Pemimpin wanita ini memiliki jejak karier yang panjang di industri teknologi dan finansial. Seperti Kartini yang melampaui batasan di zamannya, ia menginspirasi dengan visi dan komitmen kuat terhadap kemajuan. Baginya, kepemimpinan bukan hanya soal jabatan, tetapi juga sebuah proses untuk memanusiakan sesama, yang berlandaskan integritas dan keterbukaan.
Sumber: Infobank
Siang itu, Kamis, 24 April 2025, Gretel Griselda, Chief Executive Officer (CEO) PT Alto Network (ALTO) – perusahaan penyelenggara infrastruktur sistem pembayaran (PIP) dan pelopor solusi pembayaran di Indonesia – menyambut tim Infobank dengan senyum hangat dan penuh percaya diri, di ruang kerjanya, di lantai 36 Menara BCA, Jakarta. Kala itu, wanita yang akrab disapa Gretel ini mengenakan kebaya berwarna peach sederhana.
Dia terlihat sangat elegan. Seperti penjelmaan Kartini yang hidup di masa kini. Lembut dalam penampilan, kokoh dalam kepemimpinan. Dan, seperti Kartini yang meretas sekat-sekat di zamannya, Gretel pun menantang batas di industri teknologi dengan visi dan pijakan yang teguh pada kemajuan.
Baginya, kepemimpinan bukan hanya soal posisi, tetapi juga proses memanusiakan manusia. Terlebih, menurutnya, seorang leader harus memegang erat sikap keterbukaan dan integritas. Terutama, nilai integritas untuk bisa menghasilkan keputusan yang logis dan objektif, yang di saat bersamaan dapat selaras dengan hati nurani.
“Saya percaya semua orang bisa profesional. Tapi, ketika kita juga memiliki kepedulian terhadap sesama, pekerjaan akan terasa lebih bermakna. Saya pun percaya bahwa selama kita melakukan sesuatu dengan niat baik, logis, dan bertanggung jawab untuk jangka panjang, maka itu sudah benar,” katanya.
Prinsip-prinsip kepemimpinan itu dipelajari Gretel dari sang ayah yang juga seorang leader di tempatnya bekerja. Anak bungsu dari dua bersaudara ini kerap diajak ikut melihat ayahnya bekerja saat kecil. Dari situ, nilai-nilai kepemimpinan mulai terekam di memori otaknya.
“Sejak kecil, saya sering diajak ayah ke tempat kerja dan melihat bagaimana beliau memimpin timnya. Bahkan, ketika saya sudah bekerja, ayah saya masih sering menjemput saya pulang, menanyakan hal-hal yang saya alami di kantor. Beliau selalu mengatakan bahwa suatu hari saya akan menjadi atasan. Jadi, saya harus belajar dari pengalaman saat menjadi karyawan, baik itu pengalaman menyenangkan maupun tidak,” tutur wanita kelahiran Jakarta, 39 tahun lalu ini.
Selain itu, gaya kepemimpinan Gretel terbentuk dari berbagai mentor, mulai dari atasan, rekan sejawat, bahkan timnya sendiri. Menariknya, posisi CEO bukanlah mimpi masa kecilnya. Dulu, Gretel ingin menjadi penulis.
“Tapi, waktu ikut tes bakat, ternyata hasilnya saya enggak cocok jadi penulis,” ujarnya sambil tertawa ringan, mengenang masa-masa pencarian jati diri. Gretel akhirnya memilih untuk membuka lembaran baru dan menjatuhkan pilihan pada jurusan manajemen, bidang yang kala itu digandrungi banyak calon mahasiswa
“Manajemen itu ‘kan cukup generik, jadi saya merasa harus belajar banyak hal agar bisa melihat segala sesuatu dari berbagai sisi, walaupun enggak mendalam secara teknis. Dan, ada satu pesan dari ayah yang saya pegang teguh sejak awal. Semua orang bisa ambil manajemen, tapi tidak semua orang bisa jadi manajer yang baik,” ungkap peraih gelar sarjana ekonomi dari Universitas Pelita Harapan (UPH) ini.
Nasihat itu menjadi arah dalam perjalanan karier yang ditempuhnya. Hampir dua dekade sudah Gretel berkiprah di dunia finansial dan teknologi. Gretel pernah menjadi bankir di dua institusi perbankan ternama: Bank Central Asia (BCA) dan Bank Sahabat Sampoerna. Dari perbankan, langkahnya berlanjut ke dunia asuransi, bekerja di Futuready Insurance Broker (Aegon).
Titik balik terjadi saat Gretel bergabung dengan ALTO pada awal 2021, sebagai kepala divisi bisnis dan segmen. Kala itu, perusahaan masih sangat produk-sentris dan belum memiliki divisi bisnis yang solid. “Perubahan pertama yang saya lakukan adalah menggeser pendekatan menjadi client-centric atau solution-centric,” tambahnya. Perubahan demi perubahan ia dorong, hingga setahun kemudian ia dipercaya menjadi Direktur Bisnis ALTO, dan pada 2023 diangkat sebagai CEO.
Di balik peran strategisnya memimpin perusahaan teknologi, Gretel tetap menjaga ruang untuk hal-hal yang paling berarti dalam hidupnya. Ia adalah ibu dari dua putra, dan akhir pekan menjadi momen yang ia dedikasikan sepenuhnya untuk mereka. “Akhir pekan, saya usahakan habiskan waktu bareng anak-anak,” tuturnya sambil tersenyum.
Di sela rutinitas kerja dan urusan rumah, ia juga meluangkan waktu untuk dirinya sendiri. Membaca novel dan menonton film menjadi pelarian yang bukan sekadar hiburan, tapi juga caranya untuk memahami sudut pandang lain. “Saya suka novel komedi, romantis, thriller, apa saja. Dari situ saya belajar melihat dunia dari perspektif orang lain,” tukasnya. Ada satu pesan menarik dari Gretel untuk para wanita yang kini memegang peran sebagai pemimpin: jangan pernah menganggap rasa sebagai kelemahan. Menurutnya, wanita diberkahi dengan emosi yang lebih kaya, kemampuan untuk memimpin dengan empati, peduli, dan kepekaan terhadap sekitar.
Namun, kualitas itu juga perlu dibarengi dengan kedewasaan dalam memilah. “Kita (wanita) diberkati dengan emosi yang lebih kaya. Kita bisa memimpin dengan rasa, peduli, dan empati. Tapi, kita juga perlu belajar memisahkan emosi agar tidak tercampur dalam keputusan yang seharusnya logis,” ucapnya.
Dalam perjalanannya, Gretel pernah dihadapkan pada dilema menjadi pribadi yang tetap peduli tapi belajar “boxing”, atau menjauhkan emosi dan bersikap apatis demi profesionalisme. Ia memilih jalan pertama. Boxing yang ia maksud bukan tentang kerasnya sikap, tapi kemampuan memilah peran: kapan menjadi atasan, kapan sebagai teman.
Sebagai sosok di balik kemudi ALTO, Gretel bukan hanya membawa visi digital ke garis depan, tapi juga menghadirkan gaya kepemimpinan yang penuh empati dan makna. Ia tak sekadar mengejar posisi, tapi juga menciptakan ruang bagi tim, inovasi, dan masa depan industri pembayaran Indonesia yang lebih inklusif.
Dia terlihat sangat elegan. Seperti penjelmaan Kartini yang hidup di masa kini. Lembut dalam penampilan, kokoh dalam kepemimpinan. Dan, seperti Kartini yang meretas sekat-sekat di zamannya, Gretel pun menantang batas di industri teknologi dengan visi dan pijakan yang teguh pada kemajuan.