Bermula dari perdagangan kripto, teknologi blockchain kini mulai diadopsi oleh pelaku industri perbankan. Dorongan regulator disertai regulasi yang tepat membuat blockchain berpe luang membantu perbankan dalam meningkatkan keamanan dan transparansi bertransaksi.
Sumber: Infobank
Fase peralihan industri 4.0 menuju industri 5.0 menjadi anugerah bagi industri perbankan. Ibarat berkunjung ke restoran mewah, di masa-masa ini, para pelaku industri disuguhi berbagai “hidangan yang wah”, dalam bentuk teknologi paling mutakhir yang siap membantu mereka dalam menjalankan kegiatan operasionalnya.
Artificial intelligence (AI) mungkin bisa disebut sebagai “menu utama” dalam deretan inovasi teknologi di era digital. Kemampuan AI dalam memimik atau menirukan kecerdasan manusia telah mendampingi para bankir untuk melakukan beragam aktivitas, mulai dari menja ga keamanan, mencegah terjadinya fraud, credit scoring, sampai menjadi customer service dengan memanfaatkan layanan chatbot.
Selain AI, ada sejumlah “hidangan” lain yang juga bisa dicicipi untuk menyo kong perbankan dalam kegiatan yang berbeda. Ada robot yang dapat membantu menjalankan tugas repetitif, big data dengan kemampuan untuk mengolah data dalam skala besar, hingga cloud computing yang bisa memproses data secara virtual. Perbankan juga disu guhi menu baru berna ma block chain, sebuah teknologi yang awal nya digunakan di industri perdagangan aset kripto.
Konsep blockchain sejatinya telah diperkenal kan pada era 1990-an. Namun, teknologi ini baru terwujud pada 2008, dipelopori oleh pria ber nama Satoshi Nakamoto. Blockchain bisa dideskrip sikan sebagai buku besar digital terdesentralisasi yang menyimpan data transaksi secara aman dan transparan.
Mulanya, implementasi blockchain ditujukan untuk sistem pencatatan transak si dalam mata uang kripto Bitcoin. Kini, pemanfaatan blockchain mulai meram bah ke industri lain, terma suk perbankan. Pada 2017, Accenture, perusahaan layanan konsultasi mana jemen, menyebut bahwa penggunaan blockchain bagi perbankan mampu memangkas kebutuhan operasional dan perusa haan yang terlibat.
Berdasarkan hasil riset mereka, bank-bank yang menggunakan blockchain diproyeksikan mampu memangkas biaya transaksi sebesar 70%, dan mening katkan kepatuhan sebesar 50%. Perusahaan yang bertransaksi dengan bank juga mampu memangkas operasional sebesar 50%. Dengan demikian, proses nya lebih cepat, efisien, aman, dan transparan. Tidak heran jika kemudian bank-bank melirik teknolo gi ini.
“Blockchain, jika dija lankan secara end to end, akan memiliki banyak manfaat, baik bagi nasa bah, masyarakat, dunia usaha, perbankan maupun pemerintah/regulator. Karena, blockchain bisa menciptakan efisiensi dan transparansi, termasuk pemantauan AML serta KYC yang lebih detail, real time transaction, dan juga berguna untuk memini malisasi fraud,” terang Lani Darmawan, Direktur Utama Bank CIMB Niaga, kepada Infobank.
Beberapa bank manca negara sudah mulai meng adopsi teknologi ini. Mayoritas untuk keperluan bertransaksi. HSBC, Banco Santander, dan Standard Chartered adalah tiga contoh nama besar yang sudah mengimplementasi kan blockchain dalam bertransaksi di skala internasional.
Sejumlah bank dalam negeri juga ikut menjajal blockchain. Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Negara Indonesia (BNI), dan PermataBank menjadi tiga nama yang sudah menerapkan blockchain. Ke depan, tidak menutup kemungkinan makin ba nyak bank yang mengguna kan blockchain untuk memudahkan aktivitasnya.
Namun, perlu digaris bawahi bahwa blockchain masih tergolong baru di perbankan Indonesia, meskipun sudah diterap kan oleh beberapa pemain di industri. Dengan demi kian, booming penerapan blockchain di industri ini diperkirakan belum akan terjadi hingga beberapa tahun ke depan.
Pendapat tersebut dikemukakan Robby Bun, Ketua Umum Asosiasi Pedagang Aset Kripto Indonesia (ASPAKRINDO). Pemanfaatan blockchain oleh perbankan barulah masuk ke tahap eksplorasi. Blockchain akan makin ramai peminat seiring dengan berkembangnya inisiatif regulator dalam mengembangkan infra struktur digital perbankan.
“Asosiasi melihat tren adopsi akan makin meningkat, terutama seiring dengan inisiatif Bank Indonesia dalam pengem bangan Central Bank Digital Currency (CBDC) serta dorongan dari regulator untuk moderni sasi infrastruktur keuang an. Kolaborasi antara pelaku industri dan regula tor akan menjadi kunci agar pemanfaatan block chain dapat berkembang secara aman dan terarah,” jelas Robby kepada Infobank.
Poin terakhir menjadi sesuatu yang integral dalam skenario munculnya inovasi dan teknologi baru di industri keuangan. Agar teknologi bisa berkembang dengan baik, pemerintah dan regulator perlu mem per siapkan ekosistem di dalamnya agar mampu menghadapi gelombang baru perkembangan tekno logi. Padahal, teknologi ini mulai mencuat dalam beberapa tahun terakhir.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) selaku regulator mengaku bahwa mereka masih mendalami block chain di industri perbank an. Regulator menganggap, meskipun membawa ba nyak manfaat yang mem buat bank makin terdepan dari sisi infrastruktur digital, masih ada bebera pa aspek yang perlu diper hatikan sebelum bank bisa menggunakan blockchain secara masif. Risiko-risiko seperti pencucian uang, pembiayaan teroris, volatilitas pasar, dan pelindungan konsumen, menjadi perhatian utama.
Ini menjadi pekerjaan rumah bagi regulator. Di satu sisi, perlu adanya kajian yang komprehensif mengenai penggunaan blockchain pada industri ini. Namun, di lain sisi, jika tidak ada pergerakan dari pemangku kebijakan, maka ekosistem perbankan berpotensi kian tertinggal dalam pemakaian tekno logi ini.
“Hingga saat ini, tidak ada perkembangan besar yang terjadi terkait penerapan blockchain. Ada beberapa bank besar yang mencoba menerapkan teknologi ini untuk keamanan siber dan pelin dungan data. Namun, tidak ada yang akan berubah kecuali ada dorongan dari pemerintah atau regulator,” terang Jayaprakash Bharathan, Direktur Utama Bank of India Indonesia (BOII), kepada Infobank.
Masa depan blockchain di industri perbankan bukan soal apakah, melainkan kapan. Ketika semua elemen, mulai dari regulator, pelaku industri, sam pai dengan infrastruktur digital berjalan selaras, teknologi ini punya potensi besar untuk menjadi fondasi baru sistem ke uangan yang lebih efisien, transparan, dan aman.
Namun, selama kebijakan masih berada pada tahap observasi dan eksplorasi, momentum untuk bergerak lebih jauh bisa saja terlewat. Dan, dalam lanskap digital yang berge rak cepat, mereka yang terlambat mengambil posi si bisa tertinggal dalam perlombaan inovasi.
Artificial intelligence (AI) mungkin bisa disebut sebagai “menu utama” dalam deretan inovasi teknologi di era digital. Kemampuan AI dalam memimik atau menirukan kecerdasan manusia telah mendampingi para bankir untuk melakukan beragam aktivitas, mulai dari menja ga keamanan, mencegah terjadinya fraud, credit scoring, sampai menjadi customer service dengan memanfaatkan layanan chatbot.