Ignasius Jonan adalah bankir senior, Menteri Perhubungan 2014-2016, dan Menteri ESDM 2016-2019.
Dunia kehilangan sosok teladan: Paus Fransiskus, yang meninggal dunia dalam usia 88 tahun, pada 21 April 2025. Saya bersyukur ditunjuk Presiden Republik Indonesia (RI), Prabowo Subianto, untuk mendampingi perwakilan tokoh Indonesia, yaitu mantan Presiden RI, Joko Widodo; Menteri Hak Asasi Manusia (HAM), Natalius Pigai; dan Wakil Menteri Keuangan, Thomas Djiwandono, untuk mengikuti acara pemakaman Paus Fransiskus yang dilakukan pada 26 April 2025.
Tulisan ini saya buat dalam perjalanan menuju Vatikan pada Kamis, 24 April 2025, karena saya sangat mengingat betul wasiat dan warisan penting dari Paus Fransiskus untuk dunia, terutama bagi para pemimpin. Mengapa pemimpin? Karena, menurut saya, pemimpin dengan kewenangan dan kekuasaannya adalah orang yang paling berpotensi menciptakan ketidakadilan dan peperangan. Sebaliknya, pemimpin yang bertanggung jawab dan tulus bekerja untuk kepentingan orang banyak adalah sumber dari keadilan, perdamaian, dan kemakmuran sebuah bangsa.
Paus Fransiskus lebih mengajak dunia pada universalitas dan secara aktif mendukung perdamaian, HAM, keadilan sosial, serta persaudaraan sebagai sesuatu yang sangat penting di tengah dunia yang terus dirundung konflik dan polarisasi. Sebagai pemimpin publik, Paus juga selalu memberikan contoh tentang pentingnya kesederhanaan dan fokus pada pelayanan publik, terutama bagi mereka yang paling rentan dan tertindas.
Pemimpin yang berorientasi pada keuntungan ekonomi umum nya ada dalam kepemimpinan bisnis (business leadership). Pemimpin bisnis mencari keuntungan dari pasar yang cenderung melakukan kegiatan yang tidak adil atau diskiriminatif karena hanya melayani mereka yang menjadi konsumen. Namun, apa jadinya kalau pemimpin publik memiliki paradigma yang berorientasi hanya pada kepentingan ekonomi? Maka, yang terjadi adalah ketimpangan, ketidakadilan, dan penyingkiran, seperti yang sering disuarakan Paus agar tidak terus dialami warga dunia.
Di dunia politik, para pemimpin yang mewakili kelompoknya berorientasi untuk meraih kekuasaan. Setelah meraih kekuasaan, maka dia harus menjadi pemimpin publik yang mesti mewakili kepentingan yang lebih luas. Tujuan berkuasa bukan untuk menguasai orang lain, seperti pesan Pope Francis, “You can not be in a Tapi, karena mewakili kepentingan publik, dia harus menekankan pada pelayanan publik.
Paus juga sangat menghormati politik seperti halnya agama. “Politics is the most important of the civil activities and has its own field of action, which is not that of religion,” ucapnya. Tapi, seperti agama, politik juga sebaiknya mampu melahirkan perdamaian. Karena, seperti pesannya, “Building peace is difficult but living without peace is torment.”
Tulisan ini saya buat dalam perjalanan menuju Vatikan pada Kamis, 24 April 2025, karena saya sangat mengingat betul wasiat dan warisan penting dari Paus Fransiskus untuk dunia, terutama bagi para pemimpin. Mengapa pemimpin? Karena, menurut saya, pemimpin dengan kewenangan dan kekuasaannya adalah orang yang paling berpotensi menciptakan ketidakadilan dan peperangan. Sebaliknya, pemimpin yang bertanggung jawab dan tulus bekerja untuk kepentingan orang banyak adalah sumber dari keadilan, perdamaian, dan kemakmuran sebuah bangsa.