Belum ada produk di keranjang belanja kamu

STEFFANO RIDWAN, PRESIDEN DIREKTUR MAYBANK INDONESIA

Maraton Kehidupan Antara Langit dan Beton

Di bawah bayang gedung-gedung tinggi di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, seorang remaja pernah menatap langit dan menanam mimpi menjadi bankir. Puluhan tahun kemudian, ia membuktikan bahwa hidup adalah maraton. Bukan soal kecepatan, tapi ketekunan dan kesetiaan pada irama langkah kaki. Baginya, kemenangan sejati dalam marathon of life adalah saat berhasil menaklukkan diri sendiri.

Oleh Ayu Utami Saraswati
Sumber : Infobank

Sumber : Infobank

   LANGIT Jakarta belum sepenuhnya biru pagi itu. Di antara bayang-bayang gedung pencakar langit yang berdiri kaku di Jalan Sudirman, seorang remaja berjalan melintasi trotoar, matanya menatap tinggi ke atas, seolah mencoba menggenggam langit. Di dadanya tumbuh benih mimpi. Mimpi yang tak sekadar dibisikkan angin, tapi juga disematkan kuat-kuat dalam hati: suatu hari nanti, ia akan menjadi bankir, bekerja di salah satu gedung megah itu. Teman-temannya tertawa, tapi ia percaya bahwa keyakinan adalah anak tangga pertama menuju pencapaian. 

   Lebih dari tiga dekade kemudian, Steffano Ridwan, Presiden Direktur Bank Maybank Indonesia (Maybank Indonesia), mengenang momen itu dengan senyum tipis. “Ketika SMA, saya melewati jalan Sudirman. Sejak itu, cita-cita saya mantap, ingin menjadi bankir. Saya ingat pernah bilang ke teman saya, suatu hari nanti saya akan kerja di salah satu gedung bank di sana. Mereka ketawa,” tuturnya saat ditemui Infobank di kantornya, akhir April lalu. 

   Kisah hidupnya seperti maraton panjang (a long distance race), yang bukan soal kecepatan, tapi ketahanan. Ia tak melompat dalam satu langkah besar, melainkan meniti ribuan langkah kecil dengan tekun. Perjalanan itu bermula jauh dari tanah kelahirannya. Demi menjawab rasa penasaran dan mengejar exposure, Steffano memutuskan untuk merantau ke Amerika Serikat (AS). Ini bukan keputusan ringan bagi anak muda belasan tahun yang berangkat hanya dengan paspor, tabungan terbatas, dan tekad bulat. 

   “Saya ingin dapat ilmu yang ber be da. Saat itu, saya lihat banyak pimpinan berasal dari luar negeri. Saya jadi penasaran, apa benar mereka memang lebih unggul?” kata pria kelahiran Jakarta, 51 tahun silam ini.

  Ia pun mendaftar kuliah dan mengambil jurusan business administration di Oklahoma State University. Tak sekadar belajar, ia juga bekerja paruh waktu, mulai dari karyawan kafe hingga menjadi sales agent produk kesehatan. Di situlah ia mulai memahami bahwa kerja keras dan sikap jauh lebih menentukan dibandingkan dengan nilai akademis semata. 

 

   Meski nilai IPK-nya tidak luar biasa, ia justru menjadi satu satunya mahasiswa Indonesia yang menerima tiga tawaran kerja dari perusahaan AS. “Saya sempat tanya ke salah satu perusahaan, kenapa saya yang dipilih. Mereka bilang, karena saya sudah terbiasa bekerja sejak kuliah. Mereka melihat saya lebih bertanggung jawab dan lebih siap masuk dunia profesional,” kenangnya. 

   Setelah sempat bekerja di perusahaan ritel Builders Square, Steffano kembali ke Indonesia dan memulai karier perbankannya dari nol, pada 1996, tepat di jantung kawasan bisnis Jakarta – tempat mimpinya dulu bersemi. Ia menjadi staf call center di Citibank, lalu perlahan menapak ke posisi-posisi strategis. 

   Dalam lintasan karier selama hampir tiga dekade, ia mengemban peran penting di sejumlah bank papan atas: Standard Chartered Bank, Bank Danamon Indonesia, Bank DBS Indonesia, hingga Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN). Lalu, pada 2020, ia bergabung dengan Maybank Indonesia, menjabat sebagai Direktur Community Financial Services. Dan, pada April 2024, ia diberi tanggung jawab yang lebih besar, sebagai Presiden Direktur Maybank Indonesia. 

   Namun, seperti halnya maraton, tak semua bagian lintasan mulus. Salah satu ujian berat datang saat ia memimpin tim sales besar berisi 6.000 orang. Di tengah tekanan tinggi, tim tersebut gagal dalam audit. Steffano pun dihadapkan pada keputusan sulit: memangkas hampir separuh anggota tim. 

   Meski pahit, pengalaman itu menjadi titik balik dalam pemahamannya tentang kepemimpinan. Ia belajar bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang mampu bertahan dalam badai, bangkit dengan cepat, dan tetap memimpin dengan hati. “Yang penting bukan seberapa sering kita gagal, tapi seberapa cepat kita bisa bangkit,” tegasnya. Dari kegagalan itu, timnya bangkit dan menjelma menjadi salah satu tim penjualan terbaik. 

   Filosofi kepemimpinannya berpijak pada lima prinsip utama: visi yang jelas (clear vision), pendirian kuat (firm values), pantang menyerah (resilience), membentuk pemimpin baru (leader development), dan belajar tanpa henti (continuous learning). Nilai-nilai itu bukan berasal dari buku teori, melainkan hasil pengembaraan panjang yang sarat dengan refleksi dan pembelajaran. “Hidup ini tidak selalu berj a lan sesuai rencana. Tapi, yang penting, kita punya rencana,” ucapnya dengan nada ringan, tapi penuh makna. 

   Bagi Steffano, hidup bukan lah sprint. “Menurut saya, hidup ini seperti maraton. Bukan seperti lari jarak pendek,” tuturnya. 

   Ia menceritakan kecintaannya pada olahraga maraton, yang tidak hanya menjadi hobi, tapi juga metafora hidup. Dalam lari jarak jauh, kata Steffano, keberhasilan terletak pada kemampuan mengenali irama diri, bukan meniru langkah orang lain. “Kadang, karena ingin menyaingi mereka yang tampaknya lebih cepat, kita justru kehabisan tenaga lebih dulu. Padahal, yang terpenting adalah mengenali kekuatan diri sendiri, lalu berlari sesuai irama kita,” ungkapnya. 

   Baginya, tantangan terbesar dalam hidup bukanlah mengalahkan pesaing, tapi mengalahkan diri sendiri – ego, ketakutan, dan rasa putus asa. “Kalau kita sudah bisa menaklukkan ego dan kelemahan diri, kita akan jauh lebih kuat menghadapi hal-hal lain,” ujarnya. 

   Hari-hari terus berjalan, dan Steffano pun terus berlari. Ia tidak sedang mengejar tepuk tangan atau garis akhir, tapi memastikan bahwa langkah-langkahnya senantiasa menuju arah yang benar. Seperti pelari yang berlari di tengah riuh kota, tapi tetap mendengarkan detak jantungnya sendiri, ia memilih untuk tidak menjadi yang tercepat, melainkan yang paling konsisten. Karena, di dunia nyata, maraton kehidupan adalah tentang ketekunan, ketulusan, dan keberanian untuk tidak menyerah. 

 

   Lebih dari tiga dekade kemudian, Steffano Ridwan, Presiden Direktur Bank Maybank Indonesia (Maybank Indonesia), mengenang momen itu dengan senyum tipis. “Ketika SMA, saya melewati jalan Sudirman. Sejak itu, cita-cita saya mantap, ingin menjadi bankir. Saya ingat pernah bilang ke teman saya, suatu hari nanti saya akan kerja di salah satu gedung bank di sana. Mereka ketawa,” tuturnya saat ditemui Infobank di kantornya, akhir April lalu. 

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi Juni 2025

Rp 65.000

BELI