Langkah Bank Mualamat untuk menjadi lebih baik tak pernah surut. Nakhoda baru membawa optimisme tinggi. Bank syariah pertama di Indonesia ini menyiapkan sejumlah strategi demi menghadapi tan tangan sekaligus mengoptimal kan peluang di masa depan.
Imam Teguh Saptono, Direktur Utama Bank Muamalat; menjadi bank yang sustain, sehat, dan memberi manfaat.
Bank Mualamalat memang tidak jadi dipinang Bank Tabungan Negara (BTN). Meskipun demikian, bank syariah tertua di Indonesia ini tidak “patah hati”. Sebaliknya, di bawah kendali manajemen baru, Bank Muamalat menyusun langkah-langkah strategis. Bank Muamalat percaya diri bisa terus bangkit, dan tumbuh lebih kuat.
Beberapa tahun terakhir menjadi periode krusial bagi Bank Muamalat. Setelah melalui tantangan permodalan yang membatasi ruang geraknya, hingga hadirnya Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) sebagai pemegang saham pengendali (PSP) – yang membawa angin perubahan – kini Bank Muamalat terus memperkuat fondasi dan menata ulang arah bisnisnya.
BPKH menyatakan komitmen kuat dalam men du kung proses pemulihan dan pertumbuhan Bank Muamalat. Hal itu diwujudkan dengan langkah-langkah memperkuat bisnis hingga permodalan. Harapannya, Bank Muamalat punya tenaga lebih besar untuk melakukan ekspansi bisnis sekaligus membukukan kinerja solid.
“Saat ini, BPKH sebagai PSP terus berupaya secara konsisten untuk mendorong Bank Muamalat agar dapat berkembang dan tumbuh lebih pesat. Hal ini tentu menjadi prioritas kami, karena makin besar dividen yang dihasilkan, makin besar pula manfaat yang dapat diberikan kepada para jemaah haji. Oleh karena itu, sebagai PSP, sudah menjadi kewajiban kami untuk mendorong pertumbuhan Bank Muamalat,” kata Kepala Badan Pelaksana BPKH, Fadlul Imansyah, kepada Infobank, Maret lalu.
Soal kinerja, Biro Riset Infobank (birI) mencatat, pada 2024, Bank Muamalat berhasil meraup laba Rp18,46 miliar, tumbuh 38,84% year on year (yoy). Raupan laba juga ditopang oleh terjadinya reprofiling dana yang ditandai dengan rasio CASA yang meningkat menjadi 53,78% di 2024 dari 47,81% di 2023.
Namun, di balik pencapaian laba, tantangan tetap membayangi. Fungsi intermediasi, terutama yang mencerminkan kemampuan bank menyalur kan pembiayaan ke masyarakat, menurun. Infobank mencatat tren penurunan pembiayaan Bank Muamalat rata-rata 9,92% per tahun selama 2021-2024. Artinya, bank ini masih membutuhkan langkah nyata untuk menggenjot pertumbuhan bisnisnya. Itu menjadi salah satu pekerjaan rumah (PR) yang harus diselesaikan manajemen Bank Muamalat.
Manajemen Bank Muamalat saat ini dinakhodai Imam Teguh Saptono sebagai direktur utama. Setelah tujuh setengah tahun berkecimpung di dunia filantropi, Imam kembali ke industri perbankan dengan membawa semangat baru. Kepada Infobank, Imam menyebut amanah ini sebagai tantangan sekaligus kehormatan besar dan spesial, karena ia bisa dipercaya memimpin bank syariah pertama di Indonesia, bank yang lahir dari aspirasi umat.
“Ini bukan sekadar tugas profesional. Bank Muamalat lahir dari aspirasi umat, dan saya merasa terhormat diberi kepercayaan untuk membersamainya,” ujarnya kepada Infobank, bulan lalu.
Dengan tingkat loyalitas nasabah yang tetap tinggi, dan rasio CASA konsisten di atas 50% selama 33 tahun perjalanan Bank Muamalat, Imam melihat potensi bank untuk tumbuh dan berkembang sangat besar. Bank Muamalat memiliki posisi yang istimewa dan brand value yang kuat di benak para nasabahnya.
Imam pun membawa visi menjadikan nilai-nilai maqashid syariah, yakni perlindungan iman, jiwa, akal, keturunan, dan harta (kesejahteraan), sebagai bagian dari indikator kinerja Bank Muamalat. Ke depan, di bawah kepemimpinannya, bankir yang menyandang gelar doktor manajemen dan bisnis ini ingin Bank Muamalat mampu memberi dampak tidak hanya secara finansial, tapi juga spiritual, sosial, dan keberlanjutan secara holistis. Hal ini ia sampaikan kepada Infobank pada Rabu, 23 April 2025, di Muamalat Tower, Jakarta.
Berikut petikan wawancara Infobank dengannya:
Jika melihat laporan kinerja keuangan setahun terakhir, laba Bank Muamalat mengalami kenaikan, dan di lain sisi pembiayaan justru menurun. Bisa dijelaskan, apa sumber utama pertumbuhan laba tersebut?
Pertama, reprofiling dana liabilities, yaitu mengalihkan dana mahal menjadi dana murah, atau melepas dana-dana mahal. Kedua, peningkatan fee based income, salah satunya dari bisnis bancassurance. Ketiga, pengendalian biaya operasional agar tetap flat atau menurun. Penurunan pembiayaan terjadi karena reposisi fokus dari segmen korporasi ke segmen ritel dan konsumer.
Kami melakukan reposisi portofolio ke segmen ritel untuk mengurangi ketergantungan pada pembiayaan berskala besar yang bergantung pada satu atau beberapa nasabah korporasi. Meski demikian, ini bukan berarti kami sepenuhnya meninggalkan segmen korporasi. Hanya mengurangi eksposurnya agar lebih seimbang dan berkelanjutan.
Jadi, butuh waktu untuk membangun kembali portofolio pembiayaan Bank Muamalat melalui segmen ritel. Namun, trennya mulai membaik. Per Maret 2025, pembiayaan sudah menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan posisi Desember 2024. Ini memberi sinyal positif untuk kinerja ke depan.
Menurut Anda, bagaimana peluang segmen ritel di industri perbankan syariah, khususnya di Bank Muamalat?
Peluang ritel di perbankan syariah berbeda-beda tergantung pada masing-masing bank. Namun, untuk Bank Muamalat sendiri, faktor pendorong ada dua. Pertama, sebagai upaya diversifikasi risiko. Kedua, untuk menyesuaikan dengan target segmen Bank Muamalat. Hal ini karena, dari sisi pendanaan, Bank Muamalat memiliki basis dana murah (CASA) yang kuat, yang menunjukkan bahwa mayoritas nasabah kami adalah individu atau ritel.
Efisiensi menjadi salah satu kunci pertumbuhan Bank Muamalat. Apakah strategi efisiensi ini akan terus dilanjutkan, atau ada pendekatan baru ke depannya?
Strategi efisiensi kami lakukan dengan menurunkan biaya per transaksi dan mengurangi jumlah absolut dari overhead. Namun, pengurangan overhead ada batasnya. Kami tidak bisa menutup cabang atau mengurangi jumlah karyawan secara drastis. Peran cabang digantikan kanal digital, terlihat dari lonjakan transaksi mobile banking Muamalat DIN yang tumbuh 32% menjadi 26,4 juta transaksi dengan volume Rp31,3 triliun, dan total pengguna mencapai 540.000 di akhir 2024. Untuk karyawan, kami melakukan redeployment dengan melatih dan memindahkan mereka dari back office ke front liners atau unit bisnis agar tetap produktif dan relevan.
Strategi apa yang akan diandalkan Bank Muamalat selain efisiensi untuk menjaga pertumbuhan laba?
Pertumbuhan laba ke depan akan difokuskan pada ekspansi pembiayaan. Saat ini, posisi Bank Muamalat menunjukkan ketidakseimbangan antara DPK dan penyaluran pembiayaan. Jumlah DPK jauh lebih besar dibandingkan dengan pembiayaan yang disalurkan sehingga financing to deposit ratio (FDR) kami relatif rendah dibandingkan dengan industri. Kondisi ini berdampak pada tingkat rentabilitas yang juga lebih rendah.
Maka, salah satu strategi utama ke depan adalah meningkatkan FDR melalui ekspansi pembiayaan, khususnya ke segmen consumer dan retail. Fokus sektornya meliputi pendidikan dan kesehatan, serta sektor-sektor yang memiliki komponen domestik tinggi dan rendah substitusi impor. Kami juga lebih selektif dalam membiayai sektor ekspor karena kondisi geopolitik saat ini.
Rasio BO/PO Bank Muamalat saat ini cukup tinggi. Bagaimana strategi menjaga rasio ini?
Tingginya rasio ini lebih disebabkan oleh rendahnya pendapatan operasional, bukan sekadar karena biaya. Kenapa pendapatan operasional masih rendah sehingga rasio BO/PO tinggi, itu karena earning asset engine kami saat ini masih di bawah normal. Artinya, PR Bank Muamalat ke depan adalah meningkatkan pendapatan operasional.
Pendapatan operasional itu pada dasarnya didorong oleh pembiayaan. Inilah yang harus kami kejar dalam beberapa tahun ke depan. Tetapi, cukup menantang di tengah tantangan ekonomi kini. Oleh karena itu, kami harus manuver. Salah satu caranya adalah menyasar produkproduk yang berbasis sosial, atau emotional-based market.
Bagaimana Bank Muamalat menjaga keseimbangan antara pertumbuhan laba, efisiensi, dan ekspansi pembiayaan di tengah kondisi global dan domestik yang menantang saat ini?
Bank Muamalat belum menargetkan bersaing langsung dengan pemain besar industri, melainkan fokus pada pencarian ceruk pasar baru yang dapat kami garap dengan keunggulan kami, yaitu brand value yang kuat. Saat ini, kami mencoba menyasar segmen social banking, yang mengusung prinsip maqashid syariah. Kami ingin membangun sebuah ekosistem di mana maqashid syariah menjadi relevan dan penting.
Strategi ini menekankan penguatan peran zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ziswaf) sebagai bagian dari ekosistem syariah. Ke depan, Bank Muamalat ingin menjadi pionir dalam segmen wakaf dan memosisikan diri sebagai social lifestyle bank melalui ekosistem haji, zakat, dan sektor halal. Saat ini, berbagai produk untuk mendukung strategi tersebut sedang kami desain dan siapkan.
Kekuatan Bank Muamalat adalah loyalitas nasabahnya. Bagaimana upaya mengoptimalkan kekuatan ini?
Sekarang saatnya Bank Muamalat kembali mendengarkan. Memahami alasan nasabah setia bertahan bersama kami. Tugas kami ke depan adalah melampaui harapan mereka, bukan sekadar memenuhinya. Karena nasabah-nasabah loyal ini adalah mereka yang sudah ikut jatuh bangun bersama Bank Muamalat.
Apa target jangka menengah yang ingin dicapai?
Saat ini, tujuan utama kami tidak lagi menjadi bank dengan aset terbesar. Fokus kami justru adalah menjadi bank yang sustain, sehat, dan mampu memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi nasabah. Manfaat ini tidak hanya dalam konteks finansial, tapi dalam arti luas. Impian kami adalah ketika orang menyebut bank syariah yang paling baik dalam menjalankan prinsip syariah, maka Bank Muamalat yang pertama terlintas di benak mereka. Mungkin kami bukan yang terbesar, tapi kami ingin menjadi bank yang paling nyaman bagi nasabah.
Untuk mewujudkan visi dan target tersebut, akan seperti apa Anda memimpin Bank Muamalat?
Saya selalu percaya, semuanya berawal dari people. Kami harus mulai dengan membangun martabat (dignity) dari setiap insan Bank Muamalat. Kami tanamkan makna bekerja, arah hidup, dan tujuan mereka bekerja. Intinya, mereka harus menemukan ‘why’ – kenapa mereka ada di Bank Muamalat. Kemudian, nilai-nilai perusahaan harus diwujudkan dalam tindakan nyata – seeing is believing.
Pelayanan terbaik ke nasabah harus dimulai dari bagaimana perusahaan memperlakukan karyawan. Kalau ingin dikenal sebagai bank yang caring, maka perusahaan pun harus caring terhadap karyawan. Hal ini kami wujudkan lewat inisiatif sederhana namun bermakna, seperti halalbihalal dengan oleh-oleh dan cerita dari kampung halaman. Intinya, nilai harus hidup, bukan bergantung pada angka atau bonus.
Banyak investor tertarik dengan Bank Muamalat. Bagaimana tanggapan Anda?
Kami akui bahwa dalam satu atau dua tahun ke depan, Bank Muamalat membutuhkan tambahan modal. Bisa saja berasal dari PSP saat ini, tetapi tidak menutup kemungkinan berasal dari investor strategis lainnya.
Dalam konteks ini, sangat mungkin muncul implikasi konsolidasi. Potensi dan peluang konsolidasi itu tetap ada, potensi kehadiran investor strategis masih terbuka. Sudah ada beberapa calon investor yang tertarik dengan Bank Muamalat, tapi masih dalam tahap penjajakan dan belum mengerucut ke satu nama. Jika sudah final, tentu akan disampaikan ke OJK. Namun, proses ini sepenuhnya menjadi domain PSP.
Apa pesan Anda untuk nasabah dan para pemangku kepentingan terkait arah dan komitmen Bank Muamalat ke depan?
Insyaallah, Bank Muamalat akan tetap konsisten pada khitahnya sebagai bank syariah pertama yang murni syariah. Ke depan, kami akan terus menjalankan bisnis perbankan tidak hanya berlandaskan pada indikator kinerja finansial (KPI), tapi juga mengedepankan tujuan syariah atau maqashid syariah sebagai parameter keberhasilan kami di masa mendatang.
Beberapa tahun terakhir menjadi periode krusial bagi Bank Muamalat. Setelah melalui tantangan permodalan yang membatasi ruang geraknya, hingga hadirnya Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) sebagai pemegang saham pengendali (PSP) – yang membawa angin perubahan – kini Bank Muamalat terus memperkuat fondasi dan menata ulang arah bisnisnya.