Bank DKI tengah bersiap diri untuk menjadi perusahaan terbuka. Sebagai bagian dari transformasi ini, sejumlah penguatan strategis, termasuk tata kelola dan fundamental, sedang dilakukan bank kebanggaan warga Jakarta ini.
Sumber : Infobank
GUBERNUR DKI Jakarta, Pramono Anung, menugaskan manajemen Bank DKI untuk mempersiapkan rencana melakukan penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO). Aksi korporasi itu ditargetkan bisa direalisasikan dalam satu tahun ke depan. Arahan tersebut sekaligus wujud dukungan agar Bank DKI melakukan transformasi besar besaran, termasuk rebranding dan melantai di bursa. Dengan menjadi perusahaan terbuka, pengelolaan Bank DKI didorong agar lebih profesional dan transparan. Kinerja bisnis pun bisa lebih terakselerasi.
Sejalan dengan arahan dan izin IPO dari pemegang saham, pihak internal Bank DKI segera mengambil sejumlah langkah strategis. Direktur Utama Bank DKI, Agus Haryoto Widodo, mengungkapkan, pihaknya sudah membentuk tim khusus IPO dan melakukan diagnosis awal terkait dengan kesiapan bank ini melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).
“Kinerja yang solid merupakan keharusan yang saat ini Bank DKI juga lakukan. Kebijakan strategis Bank DKI adalah dengan melakukan penguatan manajemen risiko dan kolaborasi ekosistem untuk pertumbuhan bisnis yang sehat dan kompetitif,” ujar Agus kepada Infobank, Mei lalu.
Soal kinerja, manajemen Bank DKI optimistis performa bisnis tahun ini akan lebih baik dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Mengawali 2025, Bank DKI menunjukkan kinerja yang solid. Per Maret 2025, kredit dan pembiayaan yang disalurkannya mencapai Rp52,23 triliun, tumbuh 3,36% secara tahunan. Di lain sisi, dana pihak ketiga (DPK) terkontraksi 4,93% atau menjadi Rp59,08 triliun. Kredit yang tumbuh positif mendongkrak pendapatan bunga sebesar 4,15% menjadi Rp1,42 triliun.
Seiring dengan koreksi DPK, beban bunga bisa ditekan ke angka Rp710,15 miliar. Alhasil, pendapatan bunga bersih Bank DKI meningkat menjadi Rp708,74 miliar atau tumbuh 9,09%. Bank DKI pun menutup tiga bulan pertama 2025 dengan raihan laba bersih Rp215,35 miliar, melonjak 14,86%. Sementara, total asetnya tercatat Rp78,39 triliun.
“Kami meyakini dapat mempertahankan kinerja baik hingga akhir 2025. Sampai dengan Desember 2025, total aset diproyeksikan akan tumbuh 5,10%, penyaluran kredit dan pembiayaan tumbuh 11,60%, DPK tumbuh 10,33%, dan laba bersih tumbuh 6,60% dibandingkan realisasi Desember 2024,” papar Agus.
Selain fokus pada kinerja, Bank DKI melakukan transformasi dari sisi pengembangan sumber daya manusia (SDM). Pengembangan SDM menjadi bagian dari upaya memperkuat fundamental Bank DKI. Saat ini, Bank DKI tengah melakukan transformasi, termasuk dari sisi budaya (culture). Budaya baru itu disebut EPICC: excellent, professional, integrity, customer-focused, dan collaborative.
“Proses internalisasi culture itu terus berjalan. Di lain sisi, business process kami perbaiki supaya lebih cepat, lebih responsif. Produk juga dikembangkan agar lebih solutif, sesuai kondisi market,” tambah Agus.
Sejalan dengan arahan dan izin IPO dari pemegang saham, pihak internal Bank DKI segera mengambil sejumlah langkah strategis. Direktur Utama Bank DKI, Agus Haryoto Widodo, mengungkapkan, pihaknya sudah membentuk tim khusus IPO dan melakukan diagnosis awal terkait dengan kesiapan bank ini melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).
“Kinerja yang solid merupakan keharusan yang saat ini Bank DKI juga lakukan. Kebijakan strategis Bank DKI adalah dengan melakukan penguatan manajemen risiko dan kolaborasi ekosistem untuk pertumbuhan bisnis yang sehat dan kompetitif,” ujar Agus kepada Infobank, Mei lalu.