Belum ada produk di keranjang belanja kamu

I Nyoman Supartha, Direktur Utama BPR Hasamitra

Doa Ibu Membuka Seribu Pintu Jalan

Perjalanan bankir BPR satu ini adalah kisah tentang tekad, kerja keras, dan terutama kekuatan doa sang ibu yang menjadi cahaya abadi dalam hidupnya. Dibesarkan dalam keterbatasan, ia tak hanya berhasil membangun karier di dunia perbankan, tapi juga menanamkan nilai-nilai luhur dan integritas dalam setiap langkahnya.

Oleh Mohammad Adrianto Sukarso
I Nyoman Supartha; doa dan kasih sayang ibu

I Nyoman Supartha; doa dan kasih sayang ibu

Doa ibu adalah pelita dalam gelap. Menyala diam-diam, tapi sanggup menerangi jalan sejauh mata memandang. Dalam doa yang sunyi itu tersimpan kekuatan yang bisa mengangkat siapa pun melampaui keterbatasan. Doa itu pula yang mengantar I Nyoman Supartha dari lorong sempit kehidupan menuju puncak dunia perbankan.

Kini, ia menjabat sebagai Direktur Utama BPR Hasamitra, salah satu bank perekonomian rakyat (BPR) terbesar di Indonesia, yang berlokasi di Makassar, Sulawesi Selatan. Di balik jabatan prestisius itu, ada perjalanan panjang dan tidak mudah. Bukan sekadar kisah tentang kerja keras dan ketekunan, tapi juga tentang cinta, harapan, dan keberanian seorang ibu yang rela mempertaruhkan segalanya demi masa depan sang anak.

Nyoman lahir di Denpasar pada 22 Desember 1963, sebagai anak ke-11 dari 14 bersaudara. Hidup dalam keluarga besar dengan ekonomi terbatas membuat masa kecilnya penuh perjuangan. Ayahnya adalah petani garap yang penghasilannya pas-pasan. Sementara, ibunya berdagang di pasar dan tak jarang menjual sedikit demi sedikit aset keluarga Sejak usia dini, Nyoman telah terbiasa membantu orang tuanya. Salah satu kenangan yang melekat adalah ketika ia harus menjajakan kue subuh-subuh, bahkan sebelum masuk taman kanak-kanak menjual sedikit demi sedikit aset keluarga agar dapur tetap mengepul.

Sejak usia dini, Nyoman telah terbiasa membantu orang tuanya. Salah satu kenangan yang melekat adalah ketika ia harus menjajakan kue subuh-subuh, bahkan sebelum masuk taman kanak-kanak (TK). Mengenakan seragam sekolah, ia berkeliling dari rumah ke rumah, mengandalkan suara kecilnya untuk memanggil para pembeli. sekolah, ia berkeliling dari rumah ke rumah, mengandalkan suara kecilnya untuk memanggil para pembeli.

“Saya ikut berdagang kue pagi-pagi sekali. Dari subuh sampai jam setengah tujuh pagi, kemudian langsung masuk sekolah. Karena itu, saya pakai baju sekolah TK waktu jualan. Itu juga ada bagusnya. Orang jadi kasihan, sehingga dagang annya cepat laris,” ujar Nyoman, kepada Infobank, bulan lalu.

Meski lelah dan harus membagi waktu antara bekerja dan belajar, Nyoman tidak pernah mengeluh. Ia tahu, pendidikan adalah satu satunya jalan keluar dari kemiskinan. Selepas SMA, dengan semangat mengubah nasib, ia mencoba masuk Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia/Akabri (kini Akademi TNI) di Magelang. Namun, kegagalan dalam seleksi penerimaan menjadi batu sandungan pertama yang harus ia hadapi.

Sekembalinya ke kampung halaman, Nyoman hendak mencoba lagi peruntungan di dunia militer. Tapi, ibunya, sosok yang selama ini menjadi penyokong diam-diam dalam hidupnya, menolak keras.

“Saya minta izin ibu saya untuk ikut masuk Akabri (lagi), tanpa ikut tes. Tapi, ibu saya tidak mau. Dia bilang ‘kuliah saja kamu’. Saya bertanya, dari mana uangnya. Lalu, dia bilang, ‘pokoknya kuliah. Saya pertaruhkan apa pun untuk kamu. Kamu satu-satunya yang saya bisa bantu untuk jadi sarjana’,” kisahnya dengan mata berkaca-kaca.

Ibunya tidak hanya melarang, tapi juga bertaruh dengan apa pun yang mereka miliki agar Nyoman bisa kuliah. Akhirnya, ia menempuh pendidikan di Fakultas Ekonomi Universitas Pendidikan Nasional (UPN) Denpasar. Sambil kuliah, ia tak henti bekerja. Ia sempat menjadi akuntan lepas, agen asuransi, dan staf di kantor kas bank kecil. Semuanya dijalani demi satu tujuan: mengangkat derajat keluarga.

Perjalanan karier profesionalnya dimulai dari Bank Aken, tempat ia bekerja selama tujuh tahun. Di sana, ia mendaki tangga karier dari staf kliring hingga menjadi kepala cabang. Namun, krisis moneter menghantam dan bank tempatnya bekerja dibekukan oleh regulator. Meski sempat gamang, Nyoman tak menyerah. Pada 1999, ia bergabung dengan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), lembaga yang dibentuk untuk menyelamatkan perbankan Indonesia dari krisis.

Kariernya terus menanjak, dan nama Nyoman mulai dikenal luas di dunia perbankan mikro. Hingga suatu hari, sebuah tawaran besar datang: menjadi direktur utama di sebuah bank rural yang baru akan berdiri di Makassar, Sulawesi Selatan, yakni BPR Hasamitra.

Keputusan untuk hijrah dari Bali ke Sulawesi bukan hal mudah. Orang tuanya, terutama ibunya, berat melepas kepergiannya. Tapi, Nyoman sudah bulat tekadnya. Sebelum ia pergi, ibunya hanya memberikan dua pesan yang akan terus ia bawa seumur hidup.

“Jangan pernah ambil hak orang lain, dan percayalah bahwa tempat terbaik adalah tempat di mana kamu berpijak sekarang,” ucap sang ibu, yang menjadi kompas moral dalam hidupnya.

Bersama BPR Hasamitra, Nyoman membangun dari nol. Namun, hanya dalam waktu singkat, bank ini pun memelesat. Dalam dua bulan pertama sudah mencetak keuntungan. Sebuah capaian yang membuat Bank Indonesia (BI) menjulukinya sebagai “Bayi Ajaib dari Timur”.

“Kenapa disebut bayi ajaib? Karena, bank ini baru lahir sudah bisa berlari. Biasanya, bank baru pasti rugi dulu. Tapi ini, dua bulan langsung cuan,” jelas Nyoman.

Hingga akhir 2024, BPR Hasamitra mencatat aset Rp2,38 triliun, menjadikannya salah satu BPR terbesar di Indonesia. Di bawah kepemimpinan Nyoman, bank ini bukan hanya tumbuh secara bisnis, tapi juga dalam nilai dan etika.

Ia selalu menekankan pentingnya tata kelola perusahaan yang baik. Bagi Nyoman, integritas bukan hanya jargon, tapi napas dari kepemimpinan itu sendiri. Ia pun menanamkan budaya kerja kolektif, dengan semangat kekeluargaan dan komitmen tinggi.

“Kami sudah sepakat dengan tim, kalau kami menentukan target itu secara terukur dan mudah dicapai. Target dasarnya dari bawah. Tinggal membangun semangat. Keberhasilan kami semua karena kerja sama tim. Karena, sinergi kami itu kompak,” tegasnya.

Di sela kesibukannya, Nyoman tetap menjaga sisi humanisnya. Ia gemar menyanyi dan menikmati waktu bersama keluarga. Dalam dirinya, kepemimpinan bukan soal posisi, tapi tentang pengaruh dan keteladanan.

Kisah hidup Nyoman Supartha adalah gambaran bagaimana seseorang bisa menyalakan harapan dari sumbu yang nyaris padam. Dari lorong sempit masa kecil, hingga cahaya terang kesuksesan, ia tidak pernah lupa dari mana ia berasal.

Dan, sepanjang jalan itu, ada satu hal yang tak pernah padam: doa seorang ibu. Doa yang sederhana, namun mampu menjadikan seorang anak tak hanya berhasil, tapi juga menjadi terang bagi sekelilingnya.

 

Kini, ia menjabat sebagai Direktur Utama BPR Hasamitra, salah satu bank perekonomian rakyat (BPR) terbesar di Indonesia, yang berlokasi di Makassar, Sulawesi Selatan. Di balik jabatan prestisius itu, ada perjalanan panjang dan tidak mudah. Bukan sekadar kisah tentang kerja keras dan ketekunan, tapi juga tentang cinta, harapan, dan keberanian seorang ibu yang rela mempertaruhkan segalanya demi masa depan sang anak.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi Mei 2025

Rp 65.000

BELI