Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Daya Kreatif Bangsa

Oleh MUDJI SUTRISNO SJ.
Penulis adalah Guru Besar STF Driyarkara, Dosen Pascasarjana UI, Dosen Pascasarjana ISI Solo, & Budayawan

Penulis adalah Guru Besar STF Driyarkara, Dosen Pascasarjana UI, Dosen Pascasarjana ISI Solo, & Budayawan

Kita baru saja mengalami dengan jelas sekali bahwa daya kreatif bangsa bersumber pada keragaman atau kebinekaan yang kaya dengan locus genius; alam; budaya lokal serta kekhas an penyangga kehidupan daerah yang maritim; agraris petani pedalaman; hutan raya; pantai kota kota pesisir; serta budaya budaya lokal Nusantara.

Kekayaan keragaman yang oleh Denys Lombard ditelusuri sebagai sikap bangsa yang mampu merajut lapislapis seleksi yang terus merekatkan dari budaya alam asli lalu menyerap Hindu dan Buddha; kemudian nilai nilai Islam; diteruskan Tiongkok dengan perda gang an serta pem-Baratan pertama Portugis-Spanyol dan pem-Baratan kedua yaitu oleh Belanda yang semula berdagang lalu menjadi kolonial.

Kekuatan keragaman ditentukan oleh ada atau tidak ruang bagi masyara kat Nusantara ini untuk merajut secara merdeka kebinekaan menjadi pere kat identitas bersama yang menghargai perbedaan. Keunikan identitas-identitas lokal, lalu konsensus untuk suatu tekad mengIndonesia bertolak dari masyarakat majemuk, yang dengan perjanjian kontrak merdeka mau mewujudkan Indonesia yang merdeka, pluralis, dengan kepastian hukum dan keadaban dalam suatu konsensus negara yang demokratis. 

Nilai konsensus yang sejajar antar-identitas-identitas lokal yang sadar membentuk Indonesia bersatu ini nyata tahap tahapnya. Yaitu, identitas Indonesia bersatu untuk merdeka lalu setelah merdeka mau bertekad untuk sejahtera, adil, dan beradab. 

Namun, justru ketika politik identitas dipaksa kan secara sentralistis, otoriter, dan penyeragaman, kemudian dirumuskan atas nama bangsa untuk ekonomisasi dengan jargon pembangunan (yang mengisap daerah dan menggelembungkan keserakahan pusat); di sana krisis memercayai sesama sebangsa untuk mengIndonesia mengalami pecah beretak retak. Ekonomisasi yang menaruh nilai uang dan materi sebagai nomor satu disertai politik kekerasan menjaga kesatuan persatuan yang diseragamkan telah membuat daya kreatif bangsa menjadi mandul, karena ruang kreasi merdeka berkonsensus untuk kreatif dimatikan diganti politik birokratisasi sentralistis dan otoriter dengan kawalan senjata dan pembungkaman kritik serta beda pendapat. Ini lah yang terjadi 32 tahun berselang.

Dua pengalaman tragis mendekati kehancuran ini untung saja berkat gerakan mahasiswa, kaum muda, dan magma rakyat yang meledak kritis anarkis untuk tidak mau ditipu dan dibodohi, akhirnya meminta lagi kedaulatannya un tuk dikembalikan ke tangan rakyat.

Rakyat akan mengadili sendiri dan dengan cara nya sendiri ketika hukum disalahgunakan penguasa. Pun kalau mandat yang diberikan diselewengkan dalam KKN, daya kreatif bangsa (atau rakyat) berubah menjadi gerakan massa menagih janji yang dalam ledakan-ledakan kemarahan menjadi magma amok yang meminta legitimasi pilihan mereka sebagai satu-satunya pengabsah, yaitu rakyat yang berdaulat. Krisis kita memang sekaligus tragis berlapislapis dan tumpang tindih, sehingga dua atau tiga pilihan amat terbatas harus dibuat kalau Indonesia baru tidak mau jatuh dalam krisis yang menghancur kan. 

Perbaikan ekonomi yang amat mendesak dan harus cepat hasilnya bisa dirasakan oleh rakyat banyak yang lapar harus menjadi tindakan riil kebijakan. Dan, itu tak boleh dihambat oleh birokrasi, konsolidasi antara Menko Ekuin, Menteri Keuangan, dan jajaran lapangan manakala bertabrakkan dengan pilihan nilai partisipasi super kompromi dari menterimenteri kabinet dipegang demi merajut rekonsiliasi.

Pulihnya kredibilitas dan ketenangan relasi bersesama harus dirawat. Bukan dengan janji-janji menghukum tindakan tindakan pelanggaran HAM, melainkan dengan tindakan nyata supremasi hukum untuk keadilan dan penghentian semua politik kekerasan, sekaligus pema kaian rasa sakit, terluka dan trauma dari sudut para korban dengan tindak riil, pembebasan semua tapol dan napol yang tidak boleh diperlamalama oleh DPR.

Hanya dengan mencer mati dan melakukan aksi aksi rekonsiliasi terhadap butirbutir tersebut, Indo nesia baru akan menapak pelanpelan ke depan. Ketika koreksi, oposisi, dan gerakan moral kritik harus terus merawat reformasi, pilihan amat terbatas dan momentum waktu juga amat mendesak untuk keputusan-keputusan moral penting, agar daya kreasi bangsa kembali diberi kondisi dan ruang budaya kemerdekaan agar mampu berkreasi dan berproduksi merawat kehidupan berbangsa. Semoga!

 

Kekayaan keragaman yang oleh Denys Lombard ditelusuri sebagai sikap bangsa yang mampu merajut lapislapis seleksi yang terus merekatkan dari budaya alam asli lalu menyerap Hindu dan Buddha; kemudian nilai nilai Islam; diteruskan Tiongkok dengan perda gang an serta pem-Baratan pertama Portugis-Spanyol dan pem-Baratan kedua yaitu oleh Belanda yang semula berdagang lalu menjadi kolonial.

Kekuatan keragaman ditentukan oleh ada atau tidak ruang bagi masyara kat Nusantara ini untuk merajut secara merdeka kebinekaan menjadi pere kat identitas bersama yang menghargai perbedaan. Keunikan identitas-identitas lokal, lalu konsensus untuk suatu tekad mengIndonesia bertolak dari masyarakat majemuk, yang dengan perjanjian kontrak merdeka mau mewujudkan Indonesia yang merdeka, pluralis, dengan kepastian hukum dan keadaban dalam suatu konsensus negara yang demokratis. 

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi Mei 2025

Rp 65.000

BELI