Kinerja CIU Insurance impresif di 2024 berkat strategi komprehensif di berbagai lini bisnis. Di balik itu, perusahaan asuransi umum ini melakukan reklasifikasi laporan keuangan 2023, sebagai bentuk kepatuhan terhadap standar akuntansi dan transparansi.
Sumber: Istimewa
CITRA International Underwriters (CIU Insurance) mencatat kinerja yang impresif pada 2024. Dengan capaian premi bruto Rp2,14 triliun atau 249% dari target, serta laba bersih Rp89,74 miliar, perusahaan asuransi umum ini menunjukkan performa luar biasa di tengah ketatnya persaingan industri asuransi umum.
Menurut Direktur CIU Insurance, Dadi Adriana, keberhasilan tersebut merupakan hasil dari penerapan strategi komprehensif yang menyentuh berbagai aspek bisnis, mulai dari pengembangan produk dan teknologi, penguatan tata kelola dan sumber daya manusia (SDM), hingga pengelolaan keuangan yang sehat dan patuh regulasi. “Kami membangun fondasi yang kokoh melalui pemanfaatan sistem informasi yang terintegrasi dengan ekosistem bisnis, sekaligus menjalankan prinsip good corporate governance (GCG) secara konsisten,” ujarnya kepada Infobank, akhir Juli lalu.
Di tengah capaian gemilang itu, CIU Insurance juga menunjukkan langkah progresif dalam pelaporan keuangannya. Pada awal Juli 2025, perusahaan ini menerbitkan laporan keuangan 2024 yang sekaligus menyajikan kembali laporan keuangan 2023. Penyajian kembali ini disertai reklasifikasi atas sejumlah pos keuangan penting, termasuk laba bersih 2023 yang semula tercatat Rp154,19 miliar, disesuaikan menjadi rugi Rp8,32 miliar. Menurut Dadi, perubahan signifikan ini dipicu oleh penyesuaian retroaktif atas cadangan klaim dan liabilitas asuransi sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku.
Langkah itu merupakan bagian dari komitmen CIU Insurance terhadap akuntabilitas dan transparansi. CIU Insurance menegaskan bahwa reklasifikasi dan penyajian kembali bukanlah indikasi adanya persoalan fundamental dalam bisnis perusahaan. Sebaliknya, hal ini mencerminkan tanggung jawab dan kepatuhan terhadap peraturan yang berkembang.
“Reklasifikasi ini bukan masalah bisnis, justru menjadi bukti bahwa kami menjalankan proses audit dan validasi secara menyeluruh agar laporan kami benar-benar mencerminkan kondisi riil perusahaan,” jelas Dadi. Ia juga menambahkan bahwa proses penyajian ulang dilakukan dengan pendampingan kantor akuntan publik bereputasi sehingga laporan tersebut memenuhi PSAK dan regulasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) secara menyeluruh.
Walaupun proses reklasifikasi menyebabkan keterlambatan dalam penerbitan laporan keuangan 2024, manajemen CIU Insurance memastikan bahwa keputusan itu diambil demi kualitas pelaporan yang lebih andal. Penyesuaian ini memperlihatkan bagaimana CIU Insurance menempatkan tata kelola dan akurasi informasi keuangan sebagai prioritas utama. “Kami yakin, perbaikan proses ini memperkuat posisi CIU Insurance sebagai entitas yang patuh, bertanggung jawab, dan transparan di industri asuransi,” tegas Dadi.
Untuk 2025, CIU Insurance menargetkan premi bruto sebesar Rp1,13 triliun dengan proyeksi laba bersih Rp25,98 miliar. Target ini diposisikan secara moderat seiring dengan langkah konsolidasi internal, pembaruan manajemen, serta peningkatan layanan kepada nasabah. Perusahaan juga menargetkan pencapaian risk based capital (RBC) sebesar 163% di akhir 2025, naik dari tahun sebelumnya yang tercatat 150,9%.
Adapun strategi CIU Insurance untuk mencapai target itu tetap mengandalkan pengembangan pasar dan produk yang inovatif, pemanfaatan teknologi yang terintegrasi, serta penguatan tata kelola berbasis regulasi terbaru, seperti IFRS 17 dan PSAK 109. Dengan langkah-langkah strategis itu, CIU Insurance yakin akan dapat memperkuat posisinya sebagai pemain utama di industri asuransi umum yang adaptif, tangguh, dan tepercaya.
Menurut Direktur CIU Insurance, Dadi Adriana, keberhasilan tersebut merupakan hasil dari penerapan strategi komprehensif yang menyentuh berbagai aspek bisnis, mulai dari pengembangan produk dan teknologi, penguatan tata kelola dan sumber daya manusia (SDM), hingga pengelolaan keuangan yang sehat dan patuh regulasi. “Kami membangun fondasi yang kokoh melalui pemanfaatan sistem informasi yang terintegrasi dengan ekosistem bisnis, sekaligus menjalankan prinsip good corporate governance (GCG) secara konsisten,” ujarnya kepada Infobank, akhir Juli lalu.