Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Merah-Biru Rapor Emiten BUMN

Di kuartal pertama 2025, sejumlah emiten perusahaan pelat merah, termasuk anak usahanya, mencatatkan kinerja beragam. Ada yang untung, ada pula yang buntung. Performa sektor perbankan dan pertambangan terbilang apik. Sebaliknya, BUMN sektor karya masih berjuang keluar dari tekanan.

Oleh Ari Astriawan
Sumber : Infobank

Sumber : Infobank

     PERFORMA bisnis badan usaha milik negara (BUMN) yang melantai di bursa saham Indonesia di awal 2025, masih dibayangi tantangan. Emiten perusahaan pelat merah membukukan kinerja beragam. Ada yang untung, ada pula yang buntung. Performa bisnis ini sekaligus mencerminkan kondisi masing-masing sektor. 

     Beberapa sektor yang tercatat tumbuh positif antara lain adalah perbankan dan pertambangan. Kedua sektor ini masih menjadi penopang utama kinerja emiten BUMN. Sebaliknya, BUMN-BUMN di sektor karya dan farmasi tampaknya masih menghadapi tantangan. 

     Berdasarkan data Biro Riset Infobank (birI), meski trennya melambat, lebih dari separuh emiten perusahaan pelat merah masih membukukan pertumbuhan laba positif. Total ada 13 BUMN dan 20 anak usaha BUMN yang melantai di bursa saham Indonesia. Sebanyak 18 perusahaan mencatatkan pertumbuhan positif dari sisi laba. Sebaliknya, laba 15 perusahaan lainnya tercatat tumbuh minus. 

     Bicara tentang kemampuan mengantongi profit, BUMN sektor perbankan masih jadi yang paling dominan. Biro Riset Infobank mencatat, di tiga bulan pertama 2025, Bank Mandiri menjadi emiten BUMN dengan raihan laba terbesar, yakni Rp14,53 triliun atau naik 2,89% year on year (yoy). Bank Mandiri dibayangi Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang mengantongi laba Rp13,80 triliun. Sayangnya, raihan laba bank holding ultra mikro ini tumbuh minus 13,63% dari Rp15,98 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Bank Negara Indonesia (BNI) yang meraih laba Rp5,41 triliun, atau tumbuh 1,13% secara tahunan, tercatat sebagai kontributor terbesar keempat. 

     Emiten perbankan lainnya adalah Bank Syariah Indonesia (BSI), dengan raihan laba Rp1,88 triliun. Laba bank syariah terbesar di Indonesia ini mengalami kenaikan 10,05%. Sedangkan, Bank Tabungan Negara (BTN) meraih laba Rp903,71 miliar atau meningkat 5,06% secara tahunan. 

     Sementara, emiten sektor telekomunikasi, yakni Telekomunikasi Indonesia (Telkom), menjadi kontributor terbesar ketiga dari sisi laba. Di Maret 2025, Telkom mengamankan laba bersih Rp7,60 triliun, terkoreksi tipis 2,85% dari raihan tahun sebelumnya. Koreksi laba dipengaruhi pendapatan konsolidasi yang juga turun 2,11%, atau menjadi Rp36,64 triliun. Mayoritas pendapatan Telkom disumbang anak usahanya, Telkomsel, lewat segmen consumer (mobile & fixed broadband) sebesar Rp27,20 triliun. 

     Meski kinerja cenderung melandai di kuartal pertama 2025, Telkom terus berupaya menjaga pertumbuhan berkelanjutan. Perseroan fokus pada pengembangan infrastruktur dan bisnis digital, penyediaan solusi yang relevan, serta simplifikasi produk guna meningkatkan pengalaman terbaik bagi pelanggan. 

     Sementara, jika dilihat dari persentase kenaikan laba, emiten Aneka Tambang (Antam) menjadi yang terbaik. Laba anak perusahaan MIND ID ini meroket 1.003,31% menjadi Rp2,32 triliun per Maret 2025. Capaian ini tak lepas dari keberhasilan perseroan merespons tantangan pasar dan melakukan penguatan efisiensi operasional. Lonjakan harga komoditas emas juga mendongkrak pendapatan Antam. 

    Di kuartal pertama 2025, penjualan bersih Antam naik 203% atau menjadi Rp26,15 triliun. Penjualan domestik menggenggam porsi 95% atau setara dengan Rp24,83 triliun. Meningkatnya penjualan domestik selaras dengan strategi Antam dalam memperkuat basis pelanggan dalam negeri, terutama untuk produk emas, bijih nikel, dan bijih bauksit. 

     Emas menjadi kontributor utama kinerja penjualan Antam, dengan kenaikan 182% atau menjadi Rp21,61 triliun. Porsinya mencapai 83% terhadap total penjualan perseroan. Faktor global, termasuk kondisi perekonomian dan geopolitik, berimbas pada meningkatnya permintaan emas yang dianggap sebagai aset safe haven. Antam berhasil mengoptimalkan peluang tersebut dengan strategi bisnis yang efektif, termasuk memperluas kanal distribusi dan memperkenalkan lini bisnis emas fisik digital. 

    “Kami terus mengedepankan strategi pemasaran yang inovatif, (melakukan) pengendalian biaya yang cermat, serta menjaga struktur biaya (cash cost) agar tetap kompetitif,” ujar Direktur Utama Antam, Nicolas D. Kanter, awal Mei lalu. 

     Kenaikan laba luar biasa juga dicatatkan emiten Semen Baturaja, yang mengantongi cuan Rp48,96 miliar atau memelesat 864,33% secara tahunan. Sementara, Timah membukukan kenaikan laba hingga 295,48% atau menjadi Rp116,86 miliar. Lalu, ada pula PP Properti yang berhasil membalikkan keadaan, dari rugi Rp209,36 miliar menjadi laba Rp137,17 miliar atau tumbuh 165,52% secara tahunan. 

      Sementara, BUMN karya tampaknya masih berupaya keras keluar dari tekanan. Waskita Karya (WSKT) menjadi emiten pelat merah dengan catatan kerugian paling dalam, yakni sebesar Rp1,36 triliun, makin dalam dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat rugi Rp1,06 triliun. Lalu, ada Wijaya Karya yang masih merugi Rp783,37 miliar. Kerugian ini susut signifikan ketimbang tahun sebelumnya yang boncos Rp1,19 triliun. Sementara Adhi Karya, meski merosot 59,82%, labanya masih positif, tersisa Rp6,72 miliar dari Rp16,73 miliar di periode yang sama tahun sebelumnya. Sebaliknya, Pembangunan Perumahan (PP) membukukan kenaikan laba 54,43% atau menjadi Rp72,07 miliar. 

     Di luar itu, satu emiten BUMN yang patut mendapat perhatian adalah Garuda Indonesia (GIAA). Maskapai national flag carrier ini masih mengalami tekanan keuangan. Pada kuartal pertama 2025, GIAA menderita rugi bersih Rp1,26 triliun di Maret 2025. Raihan itu sebenarnya membaik ketimbang periode yang sama tahun lalu yang tercatat rugi Rp1,38 triliun. Penyusutan rugi ditopang kinerja pendapatan usaha yang naik tipis. 

     Secara operasional, GIAA sebenarnya berkinerja positif. Tapi, Garuda Indonesia mengalami ekuitas negatif karena beban keuangan yang terlalu besar. Liabilitasnya lebih besar dibandingkan dengan aset. Perseroan tercatat mempunyai kewajiban sebesar Rp130,86 triliun, sedangkan total asetnya hanya Rp107,13 triliun. 

     Meski belum ada kabar pasti, rumornya superholding BUMN Danantara tengah menyiapkan suntikan modal untuk menopang keuangan Garuda Indonesia. Kondisi GIAA saat ini cukup mengkhawatirkan. Sejumlah armada pesawat tidak bisa diterbangkan lantaran kesulitan biaya perawatan. Beban sewa, pengembalian, hingga pemeliharaan pesawat memang menjadi tekanan bagi kinerja keuangan Garuda Indonesia.

 

     Beberapa sektor yang tercatat tumbuh positif antara lain adalah perbankan dan pertambangan. Kedua sektor ini masih menjadi penopang utama kinerja emiten BUMN. Sebaliknya, BUMN-BUMN di sektor karya dan farmasi tampaknya masih menghadapi tantangan. 

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi Juni 2025

Rp 65.000

BELI