Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Mempersiapkan Talenta AI

Oleh Krisna Wijaya
Penulis adalah honorable Faculty lembaga Pengembangan Perbankan indonesia (lPPi). tulisan ini merupakan Pendapat Pribadi.

Penulis adalah honorable Faculty lembaga Pengembangan Perbankan indonesia (lPPi). tulisan ini merupakan Pendapat Pribadi.

ERA utilisasi artificial intel ligence (AI) dan generative artificial intelligence (GAI) tampaknya akan terus berkembang. Kehadirannya tidak hanya bermanfaat bagi entitas bis nis tapi juga masyarakat luas. Rasionali tas makin nyata ketika semua keprak tisan dan kecepatan menjadi pilihan, baik untuk perusahaan maupun individu. Kehadir annya harus diakui makin banyak memberikan berbagai kemudahan.

Dalam beberapa hal, apabila kita tidak menggunakan AI dan GAI akan dipersepsikan sebagai kelompok yang tidak kekinian. Anakanak zaman se karang sudah paham bagaimana menggunakannya, tanpa harus belajar. Berbeda ketika era kehadiran aplikasi Word, Excel, dan bahkan PowerPoint, banyak penyedia kursus/ pelatihan yang menawarkan jasanya, yang kemudian direspons masyarakat.

Rasarasanya, kalau sekadar meng gunakan AI dan/atau GAI, kita semua bisa. Tanpa perlu kursus. Sudah banyak kemudahan yang di berikan AI dan/atau GAI. Menurut Anthony Cardillo (2025), pada 2025 tercatat 71% perusahaan telah me laporkan penggunaan GAI. Setidaknya di salah satu fungsi bisnis di organi sasinya. Selain itu, sekitar 92% per usahaan berencana meningkatkan investasi mereka terkait AI selama tiga tahun ke depan, dan lebih kurang 90% perusa haan sedang mengguna kan atau mengeksplorasi penggunaan AI. Edge AI and Vision Alliance (2025) memperkirakan, lebih dari 378 juta orang di seluruh dunia akan menggunakan AI pada akhir 2025. Peningkatan yang signifikan diban dingkan dengan 2021, yang pada saat itu baru sekitar 154 juta orang yang menggunakan AI. Sementara itu, GAI yang relatif lebih baru dipasarkan yaitu pada 2022, jumlah penggunanya diperkirakan telah mencapai 180 juta pada awal 2025. Fakta lainnya, ada sekitar 333,34 juta perusahaan di seluruh dunia yang sedang menggunakan atau meng eksplorasi AI dalam operasional bisnis mereka.

Edge AI and Vision Alliance juga menyampaikan bahwa sekitar 72% dari per usahaan tersebut meyakini bahwa AI dan GAI akan berdampak pada bis nis mereka, yang membutuhkan waktu sekitar lima tahun. Lalu, apa saja yang lebih banyak mendapat perhatian per usahaan terkait penggunaan AI dan GAI – dan dirasakan manfaatnya? Ternyata, penggunaan AI dan/atau GAI antara lain dapat meningkatkan layanan pelanggan (56%), keamanan siber dan pencegahan penipuan (51%), sebagai asisten digital (47%), meningkatkan hubungan dengan pelanggan (46%), dan untuk penge lolaan manajemen persediaan (40%).

Menurut studi terbaru yang disampai kan AI Expert (2025), terdapat sekitar 1,5 juta pakar AI di seluruh dunia. Angka tersebut sangat kecil jika dibandingkan dengan permintaan yang terus meningkat akan solusi berbasis AI dan/atau GAI. Kondisi ini secara tidak langsung menunjukkan adanya ketertinggalan dalam hal menyiapkan para talenta di bidang AI.

Kehadiran AI dan/atau GAI juga meningkatkan pasar jasa konsultasi. Menurut World Economic Forum (2025), pasar konsultasi AI secara global bernilai sekitar US$8,75 miliar pada 2024 dan diproyeksikan men capai sekitar US$58,19 miliar pada 2034.

Membeli atau Menciptakan

Harus diakui bahwa kehadiran AI dan/atau GAI akan berdampak pada formasi sumber daya manusia (SDM) yang diperlukan. Saya sendiri tidak pernah sependapat bahwa kehadiran AI dan/atau GAI harus diikuti oleh pemutusan hubungan kerja (PHK). Faktanya tidak semua kegiatan perusaha an yang menggunakan AI, misalnya, harus ditindak lanjuti dengan PHK.

Ada semacam indikasi bahwa pekerjaan yang bisa digantikan oleh AI dan/atau GAI menurut Goldman Sachs (2024) hanya sekitar 25% untuk kegiatan rutin yang dapat mengguna kan robot. Sementara, menurut data Statista (2024), diper kirakan 69 juta pekerjaan baru akan tercipta setelah transisi AI. Namun, di lain sisi, sekitar 83 juta peker jaan diperkirakan akan hilang dalam lima tahun ke depan karena kehadiran AI dan/atau GAI.

Dengan memperhatikan hal tersebut, tidak dapat disangkal bahwa akan ada pengambilalihan pekerjaan manusia oleh AI dan/atau GAI. Namun, harus juga diperhatikan, sekitar 23% pekerjaan yang saat ini masih dilakukan manusia bukan berarti tidak diperlukan lagi dalam mengelola perusahaan. Sehubungan dengan itu, perlunya menyiapkan SDM sedini mungkin untuk melakukan pekerjaan baru yang tidak bisa digantikan oleh AI dan/atau GAI.

Terkait dengan penggunaan AI, Indonesia saat ini masuk ke dalam negaranegara teratas di dunia dalam hal jumlah pengguna. Akan tetapi, dalam hal talenta AI, Indo nesia masih jauh terting gal. Nezar Patria, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), menyampaikan, Indonesia membutuhkan sekitar 12 juta orang pada 2030 un tuk mendukung pertum buhan ekonomi digitalnya, termasuk AI.

Ekosistem digital yang ada saat ini hanya dapat memasok sekitar 3 juta. Perhitungan kasarnya, selama lima tahun ke depan, Indonesia harus dapat menyediakan talenta AI sekitar 1,8 juta per tahun. Berdasarkan hal tersebut, ada beberapa catatan yang perlu menda patkan perhatian, antara lain sebagai berikut.

Pertama, apakah akan mencipta kan talenta AI atau “membeli”. Pilih an ini tidak bisa diabaikan karena untuk mengejar keterting galan pasokan talenta AI sementara ini hanya itu pilihannya. Namun, secara realistis, tampaknya perusahaan harus mencipta kan talenta AI untuk tujuan keberlanjutan dengan me manfaatkan para pekerja yang ada. Hal lain yang mungkin menjadi kendala adalah apabila harus “membeli” dari sumber yang ada, karena persediaannya juga terba tas. Namun, memanfaatkan pekerja yang ada juga akan menimbulkan pertanyaan, apakah bisa pekerja yang ada beralih profesi menjadi talent pool AI, misalnya? Mungkin dalam kon teks bagaimana menjadi ahli AI agak sulit karena terkait dengan minat dan tentunya kompetensi. Hal yang harus mulai dilaku kan adalah ketika melaku kan penambahan pegawai baru yang spesifikasinya tidak berdasarkan kompe tensi IT. Bisa saja dilaku kan seperti biasanya tapi dalam pendidikan dan pelatihan internalnya lebih dominan terkait materi IT. Sebab, apabila hanya menggunakan AI berdasar kan kajian Microsoft dan Linkedln (2024), 92% pekerja di Indonesia telah mengguna kan GAI di tempat kerjanya, bahkan melampaui ratarata global yang hanya 75% dan 83% untuk kawasan Asia Pasi fik. Kondisi ini ditunjang oleh hasil kajian lainnya dari Microsoft dan Linkedln yang menyatakan bahwa 92% pemimpin bisnis Indonesia menyata kan penting nya adopsi AI agar perusahaannya tetap kompetitif. Kedua, diperlukan pendekatan yang berbeda jika perusahan me mutus kan untuk mendapatkan talenta AI dari luar per usahaan. Perusahaan mau tidak mau memosisi kan diri pada pihak yang membutuh kan sehingga harus ada pendekatan yang berbeda. Jadi, harus ada prinsip yang disadari sepenuhnya karena membutuhkan. Dalam praktiknya, meskipun berada pada posisi yang membutuhkan, banyak perusahaan

tetap beranggapan bahwa mereka (para talenta AI) yang membutuh kan. Dalam kaitan ini, perusahaan selain harus mampu menawarkan remunerasi yang menarik, juga harus memperhati kan cara pen dekatannya. Tidak harus selalu mengutamakan kompensasi. Perusahaan juga dapat menawarkan daya tarik lainnya.

Daya tarik yang justru pen ting untuk diperhati kan antara lain kecepatan dalam prosesnya. Mengapa hal ini penting, sebab bagi para talenta AI, selain ada pening katan pendapatan, per usahaan harus dapat mem beri kan daya tarik secara nonfinansial. Hal yang paling banyak di inginkan adalah adanya jenjang karier. Sebab, dalam praktiknya, banyak perusahaan yang menjelas kan bahwa kesempatan itu ada tapi implementasinya tidak selalu sesuai dengan yang dijanjikan.

Masalah teknis lainnya yang juga penting untuk diperhatikan adalah siapa yang menjadi pewa wan ca ra. Banyak dijumpai, karena pewawan cara tidak menguasai AI, antu siasme para talenta AI menjadi berkurang karena dikhawa tirkan penjelasannya tidak bisa dipahami dengan baik, apalagi bila menyang kut masalah teknis. Tentu nya hal itu harus di pahami karena informasi yang akan digali lebih fokus pada AI.

Menurut Vinciane Beauchene dan Julie Bedard et al (BCG, 2023), hal lain yang harus diper ha tikan pewawan cara ialah fokus untuk menggali peng alaman calon, memahami apa yang diinginkan, dan adanya kepastian apakah si calon diterima atau tidak dalam waktu yang singkat. Disa rankan untuk meminimal kan waktu dari wawancara akhir sampai ke putusan apakah diterima atau tidak.

Catatan Penutup

Harus disadari bahwa mengem bangkan talenta AI membutuhkan pendekatan yang tepat. Menurut McKinsey (2024), transfor masi talenta dimulai dengan mengembangkan rencana tenaga kerja strategis yang dibangun berdasarkan keterampilan. Atas dasar itu, maka pe ngembangan keterampilan para pekerja di bidang IT khususnya harus terpro g ram secara sistematis dan berkelanjutan.

Program tersebut ten tunya bukan hanya pada talenta AI yang berasal dari eksternal tapi juga dari kalangan internal. Perusa haan bagaimanapun juga harus memberikan kesempatan yang sama karena apabila tidak dilakukan bisa saja terjadi perpindah an talenta AI, baik yang dari dalam perusahaan maupun yang dari luar per usahaan. Posisi mereka yang makin strategis dan langka bisa membuat mereka mudah pindah kapan saja.

Karena kekinian IT yang selalu cepat berkem bang, maka idealnya pemenuhan para talenta AI dikem bangkan sendiri oleh perusahaan. Ini bagian dari upaya melakukan per ubahan dari “membeli” talenta AI menjadi menciptakan talenta AI.

Bagaimanapun, menciptakan talenta AI oleh perusahaan itu lebih baik. Paling tidak mereka sudah me mahami apa yang diper lukan per usahaan dan tentunya budaya kerja yang sudah mereka pahami dan lakukan. Untuk itu, diperlu kan ke jelasan dan konsis ten si perusahaan terkait dengan jalur karier yang pasti, kompensasi yang sesuai, dan suasana kerja yang kondusif. Mencipta kan suasana perusahaan yang nyaman dan menye nangkan adalah sesuatu yang penting sebagai salah satu daya tarik.

Dalam beberapa hal, apabila kita tidak menggunakan AI dan GAI akan dipersepsikan sebagai kelompok yang tidak kekinian. Anakanak zaman se karang sudah paham bagaimana menggunakannya, tanpa harus belajar. Berbeda ketika era kehadiran aplikasi Word, Excel, dan bahkan PowerPoint, banyak penyedia kursus/ pelatihan yang menawarkan jasanya, yang kemudian direspons masyarakat.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi Agustus 2025

Rp 65.000

BELI