Salah satu yang menarik dari investasi saham seperti perbankan adalah tradisi membagikan dividen yang stabil dan berkelanjutan.
Sumber: Infobank
Pascalibur Lebaran 2025, pasar saham global dan domestik dikejutkan dengan pengumuman perang tarif 2.0 oleh Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump. Dampaknya luar biasa. Seiring dengan rontoknya pasar saham global, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok lebih dari 8% pada 8 April, memicu trading halt, kejadian langka yang tergolong black swan.
Saham perbankan, meski fundamentalnya kuat, tak luput dari tekanan. Bahkan, saham Bank Central Asia (BBCA) yang dikenal stabil, nyaris menyentuh auto reject bawah (ARB) dengan penurunan mendekati 15% dalam sehari. Saham bank-bank badan usaha milik negara (BUMN) besar, seperti Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Mandiri (BMRI), dan Bank Negara Indonesia (BBNI), juga terkoreksi tajam. Meski demikian, berkaca pada krisis sebelumnya, seperti 1998, 2008, dan 2020, koreksi ini justru menjadi peluang emas, mengingat umumnya “best day” dalam investasi terja di setelah “worst day”. Ketika penurunan dipicu sentimen negatif, bukan masalah fundamental, maka tindakan paling tepat bagi investor jangka panjang adalah membeli saat pasar panik karena saham perbankan dengan funda mental baik secara historis selalu pulih dan dapat melampaui harga tertingginya.
Salah satu yang menarik dari investasi saham seperti perbankan adalah tradisi membagikan dividen yang stabil dan berkelanjutan. Dividen yield yang dapat diharapkan dari sektor perbankan mencapai ratarata 4%, dan hal ini sudah lebih tinggi dari deposito. Namun, saat ini, setelah koreksi yang terjadi, dividen yield untuk saham perbankan BUMN bahkan di atas 8%. Sehingga, dalam hal harga tidak bergerak pun investor masih dapat menikmati dana kas hasil keuntungan bank.
Saat ini, terdapat 47 bank yang sahamnya tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Tentunya, untuk berinvestasi, tidak mudah bila investor secara terus menerus harus menganali sis dan memantau seluruh saham bank ini. Alternatif nya bisa mengacu pada indeks seperti infobank15 yang merupakan saham pilihan dengan fundamen tal dan likuiditas yang ba ik. Prospek jangka panjang sektor ini cerah, seiring dengan pertumbuhan eko nomi, permintaan kredit, dan potensi penguatan rupiah yang berkorelasi positif dengan kinerja perbankan.
Investor jangka pan jang bisa memanfaatkan peluang tersebut melalui indeks infobank15, yang baru saja mengalami rebalancing minor pada April 2025. Kini, porsi satu emiten bank dibatasi 20% sehingga empat bank besar: BBRI, BMRI, BBNI, dan BBCA, menyumbang 80% indeks. Rebalancing ini meningkatkan porsi sebagian besar bank, kecuali BBRI dan BBNI yang sedikit turun.
Untuk investasi pada indeks ini dapat dilakukan melalui reksa dana indeks yang meniru pergerakan infobank15. Setelah keja tuh an pada 8 April, investor memantau langkah langkah lanjutan, baik dari AS, Tiongkok, maupun pemerintah Indonesia sendiri.
Pascapanic selling investor pun kembali berani untuk berinvestasi karena valuasi yang sudah sangat murah. Bahkan, reksa dana berbasis infobank15 rebound, melonjak 11% da lam seminggu, mengungguli kinerja indeks itu sendiri dan IHSG. Rebound ini menunjukkan kepercayaan investor pada funda mental kuat dan prospek cerah sektor perbankan. Ke depan, efek kejut dari tarif Trump diperkirakan mereda, dan saham perbankan yang dihold jangka pan jang tetap menarik, terutama dengan dividen besar.
Tentunya, kinerja jangka pendek ini tidak dapat menjadi patokan akan terus berlanjut ke depan, tapi memberikan gambaran kecepatan rebound dari saham perbankan dan pengelolaan oleh manajer investasi dapat dimanfaatkan untuk memperoleh keuntungan. Pun demikian tentunya risiko bahwa saham perbankan kembali terkoreksi akan selaku ada dengan berbagai penyebab, investor investasi idealnya berjangka panjang dan salah satu mitigasi risiko ini adalah investasi secara berkala.
Dalam berinvestasi, analisis mendalam atas kinerja masing-masing bank diperlukan karena setiap bank memiliki segmen pasar berbeda. Diversifikasi juga penting untuk menge lo la risiko. Oleh karena itu, investor yang ingin berinvestasi di sektor keuangan tanpa mempelajari laporan keuangan tiap emiten secara detail dapat mengguna kan reksa dana indeks berbasis infobank15 sebagai pilihan praktis. Dengan strategi yang tepat, investor dapat memanfaatkan volatilitas jangka pendek untuk keuntungan jangka panjang.
Saham perbankan, meski fundamentalnya kuat, tak luput dari tekanan. Bahkan, saham Bank Central Asia (BBCA) yang dikenal stabil, nyaris menyentuh auto reject bawah (ARB) dengan penurunan mendekati 15% dalam sehari. Saham bank-bank badan usaha milik negara (BUMN) besar, seperti Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Mandiri (BMRI), dan Bank Negara Indonesia (BBNI), juga terkoreksi tajam. Meski demikian, berkaca pada krisis sebelumnya, seperti 1998, 2008, dan 2020, koreksi ini justru menjadi peluang emas, mengingat umumnya “best day” dalam investasi terja di setelah “worst day”. Ketika penurunan dipicu sentimen negatif, bukan masalah fundamental, maka tindakan paling tepat bagi investor jangka panjang adalah membeli saat pasar panik karena saham perbankan dengan funda mental baik secara historis selalu pulih dan dapat melampaui harga tertingginya.
Salah satu yang menarik dari investasi saham seperti perbankan adalah tradisi membagikan dividen yang stabil dan berkelanjutan. Dividen yield yang dapat diharapkan dari sektor perbankan mencapai ratarata 4%, dan hal ini sudah lebih tinggi dari deposito. Namun, saat ini, setelah koreksi yang terjadi, dividen yield untuk saham perbankan BUMN bahkan di atas 8%. Sehingga, dalam hal harga tidak bergerak pun investor masih dapat menikmati dana kas hasil keuntungan bank.