Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Bank Aladin Syariah Menjemput Fajar

Bank Aladin Syariah berhasil melakukan turnaround signifikan setelah empat tahun mencatat kerugian. Keberhasilan ini didorong oleh penataan ulang strategi bisnis, efisiensi biaya, serta kemitraan strategis, seperti dengan Alfa Group. Ke mana langkah bank ini ke depan?

Oleh Ayu Utami Saraswati
Sumber : Infobank

Sumber : Infobank

LAKSANA mentari yang perlahan terbit setelah malam panjang yang membekukan harapan, Bank Aladin Syariah akhirnya menunjukkan cahaya setelah sempat rugi selama bertahun tahun. Dari langkah terseok-seok, kini bank digital syariah pertama di Indonesia ini mulai berjalan tegap menapaki jalan pemulihan dengan lebih percaya diri. 

Setelah mencatat rapor merah selama empat tahun berturut-turut, Bank Aladin Syariah akhirnya mampu mencatatkan laba bersih sebesar Rp33,47 miliar pada Maret 2025. Angka ini melonjak hingga 175,73% dibandingkan dengan posisi yang sama tahun sebelumnya yang masih mencatat kerugian sebesar Rp44,20 miliar. Bagi bank yang sempat berkubang dalam kerugian besar, keberhasilan mencetak laba positif itu bukan sekadar catatan keuangan, tetapi simbol titik balik menuju fase per tumbuhan yang lebih berkelanjutan. 

Kilas balik ke tahun-tahun sebelumnya, Bank Aladin Syariah pernah mengalami fase yang cukup berat. Pada 2021, bank ini membukukan rugi bersih Rp121,28 miliar. Situasi itu memburuk pada tahun berikutnya, dengan kerugian yang melonjak men jadi Rp264,91 miliar. Namun, sinyal keberhasilan pembenahan mulai tampak pada 2023, ketika kerugian berhasil ditekan menjadi Rp226,74 miliar dan terus menurun signifikan menjadi Rp73,73 miliar di akhir 2024. Bank Aladin Syariah Menjemput Fajar SHARIA INSIGHT 

Capaian ini tentu tak datang begitu saja. Di bawah nakhoda Koko T. Rachmadi selaku presiden direktur, Bank Aladin Syariah mengambil langkah-langkah strategis menyeluruh. Model bisnis yang sebelumnya tidak optimal mulai disesuaikan. 

Selain itu, efisiensi biaya dijalankan dengan ketat tanpa mengorbankan kualitas layanan, sementara manajemen risiko diperkuat untuk menjaga kualitas aset pembiayaan. Hasilnya, rasio efisiensi atau biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BO/PO) berhasil ditekan dari 428,40% pada 2021 menjadi 88,28% per Maret 2025. 

Namun, untuk benar-benar memahami transformasi ini, perlu ditarik lebih jauh ke akar sejarahnya. Bank Aladin Syariah memulai perjalanan panjangnya pada 1994 sebagai Maybank Nusa International, lalu berubah menjadi Bank Maybank Syariah Indonesia pada 2010. Transformasi besar terjadi saat Aladin Global Ventures bersama Berkah Anugerah Abadi mengambil alih bank ini pada 2019 dan mengubah namanya menjadi Bank Net Indonesia Syariah. 

Pada 2021, bank ini resmi melantai di bursa dengan identitas baru sebagai Bank Aladin Syariah, sekaligus memulai perjalanannya sebagai bank digital syariah. Dengan semangat pembaruan itu, Bank Aladin Syariah mengusung misi besar: menjadi pelopor bank digital berbasis prinsip syariah di Tanah Air. 

"Namun, karena statusnya sebagai bank baru, maka butuh modal atau investasi besar dan waktu dalam membangun fondasi bisnis. Wajar kalau di awal-awal Bank Aladin Syariah mengalami kerugian. Oleh karena itu, tahun pertama, kedua, dan ketiga, kami masih rugi,” ungkap Koko kepada Infobank, bulan lalu. 

Salah satu strategi jitu yang membawa Bank Aladin berhasil keluar dari tekanan adalah kemitraan strategis dengan Alfa Group. Kolaborasi ini memungkinkan bank ini untuk menjangkau ekosistem ritel sebagai bank baru, maka butuh modal atau investasi besar dan waktu dalam membangun fondasi bisnis. Wajar kalau di awal-awal Bank Aladin Syariah mengalami kerugian. Oleh karena itu, tahun pertama, kedua, dan ketiga, kami masih rugi,” ungkap Koko kepada Infobank, bulan lalu. yang luas, memperluas layanan secara signifikan tanpa harus membangun infrastruktur fisik yang mahal. 

Bank Aladin Syariah pun memilih pendekatan hybrid, menggabungkan kekuatan layanan digital dengan sentuhan fisik yang tetap relevan sehingga tetap dekat dengan pasar dan efisien secara biaya. Dengan demikian, Bank Aladin Syariah kini memiliki pijakan yang lebih kuat untuk menatap masa depan. Optimisme ini tak sekadar wacana. Dalam sejumlah indikator keuangan dan operasional, Bank Aladin Syariah menunjukkan peningkatan yang konsisten. 

 

Tiga Fokus Menjaga Keberlanjutan

 

RAPOR Bank Aladin Syariah kini sudah biru. Untuk menjaga keberlanjutan, bank ini telah mempersiapkan arah dan strategi yang lebih jelas dan terukur. Upaya tersebut diyakini akan menjadikan bank ini tidak hanya sebagai bank digital, tapi juga sebagai bagian dari gerakan keuangan syariah yang inklusif dan berkelanjutan. Seperti apa penjelasannya? Koko Tjatur Rachmadi, Presiden Direktur Bank Aladin Syariah, menjelaskannya kepada Infobank, Mei lalu. Petikannya: 

Apa faktor utama yang mendorong perbaikan kinerja Bank Aladin Syariah? 

Pertama, karena kami dapat momentumnya, di mana industri perbankan saat ini mendukung perkembangan ke arah digitalisasi. Kedua, walaupun kami sempat terkena dampak pandemi COVID-19, tapi secara makro, ekonomi Indonesia masih baik. Jadi, bisa dibilang Bank Aladin Syariah termasuk yang beruntung. Kami bersyukur bisa bertahan dan berkembang dengan baik. 

 

Bagaimana proyeksi laba Bank Aladin Syariah ke depan? 

Kami tetap berharap laba bisa tumbuh. Kalau menurut saya sebagai banker, harus tetap yakin dan optimistis. Yakin bahwa ekonomi Indonesia baik-baik saja. Masih ada pembangunan, konstruksi, aktivitas ekonomi. Meskipun ada situasi geopolitik, tetap harus optimistis. Tapi, optimisme juga harus disertai dengan wajah yang realistis dan tentunya kolaborasi. Ada tiga kuncinya: optimistis, realistis, dan kolaboratif. 

 

Apakah Bank Aladin Syariah murni menerapkan model digital dalam operasionalnya? Atau, ada Koko Tjatur Rachmadi, Presiden Direktur Bank Aladin Syariah Tiga Fokus Menjaga Keberlanjutan pendekatan lain yang digunakan? 

Tidak. Kami menggabungkan antara digital dan offline atau hybrid. Strategi hybrid ini kami gunakan untuk mengisi kantong-kantong likuiditas, termasuk dana pihak ketiga (DPK). Di sisi digital, kami fokus untuk onboarding nasabah-nasabah yang sudah melek digital. Sementara yang offline, sejak enam bulan lalu, kami jalankan proyek namanya Aladin Premier dengan menargetkan nasabah high value, memiliki dana di atas Rp300 juta. 

 

Bagaimana Bank Aladin Syariah menjaga keberlanjutan kinerja sekaligus memperkuat nilai-nilai syariah dalam produk dan layanannya? 

Fokus kami ada tiga. Pertama, memperbanyak strategic partnership. Kedua, fokus pada beberapa area prioritas. Yang sudah terbukti efektif, seperti kerja sama dengan Alfa Group. Ketiga, mempertahankan sustainability dari capaian enam bulan terakhir dan tiga bulan terakhir. Kemudian, kami juga ingin memastikan bahwa bank ini memang benar-benar bank, bukan sekadar aplikasi. Karena membawa nama syariah, maka nilai-nilai kesyariahan itu harus muncul. Maka, kami menjalin kerja sama dengan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), meluncurkan tabungan haji dan (melakukan) sinergi dengan Muhammadiyah serta bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Kami mendekatkan diri ke komunitas Islam atau Islamic community engagement. Harapannya, fitur-fitur berbasis syariah ini bisa mendorong masyarakat muslim di Indonesia untuk tergerak hatinya mencoba pengalaman transaksi dengan bank digital syariah pertama. Selain itu, sebenarnya kami ingin sinergi lebih dalam, bukan cuma urusan bank, tapi juga layanan lain. Misalnya, dalam hal edukasi, literasi, dan inklusi keuangan. AUS

Setelah mencatat rapor merah selama empat tahun berturut-turut, Bank Aladin Syariah akhirnya mampu mencatatkan laba bersih sebesar Rp33,47 miliar pada Maret 2025. Angka ini melonjak hingga 175,73% dibandingkan dengan posisi yang sama tahun sebelumnya yang masih mencatat kerugian sebesar Rp44,20 miliar. Bagi bank yang sempat berkubang dalam kerugian besar, keberhasilan mencetak laba positif itu bukan sekadar catatan keuangan, tetapi simbol titik balik menuju fase per tumbuhan yang lebih berkelanjutan. 

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi Juni 2025

Rp 65.000

BELI