Tiga BUMN karya mening galkan semen dan batu bata. Bim salabim, disulap jadi petani, nelayan, dan juragan sawit lewat Agrinas! Semoga tak tersesat di rimba birokrasi dan bisnis yang saling tumpang tindih dengan BUMN lain.
Sumber: Infobank
Pemerintahan Prabowo Subianto tampaknya bakal all out mewujudkan ambisi swasembada pangan. Prabowo menginstruksikan pem bentukan Agrinas, badan usaha milik negara (BUMN) di sektor pangan, perkebunan, dan perikanan, untuk menopang target swasembada pangan. Tak mainmain, Prabowo sampai menggelar rapat pemben tukan Agrinas dengan jajaran menteri Kabinet Merah Putih pada akhir Maret lalu.
Agrinas adalah hasil transformasi tiga BUMN karya. Presiden Prabowo pun sudah menandatangani tiga peraturan pemerintah (PP) terkait perubahan bisnis tiga BUMN karya, yakni Virama Karya menjadi Agrinas Jaladri Nusantara, Yodya Karya menjadi Agrinas Pangan Nusantara, dan Indra Karya menjadi Agrinas Palma Nusantara.
Untuk mendorong peningkatan kapasitas bisnis Agrinas, pemerintah akan menyiapkan suntikan modal hingga Rp8 triliun. Sementara ini, sumber pendanaan masih simpang siur. Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan penyertaan modal negara (PMN) untuk Agrinas bukan anggaran baru, melainkan alokasi anggaran yang sudah masuk APBN 2025. Ada juga alternatif lain, yakni dari Danantara, seperti disampaikan Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas).
“Agrinas itu ‘kan nanti akan jadi bagian Danantara. Itu (PMN) mung kin tidak dari Kementerian Keuangan. Nanti kita lihat dividen yang kita terima dari BUMN ini. Jadi, kami analisis dan sesuai kriteria kita. Pada intinya, kami Danantara sebagai induk Agrinas kami diminta selaras kan semua kegiatan agar sesuai dengan visi misi pencipta lapangan kerja, dan melihat hal itu sebagai hal yang positif,” jelas Zulhas, akhir Maret lalu.
Transformasi BUMN karya ini bukan tanpa tantangan dan risiko. Kebutuhan PMN berpotensi membebani APBN di tengah kondisi f iskal yang tertekan. Dari sisi operasional bisnis, Agrinas juga berpotensi tumpang tindih dengan BUMN lain di sektor perkebunan dan pangan. Indonesia sudah memiliki Perkebunan Nusantara III sebagai Holding BUMN Perkebunan. Sedangkan, di sektor pangan, ada Holding BUMN Pangan (ID FOOD).
Satu tantangan utama bagi BUMN karya yang disulap mengurusi bidang pangan ini adalah ketidaksesuaian kompetensi sumber daya manusia (SDM). Dengan kata lain, harus ada penyesuaian dari sisi SDM. Baik dengan melakukan rekrutmen talentatalenta baru yang sesuai dengan kebutuhan maupun melaku kan reskilling atau upskilling SDM existing. Penyesuaian ini tentu mem bu tuhkan waktu dan biaya tidak sedikit.
Di lain sisi, pengamat BUMN dari Next Indonesia, Herry Gunawan, mengatakan, potensi tumpang tindih peran Agrinas dengan BUMN lain cukup tinggi. Sebut saja dengan Perum Bulog dan ID FOOD di sektor pangan, dan PTPN Group di sektor perkebunan.
Herry menyebut ada dua opsi yang bisa diambil pemerintah untuk menekan potensi overlapping antar BUMN tersebut. Pertama, dilebur atau merger. Peleburan bisa dilakukan sesuai dengan sektornya masingmasing. Kedua, perusahaan perusahaan itu tetap dijalankan, tapi dengan model bisnis yang berbeda.
“Untuk yang kedua, menurut saya, sebaiknya Agrinas masuk ke pengolahan (processing) dan hilir. Sementara, untuk perkebunan misalnya, hulunya seperti perke bun an dan produksi hasil perkebunan biar ditangani oleh PTPN. Kemudian, untuk pangan, ditangani oleh Bulog, apalagi mengingat Bulog masih perum yang fokus pada fungsi sosial dan stabilisasi harga.
Dengan begitu, key performance indicator (KPI) masingmasing perusahaan makin jelas. Sebab, tumpang tindih itu membuat ekonomi kita berbiaya tinggi,” papar Herry kepada Infobank, April lalu. Dengan begitu, lanjut Herry, KPI masingmasing perusahaan akan makin jelas. Makanya, ia menyaran kan Agrinas tetap masuk ke sektor komersial, terutama fokus di pengolahan dan hilir. Untuk penugasan (public service obligation/PSO) biarkan ditangani Bulog.
“Yang dilakukan sekarang, dengan mengelola kebun (Agrinas Palma Nusantara), itu juga tumpang tindih dengan PTPN. Tapi, kalau Agrinas ada di pengolahan dan produk hilir, kehadirannya akan makin bermanfaat karena mengisi kekurangan kita,” tegas Herry.
Sementara, dari perspektif yang berbeda, dosen agribisnis Institut Pertanian Bogor (IPB), Prima Gandhi, menyebut, kebijakan pemerintah melakukan merger tiga BUMN itu adalah wujud konkret komitmen Indonesia memproduksi kelapa sawit berkelanjutan. Langkah pemerintah Indonesia untuk menertibkan kebun kelapa sawit ilegal dinilai sudah pada jalur yang benar (on the track).
“Menurut saya, langkah awal usaha tani sektor hulu yang dilakukan oleh Agrinas Palma Nusantara berupa mengklasifikasi kebun kelapa sawit hasil penyitaan yang dilaku kan Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) yang dinilai ilegal sudah on the track dan mem perbaiki citra Indonesia di mata dunia terkait kesungguhan untuk memproduksi sawit yang ramah lingkungan,” jelas Gandhi, Maret lalu.
Gandhi menegaskan, Agrinas Palma Nusantara wajib meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil kebun kelapa sawit sitaan agar dapat memberikan nilai tambah bagi negara. Oleh sebab itu, Agrinas harus melakukan kolaborasi dengan masya rakat sekitar kebun, dan mengutama kan perekrutan tenaga kerja lokal. Ini sekaligus menjadi bentuk pemberdayaan masyarakat.
Perusahaan baru ini juga diharapkan bisa menjalin kolaborasi dengan perguruan tinggi akademik atau vokasional pertanian, untuk meningkatkan efisiensi biaya pengelolaan kebun kelapa sawit sitaan. Seperti diketahui, Agrinas Palma Nusantara akan menge lola kebun sawit hasil sitaan. Saat ini, sebanyak 221.000 hektare kebun sawit eks Duta Palma sudah disita negara dan diserahkan ke Agrinas. Ada lebih dari 700.000 hektare lahan sawit ilegal sedang dalam sengketa. Lahanlahan itu juga rencananya akan dikelola Agrinas. Berkat lahan sitaan ini, Agrinas menjadi pemain baru sekaligus salah satu yang terbe sar di industri sawit Tanah Air.
Sementara, Agrinas Pangan Nusantara akan fokus pada produksi bahan pangan berkarbohidrat tinggi, berupa padi hingga ubi. Selain itu, perusahaan yang dulunya fokus sebagai consultant engineering ini akan membangun fasilitas rice milling unit (RMU) atau jenis mesin penggilingan beras ataupun jagung. Adapun Agrinas Jaladri Nusantara ditugaskan menggarap proyek 20.000 hektare lahan budi daya ikan.
Terlepas dari itu, dari sisi kinerja, tiga BUMN karya yang sekarang disulap menjadi Agrinas memang tidak begitu menonjol, karena size nya juga tidak besar. Berdasarkan data Biro Riset Infobank (birl) pada 2023, dari ketiga BUMN tersebut, dua di antaranya membu ku kan pertumbuhan laba positif. Laba Virama Karya naik 5,30% menjadi Rp21,08 miliar. Sedang kan, Yodya Karya menca tatkan lonjakan laba hingga 644,50% atau menjadi Rp158,75 miliar. Adapun laba Indra Karya tumbuh 28,85% menjadi Rp13,27 miliar. Ketiga BUMN itu tercatat meng alami pertumbuhan minus dari sisi liabilitas. Sedangkan, pendapatan usaha tercatat tumbuh solid. Pendapatan usaha Virama Karya naik 22,56% dan Yodya Karya tumbuh 20,43%. Sebaliknya, pendapatan Indra Karya terkoreksi tipis 2,42%.
Agrinas adalah hasil transformasi tiga BUMN karya. Presiden Prabowo pun sudah menandatangani tiga peraturan pemerintah (PP) terkait perubahan bisnis tiga BUMN karya, yakni Virama Karya menjadi Agrinas Jaladri Nusantara, Yodya Karya menjadi Agrinas Pangan Nusantara, dan Indra Karya menjadi Agrinas Palma Nusantara.