Penulis adalah Honorable Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI).
Sumber : Infobank
KEHADIRAN artificial intelligence (AI) dan generative artificial intelligence (GAI) tidak lagi bisa dihindari. Kegunaannya pun tak diragukan lagi, baik untuk kehidupan keseharian maupun untuk bisnis. AI sudah makin cepat dalam memberikan respons. Demikian pula kemudahan dalam mengakses layanan AI, baik berbayar maupun gratis.
Sepanjang telepon genggam (handphone) ada di tangan kita dan di mana pun kita berada, tidak ada lagi kendala untuk menggunakan AI. Semua hal yang ingin diketahui cukup menanyakan kepada AI dan jawabannya disajikan dalam hitungan detik. Apa pun penjelasan yang disampaikan AI tentunya tetap bermanfaat.
Sampai dengan saat ini, kehadiran AI tanpa disadari sudah menjadi semacam kebutuhan bagi manusia untuk mendapatkan informasi secara cepat. Akses terhadap AI sudah sangat bebas dan kita bisa mencari informasi apa saja dari AI. Layanan AI juga telah membuat kesetaraan bagi siapa saja dan siapa pun boleh menggunakan AI. Kualitasnya hanya dibedakan dari apakah menggunakan AI berbayar atau tidak berbayar. Kalau sekadar ingin tahu, masih sangat memadai bertanya kepada Google.
AI yang berbasis algoritma bukanlah hal baru, tapi dikembangkan makin canggih ketika kekinian teknologinya tersedia. Algoritma secara universal adalah serangkaian langkah atau instruksi yang disusun secara logis dan sistematis untuk menyelesaikan suatu masalah atau mencapai tujuan tertentu. Secara sederhana, algoritma itu seperti resep masakan. Dalam membuat nasi goreng, misalnya, ada tahapan-tahapan yang harus dilakukan. Akan tetapi, tahapan yang berbasis AI untuk membuat nasi goreng tetap ada biasnya karena tidak selalu menghasilkan rasa yang sama.
Analogi resep nasi goreng dapat ditransformasikan dalam berbagai aspek, dan sepanjang menggunakan algoritma maka hasilnya adalah penjelasan yang terstruktur dan bisa langsung dipraktikkan. Walaupun demikian, tetap memerlukan kreativitas dan pengalaman juru masaknya yang bisa jadi belum terekam dalam datanya AI.
Meskipun kemudahan tersebut bisa diakses siapa saja dan kemudian dipraktikkan, dalam kenyataannya rasa nasi goreng tidak selalu sama. Rasa yang tidak sama itu terjadi karena adanya kreativitas manusia yang belum tersedia informasinya termasuk selera. Namun, ketika makin banyak yang menyampaikan kiat membuat nasi goreng, maka jawaban dari AI terkait nasi goreng akan makin lengkap. Meski, unsur selera belum banyak terakomodasi.
Dengan bebasnya mengakses AI, lantas pertanyaan yang muncul, apakah masih perlu sekolah kalau semua pengetahuan yang didapat dari sekolah juga dapat diperoleh melalui AI? Pertanyaan serupa, untuk apa juga kuliah kalau semua materi kuliah dengan mudahnya bisa didapat lewat AI? Konon membuat tugas akhir, mulai dari S-1 hingga S-3, sudah dapat difasilitasi AI, baik yang gratis maupun yang berbayar.
Saat ini, menanyakan apa saja sudah bisa dijawab oleh AI. Demikian juga pekerjaan sehari-hari. Membuat artikel, presentasi, sambutan, sudah dapat dilakukan dengan AI. Kecenderungan tersebut tentunya merupakan konsekuensi saja dari kemajuan teknologi seperti AI. Kemudahan dan kepraktisan sudah menjadi kebutuhan universal bagi siapa saja.
Pemanfaatan AI
Segala sesuatu yang bisa memberikan kemudahan dan kecepatan tentunya diinginkan semua manusia. Hal itulah yang diberikan oleh AI. Maka, tidak heran kalau kini hampir semua orang menggunakan AI. Meskipun demikian, ada beberapa catatan yang mungkin perlu kita renungkan bersama.
Pertama, terkait pemanfaatan AI untuk kemudahan dan kepraktisan. AI tidak bisa diredam apalagi dihalangi dan bahkan akan makin canggih. Oleh sebab itu, tidak heran kalau kita lebih menyukai pembelian apa pun melalui aplikasi, dan akibatnya makin banyak toko yang tutup. Andai semua pelaku pasar tradisional juga menyediakan aplikasi belanja secara online, bisa saja suatu saat pasar tidak diperlukan lagi.
Awalnya tentu tetap akan ada bedanya. Aroma bau ikan dan daging, kesegaran sayuran, suasana yang becek, dan hiruk pikuk pasar sampai dengan saat ini belum bisa diberikan oleh AI. Namun, jangan salah, hal-hal seperti itu – yang umumnya menjadi ciri khas pasar tradisional – bisa saja dihadirkan kalau suatu saat teknologi berbasis metaverse digunakan.
Metaverse sering digambarkan sebagai dunia digital yang memadukan dunia fisik dan digital, yang memungkinkan terjadinya interaksi sosial, pekerjaan, permainan, dan pengalaman belajar. Versi awalnya disertai hologram, baik manusia maupun produk, dan dengan kemajuan IT. Ada saatnya hologram akan sangat mirip dengan aslinya.
Kedua, AI dapat berperan dalam menyempurnakan penentuan harga. Hal ini didasari oleh kemampuan AI menggunakan berbagai variabel untuk menghasilkan harga yang lebih sempurna, khususnya bagi pelanggan ritel dan komersial. Dengan menggunakan AI, setiap pelanggan dapat diberikan harga khusus dengan mempertimbangkan variabel yang relevan. Misalnya, besar-kecilnya pembelian, lama-tidaknya menjadi pelanggan, dan variabel lainnya. Selain itu, AI dapat digunakan untuk menghasilkan kegiatan usaha lebih cepat serta berbagai skenario penjualan dan meningkatkan loyalitas pelanggan. Apabila dilakukan, tentunya akan memberikan kepuasan pelanggan di satu pihak dan mendapatkan pelanggan baru di lain pihak.
Ketiga, ketergantungan pada AI untuk kebutuhan pendidikan dan pelatihan sudah menjadi kebiasaan baru. Ketika dunia dilanda pandemi COVID-19, penggunaan fasilitas virtual meningkat pesat. Saat itu, banyak entitas bisnis dan pemerintah menerapkan bekerja dari rumah (WFH) untuk karyawan/pegawainya. Hal yang sama juga terjadi pada lembaga pendidikan dan pelatihan, yang melangsungkan proses belajar-mengajar secara virtual, selain juga kombinasi virtual dengan kehadiran secara fisik (hybrid).
Penggunaan AI dapat meningkatkan berbagai aspek pengajaran dan pembelajaran. Misalnya, pembelajaran adaptif yang kontennya disesuaikan dengan masing-masing siswa. Beberapa universitas selain menggunakan AI juga sudah memanfaatkan metaverse sehingga memungkinkan mahasiswa bisa berpartisipasi dalam simulasi, dan terlibat secara interaktif melalui headset virtual reality (VR). Universitas seperti SEGi University di Asia Tenggara, University of Leeds di Inggris, dan University of The Basque Country di Spanyol menjadi pelopor penggunaan metaverse untuk pendidikan dan pelatihan. Fenomena tersebut menjadi bukti bahwa peran AI sangat penting.
Keempat, terkait penginian, akurasi, dan ketersediaan data yang valid. Dalam konteks penggunaan AI dan/atau GAI harus diyakini betul bahwa data yang diperoleh itu valid dan diperoleh dari sumber yang kredibel. Sekadar ilustrasi, lihat kekinian penggunaan AI di sektor perbankan. Menurut riset Finextra, bank saat ini menggunakan AI untuk membuat lebih dari empat juta keputusan setiap hari dalam manajemen risiko, layanan pelanggan, dan penjualan. Diperkirakan akan menjadi 10 juta pada lima tahun yang akan datang. Dapat dibayangkan betapa ketergantungan pada AI akan makin tinggi.
Beberapa Catatan
AI yang akurasinya tinggi tentunya sangat ditentukan oleh ketersediaan data yang berkualitas dan relevan. Mengapa kualitas data menjadi penting karena AI bekerja berdasarkan persediaan data yang kredibel. Ada istilah garbage in, garbage out; dan harus disadari betul urgensinya. Ada pernyataan, “jika mendung maka hujan”. Kenyataannya, dengan segala perubahan lingkungan yang terjadi, tidak selalu ketika mendung maka akan hujan.
Hal ini apabila tidak diperhatikan bisa saja keluaran AI menjadi bias dan berdampak negatif yang seharusnya positif atau sebaliknya. Agak sulit kita bisa meyakini apakah data yang dimiliki itu valid ketika sumbernya tidak berkualitas atau bahkan hasil rekayasa. Oleh sebab itu, data yang dimiliki harus relevan sesuai dengan kebutuhan. Pertanyaannya adalah siapa yang dapat memastikan bahwa ketika kita bertanya melalui AI sumber datanya valid dan relevan?
Barangkali ketergantungan kita terhadap AI harus disikapi secara rasional dan bijaksana. AI hadir dan berkembang karena dibuat oleh manusia. Menurut hemat saya, sehebat apa pun AI dikembangkan tetap tergantung pada peran manusia. Dengan perkataan lain, kehadiran AI, baik yang dibuat untuk kebaikan maupun sebaliknya, tergantung pada manusianya selaku pembuat.
Oleh sebab itu, kehadiran AI seyogianya diposisikan sebagai alat bantu mendapatkan opini yang lebih lengkap. Sesekali jangan terlalu cepat menyatakan bahwa informasi yang diperoleh melalui AI memiliki kebenaran absolut. Alasan praktisnya, pengguna tidak pernah tahu format algoritma yang digunakan.
Lantas, bagaimana kira-kira menyikapi ketergantungan pada AI? Menurut Sundar Pichai, CEO Google, masa depan AI bukanlah tentang menggantikan manusia, melainkan tentang meningkatkan kemampuan manusia. Dalam pengertian lain, kehadiran AI tidak dimaksudkan untuk menghilangkan pekerjaan atau keahlian manusia, tapi untuk meningkatkan dan mendukung kemampuan manusia.
*Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis.
Sepanjang telepon genggam (handphone) ada di tangan kita dan di mana pun kita berada, tidak ada lagi kendala untuk menggunakan AI. Semua hal yang ingin diketahui cukup menanyakan kepada AI dan jawabannya disajikan dalam hitungan detik. Apa pun penjelasan yang disampaikan AI tentunya tetap bermanfaat.