari Dewi, Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen merangkap Anggota Dewan Komisioner OJK, dalam kegiatan literasi keuangan yang digelar OJK bersama Infobank, belum lama ini. Menurutnya, perempuan pelaku UMKM telah mendukung upaya pemerataan ekonomi sehingga perannya harus terus ditingkatkan.
“Agar makin banyak ibu-ibu lebih pandai menge lola keuangan, bagaimana memisahkan antara keuangan untuk bisnis dan keuangan keluarga, sehingga bisnisnya bisa terus berkembang,”
Friderica Widyasari Dewi, Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen merangkap Anggota Dewan Komisioner OJK.
Enam, partisipasi dalam modal sosial (social capital). Kaum wanita, terutama ibu-ibu, sering menjadi sasaran utama penerima bantuan sosial, seperti Program Keluarga Harapan dan bantuan sembako. Namun, kaum wanita juga banyak berperan dalam melakukan kegiatan bernilai sosial, seperti membantu menghadapi musibah ataupun pemberdayaan ekonomi rakyat. Kaum perempuan pun banyak melakukan pekerjaan yang tidak dibayar, terutama pekerjaan di sektor informal. Bahkan, secara global, porsi perempuan dalam pekerjaan yang tidak dibayar cukup tinggi. Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menyebutkan, jumlah hari yang dihabiskan untuk bekerja secara total, baik yang dibayar maupun tidak dibayar, lebih tinggi perempuan daripada laki-laki di sebagian besar negara di dunia.
Itu sejalan dengan kenyataan bahwa perempuan terbiasa melakukan pekerjaan sebagai ibu rumah tangga yang tidak mendapatkan hasil secara keuangan. Statistik menunjukkan, ada 33% wanita Indonesia yang fulltime sebagai ibu rumah tangga (fulltime housewife). Sedangkan, perempuan yang merangkap sebagai ibu rumah tangga sekaligus pekerja (working mom) mencapai 77%.
Dengan rela melakukan pekerjaan tanpa dibayar, wanita menunjukkan keunikan dan nilai tersendiri. Wanita adalah makhluk yang unik hingga banyak stigma atau mitos melekat padanya. Namun, banyak wanita sukses menjadi female leaders yang multitasking sekaligus menepis stigma lama yang menempatkan perempuan sebagai makhluk yang lemah dan hanya dibutuhkan untuk urusan dapur, sumur, dan kasur. Juga, banyak wanita berhasil menjadi woman leaders bertangan dingin sekaligus menepis anggapan Louann Brizendine, penulis buku The Female Brain, yang menyebutkan wanita adalah makhluk “cerewet”. Katanya, wanita mengeluarkan sekitar 20.000 kata dalam sehari, sedangkan pria hanya sekitar 7.000 kata.
Nilai tukar rupiah terus amblas hingga menembus Rp16.580 per US$1 sampai tulisan ini dibuat pada 19 Maret 2025. Itu nilai terendah setelah terjadinya krisis moneter 1998 yang mencapai titik Rp16.650 per US$1. Dibandingkan dengan posisi awal 2024 yang sebesar Rp15.390 per US$1, nilai tukar rupiah merosot 7,21%.