Meski pembiayaan multiguna sedang stagnan, segmen ini masih menjadi penopang utama industri pembiayaan. Pelaku industri berharap, ada stimulus dari pemerintah untuk membantu menjaga daya beli masyarakat.
Penurunan penjualan mo bil baru menekan laju indus tri pembiayaan (multifi nance) yang selama ini bergantung pada segmen multiguna. Meski pem bia yaan investasi dan modal kerja menunjukkan pertumbuhan, porsinya belum cukup kuat mendong krak total piutang industri. Lantas, strategi dan segmen apa yang bisa diandalkan multifinance hingga akhir 2025? Simak penjelasan Ketua Umum Aso siasi Perusahaan Pembiayaan Indone sia (APPI), Suwandi Wiratno, kepada Infobank, bulan lalu, menge nai arah baru industri pembiayaan di tengah lesunya daya beli masyarakat dan tekanan pasar. Petikannya:
Penjualan otomotif masih lesu. Dalam kondisi seperti ini, segmen apa yang bisa menjadi andalan industri pembiayaan untuk tetap mengejar target di 2025?
Memang betul, ini tantangan be sar. Kalau kita bicara perusahaan pembiayaan, ada tiga kegiatan uta ma, yaitu pembiayaan investasi, pem bia yaan modal kerja, dan pembiaya an multiguna. Segmen yang bisa menjadi andalan industri pembiaya an untuk tetap mengejar target ada lah pembiayaan multiguna. Meskipun saat ini pertumbuhannya sedang stag nan, bahkan di bawah 1%, seg men ini masih menyumbang sekitar 60% dari total pertumbuhan industri.
Jadi, kendati segmen investasi dan modal kerja tumbuh, belum bisa mendongkrak pertumbuhan industri?
Benar. Pertumbuhan pembiayaan investasi dan modal kerja memang ada, tapi porsinya relatif kecil. Misal nya, kalau investasi tumbuh 10%, modal kerja tumbuh 10%, tapi porsi nya hanya sekitar 20%30%, itu tetap tidak bisa menutupi stagnasi di multi guna. Apalagi, multiguna sendiri saat ini pertumbuhannya di bawah 1%. Akibatnya, total pertumbuhan piutang juga tertekan.
Bagaimana perkembangan pertumbuhan piutang terkini?
Kalau kita lihat dari awal tahun, pertumbuhan year on year (yoy) menurun dari sekitar 6% ke 5%, lalu 4%, dan di April diperkirakan sudah di bawah 3%. Artinya, tekanan memang nyata karena pembiayaan baru yang masuk lebih kecil dari penurunan portofolio pembiayaan berjalan yang sudah mulai lunas atau menurun.
Kalau begitu, apa strategi yang bisa dilakukan perusahaan pembiayaan?
Perusahaan harus memaksimal kan database yang ada. Misalnya, na sa bah yang sudah lunas bisa ditawar kan kembali untuk mengambil pem bia yaan dengan jaminan yang sama, seperti untuk modal kerja. Ini dilakukan banyak perusahaan saat ini agar tetap bisa mendorong pertum buhan, meskipun pembiayaan baru dari sektor otomotif menurun.
Adakah harapan dari event atau stimulus tertentu?
Ya, kami menaruh harapan pada pameran otomotif seperti Gaikindo di akhir Juli. Harapannya, Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) bisa mengeluarkan promosi menarik. Selain itu, pemerintah dikabarkan akan menggelontorkan lima stimulus di awal Juni, seperti diskon listrik, subsidi motor listrik, dan insentif transportasi umum. Semua itu untuk mendorong konsumsi masyarakat. Kami juga berharap, pemerintah terus memberikan stimulus untuk mendukung daya beli, dan ada koor dinasi dengan regulator soal regulasi yang bisa memperkuat industri pembiayaan. Semua pihak harus bekerja sama agar pertumbuhan tetap bisa dijaga, meski tantangan sedang berat.
Apakah buy now pay later (BNPL) bisa menjadi alternatif pembiayaan?
BNPL memang mulai tumbuh, dan saat ini ada sekitar 9-10 perusa haan pembiayaan yang sudah me ngem bangkan model ini. Tapi, mereka juga tetap harus berhatihati, mengingat daya beli masyarakat sedang lemah.
Apa pesan untuk para pelaku industri dalam menghadapi kondi si yang penuh tantangan saat ini?
Pesan saya, perusahaan multifi nance harus tetap adaptif dan inovatif. Jangan hanya bergantung pada sektor otomotif, tapi mulailah diversifikasi produk, manfaatkan data nasabah yang sudah ada, dan perkuat layanan digital. Selain itu, penting juga untuk menjaga kualitas pembiayaan dengan prinsip kehati hatian serta terus mengedukasi masyarakat agar paham literasi.
Penjualan otomotif masih lesu. Dalam kondisi seperti ini, segmen apa yang bisa menjadi andalan industri pembiayaan untuk tetap mengejar target di 2025?