Belum ada produk di keranjang belanja kamu

KDM-nya Bank

Oleh

Dalam dunia perbankan, keputusan penting sering kali harus melewati koridor panjang: rapat koordinasi, kajian komite, diskusi antardireksi, lalu barulah turun ke pelaksanaan. Semuanya terdengar rapi, terstruktur, dan penuh kehati hatian. Tapi, di balik semua itu, ada satu hal yang sering tertinggal: kecepatan memberi solusi.

Tidak begitu dengan KDM, panggilan populer Dedi Mulyadi di platform media sosial. Gubernur Jawa Barat yang baru menjabat lebih kurang tiga bulan ini sudah sangat populer dan selalu ditunggu-tunggu kehadirannya, baik di dunia virtual maupun di tengah-tengah masyarakatnya yang sedang punya persoalan.

Dalam banyak video yang tersebar di media sosial, ia hadir langsung ke lapangan, menemui warga, mendengar keluhan, dan langsung memberi ke putusan. Tidak perlu menunggu lama. Tak perlu laporan tertulis. Tak butuh PowerPoint. Di tempat itu juga, masalah diselesaikan. KDM tidak hanya memim pin, tapi juga menyembuhkan.

Kebijakan-kebijakannya viral: langsung memberikan bantuan ben cana di lapangan, turun ke kali untuk mem bersihkan sampah yang menyum bat, dan mengangkat anak para korban kebakaran yang kehilang an orang tua dengan janji akan mem biayai sekolahnya hingga jenjang pendidikan perguruan tinggi.

Terakhir, pada upacara peringatan Hari Kebangkitan Nasional, Mei lalu, KDM dengan bangga memberikan panggung kepada pelajar yang baru saja menyelesaikan pendidikan di “barak militer”. Mengundang “para lulusannya” untuk hadir, menjadikan sebagian yang terpilih sebagai komponen pelaksana upacara, dan kemudian memberikan uang hadiah masing-masing Rp20 juta kepada mereka.

Kepemimpinan semacam ini nyaris mustahil ditemu kan di dunia perbankan. Karena, chief executive officer (CEO) atau direktur di bank bukan seperti kepala daerah. Mereka bukan pemimpin politik yang mengangkat sendiri para kepala dinasnya. Mereka adalah bagian dari struktur yang dipilih oleh pemegang saham dalam rapat umum pemegang saham (RUPS) secara bersama-sama. Karena itu, setiap keputusan penting mesti dibahas dalam forum kolegial direksi, apalagi yang menyangkut keuangan.

Bukankah salah satu bentuk kepemimpinan sejati adalah kehadiran langsung? Menyentuh, mendengar, dan bertindak saat itu juga? KDM menunjukkan bahwa seorang pemimpin bisa relevan, solutif, dan penuh empati tanpa harus kehilangan otoritasnya. Ia hadir di tengah rakyatnya, tak sekadar untuk dilihat, tapi juga untuk mendengar dan memutuskan.

Lalu, bagaimana caranya mem bawa “semangat KDM” ke dalam dunia perbankan? Bukankah dunia perbank an penuh dengan regulasi, prosedur, dan mekanisme kolektif? Jawabannya mungkin bukan pada sistem, melainkan pada niat dan keberanian.

Seorang CEO atau direktur tidak harus mengubah struktur yang ada. Tapi, mereka bisa menciptakan ruang kemungkinan. Ruang untuk pengakuan cepat. Ruang untuk penghargaan yang tidak menunggu spreadsheet. Ruang untuk keputusan yang berbasis empati. Misalnya, dengan membuat mekanisme appreciation point yang bisa dibagikan langsung oleh pemimpin kepada staf, tanpa harus lewat approval HR.

Bukan nominalnya yang penting. Tapi, ketepatan momennya. Dalam psikologi organisasi, pengakuan yang diberikan saat itu juga, sesaat setelah aksi positif dilakukan, memiliki efek yang jauh lebih besar daripada insentif besar yang datang terlambat. Karena, pada dasarnya, manusia tidak hanya bekerja untuk uang. Mereka bekerja untuk makna.

Kita butuh KDM-nya bank. Sosok pemimpin yang bukan hanya ahli membuat strategi jangka panjang, tapi juga hadir di momen-momen kecil yang menentukan. Yang bisa berkata, “Saya lihat kamu. Saya hargai kamu. Saya beri kamu penghargaan sekarang juga.” Bukan minggu depan, bukan setelah RUPS, tapi hari ini juga.

Tentu, ini bukan ajakan untuk meninggalkan sistem. Tapi, ini seruan untuk melengkapinya dengan fleksibilitas dan inovasi, demi kemanusiaan. Karena, sehebat apa pun sistem, ia tidak akan mampu menggantikan sentuhan empati dari seorang pemimpin. Dan, pemimpin yang hebat bukan hanya yang bisa berpikir panjang, tapi juga yang bisa bertindak cepat.

Pada akhirnya, yang paling diingat oleh karyawan bukanlah strategi besar yang ditulis dalam laporan tahunan. Tapi, momen-momen kecil ketika mereka merasa dilihat dan dihargai. Dan, momen seperti itu hanya lahir dari kepemimpinan yang hadir.

Tidak begitu dengan KDM, panggilan populer Dedi Mulyadi di platform media sosial. Gubernur Jawa Barat yang baru menjabat lebih kurang tiga bulan ini sudah sangat populer dan selalu ditunggu-tunggu kehadirannya, baik di dunia virtual maupun di tengah-tengah masyarakatnya yang sedang punya persoalan.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi Juni 2025

Rp 65.000

BELI