Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Homo Ludens

Penulis adalah Ketua dewan Pers

Oleh Komaruddin Hidayat
Sumber: Istimewa

Sumber: Istimewa

Ke mana pun Anda pergi akan menemukan sebuah fakta sosial bahwa manusia itu makhluk yang senang bermain. Beragam jenis permainan telah diciptakan. Ada permainan untuk anak-anak, ada permainan untuk orang dewasa. Tak terhitung jenis permainan yang diciptakan oleh ma nu sia. Mungkin yang paling populer dan menyedot perhatian masyarakat dunia adalah sepak bola. Manusia adalah makhluk yang senang bermain, atau disebut juga homo ludens

     Istilah homo ludens diperkenalkan oleh Johan Huizinga (1872-1945), seorang sejarawan Belanda. Dia mengatakan bahwa bermain merupakan elemen pokok dalam kebudayaan manusia. Bermain bukan sekadar hiburan atau keisengan. Bermain juga dapat untuk mengekspresikan sebuah kreativitas, keindahan, skill, dan daya kritis. 

      Tak kalah penting, permainan juga bisa menjadi medium untuk membangun hubungan sosial dan persahabatan. Dalam dunia pendidikan, bermain dapat menjadi medium pembentukan karakter, team building, dan melatih sikap sportif. Berbagai jenis permainan lazim diselenggarakan sebagai ajang pertandingan dengan semangat persahabatan. Perbedaan etnis, agama, bahasa, dan bangsa bisa melebur dalam sebuah pertandingan olahraga yang dimainkan secara bersama. 

     Dalam masyarakat tradisional, banyak ragam permainan anak-anak yang murah meriah sebagai medium hiburan. Namun, di zaman modern dan di daerah perkotaan, berbagai jenis permainan tradisional tak lagi dikenal. Tergantikan oleh permainan digital untuk mengurangi stres akibat tekanan hidup dan impitan masalah sosial. Bagi orang kota, ongkos untuk bermain itu mahal. Padahal, permainan orang kota yang katanya elite dan mahal, seperti golf, konon awalnya merupakan permainan para penggembala domba di Inggris. Mestinya bisa dibuat murah. 

      Menurut Huizinga, permainan (play) merupakan aspek fundamental dalam peradaban manusia, bahkan lebih mendasar daripada homo faber (manusia pencipta alat) atau homo sapiens (manusia berpikir). Secara umum, permainan memiliki beberapa ciri, antara lain dilakukan secara sukarela dan bebas, terpisah dari rutinitas kehidupan sehari hari, memiliki aturan yang disepakati, serta menciptakan keterikatan emosional. 

       Di zaman modern, permainan yang semula dilakukan secara spontan dan sukarela cenderung kehi langan elemen “semangat bermain”, berubah menja di profesi yang serius dan cenderung mekanistik.

 


         Dikemas dan dirancang menjadi bagian dari sema ngat kapitalisme yang diselenggarakan secara profesional yang mendatangkan keuntungan materi dan popularitas. Maka, bermunculan pusat-pusat latihanuntuk mencari bibit unggul dan calon bintang. Bintang-bintang atlet itu  disiapkan untuk bertanding dalam panggung gemerlap semacam Olimpiade ataupun Asian Games. Lebih dari sekadar ekspresi hobi, menjadi atlet profesional adalah pilihan karier untuk mengejar status sosial. 

         Mengingat bermain adalah elemen dasar naluri dan budaya, maka dalam berbagai aspek dan sepak terjang kehidupan manusia selalu saja dijumpai elemen permainan. Misalnya, panggung politik, tetap saja ada elemen permainannya. Begitu pun dalam peperangan, ada unsur pertandingannya disertai seni petak umpet.  

      Naluri bermain inilah yang ditangkap oleh industri kapitalisme dengan membuat gadget dan komputer yang menyediakan beragam aplikasi permainan. Ketika Anda menaiki pesawat terbang, duduk di kelas bisnis, salah satu hiburan yang ditawarkan adalah permainan di layar depan kursi Anda untuk mengusir rasa jenuh. 

       Ketika aktivitas bermain disertai insentif hadiah bagi pemenangnya, permainan pun makin mengasyikkan dan bisa membuat kecanduan (addicted). Inilah yang terjadi pada anak-anak. Mereka bisa menghabiskan waktu berjam-jam di sudut play station. Sebagian orang malah ada yang bermain dengan merasakan sensasi menyetir mobil listrik terbaru dengan segala fasilitasnya yang canggih. Mereka membeli dan ber gonta-ganti mobil layaknya membeli handphone. Di situ yang menonjol bukan lagi sebuah permainan yang dilakukan secara sukarela dan bersifat sosial, melainkan sudah mengejar kepuasan pribadi yang hedonistik dan mahal. 

      Berbahagialah mereka yang bisa menemukan makna dan kebahagiaan dalam permainan, sekali pun tidak harus mengeluarkan biaya yang mahal. Bukankah hidup ini sebuah sandiwara, serial permainan hidup? Pandai-pandailah menemukan makna dan kebahagiaan di sana.

 

     Istilah homo ludens diperkenalkan oleh Johan Huizinga (1872-1945), seorang sejarawan Belanda. Dia mengatakan bahwa bermain merupakan elemen pokok dalam kebudayaan manusia. Bermain bukan sekadar hiburan atau keisengan. Bermain juga dapat untuk mengekspresikan sebuah kreativitas, keindahan, skill, dan daya kritis. 

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi Agustus 2025

Rp 65.000

BELI