Tak butuh gedung megah untuk merawat mimpi besar. Dari ruang sederhana, keyakinan dan nilai sang panutan jadi fondasi. Dari titik nol, pemimpin satu ini sedang membangun legacy yang kokoh untuk generasi berikutnya.
HENGKY DJOJOSANTOSO, PRESIDEN DIREKTUR CIPUTRA LIFE
Hengky Djojosantoso, Presiden Direktur Asuransi Ciputra Indonesia (Ciputra Life), barangkali salah satu contoh langka di industri asuransi jiwa Indonesia. Ia tidak melanjutkan tongkat estafet bisnis yang sudah mapan, tetapi membangun segalanya dari lembar kertas kosong. Benar-benar dari titik nol.
Pada 2016, Hengky dipercaya langsung oleh mendiang Ciputra, pendiri Ciputra Group, untuk merintis Ciputra Life, perusahaan asuransi jiwa di bawah payung raksasa Ciputra Group. “Saya bersyukur diberi kesempatan ini. Mungkin tidak akan terulang lagi seumur hidup saya membangun perusahaan dari nol. Saya beruntung dipercaya Pak Ciputra, keluarga, dan para pemegang saham,” kenang Hengky saat berbincang dengan Infobank di kantornya, Jakarta, pada Jumat, 20 Juni 2025.
Waktu itu, kata Hengky, tak ada gedung megah, tak ada tim besar. Hanya ada keyakinan dan kerja keras. Perjuangan Hengky dimulai dari ruang bekas perpustakaan Ciputra Group sebagai kantor perdana. Dari ruang sederhana itulah Hengky menyiapkan izin, merekrut orang, membangun sistem, hingga akhirnya Ciputra Life resmi beroperasi pada Februari 2017.
Pertanyaannya, mengapa ia mau mengambil tantangan sebesar itu? Padahal, saat itu, sebelum hijrah ke Ciputra Life, boleh dibilang Hengky sudah berada di puncak karier: menjabat sebagai Direktur Utama AXA Life Indonesia.
“Kalau orang bilang, kok saya nekat, padahal di posisi sebelumnya saya sudah nyaman. Tapi, saya yakin, orang lokal pun bisa membangun perusahaan keuangan yang sehat dan berkelanjutan,” ujar pria yang mulai terjun ke industri asuransi pada 2003 ini.
Setelah delapan tahun berlalu, Ciputra Life menjadi perusahaan asuransi jiwa lokal yang patut diperhitungkan. Namun, menurut Hengky, ini masih langkah awal. Perjalanannya masih panjang. “Perusahaan ini masih bayi. Tugas saya adalah meletakkan fondasi agar tetap kuat sampai diteruskan generasi selanjutnya,” tutur pria yang hobi baca buku tentang self development, bisnis, dan ekonomi ini.
Bagi pria kelahiran Surabaya, 21 Juli 1974, ini, sosok Pak Ciputra bukan sekadar pendiri, tetapi juga teladan hidup serta panutan dalam berpikir, bertindak, dan memimpin. Nilai-nilai inti yang diwariskan, yakni Integritas, Profesionalisme, dan Entrepreneurship (IPE), menjadi pegangan yang tak pernah ia lepaskan. “Integritas itu nomor satu. Di industri keuangan, kalua tidak punya integritas, risikonya bisa sangat berbahaya,” tegas Hengky, yang mengawali kariernya sebagai bankir di The Hongkong and Shanghai Banking Corporation (HSBC) Jakarta pada 2000.
Kemudian, nilai entrepreneurship juga ia pegang erat sebagaimana pesan Pak Ciputra yang selalu diingatnya: “mengubah rongsokan menjadi emas”. Filosofi itu membuatnya terbiasa menangkap peluang dari hal-hal yang sering dipandang sepele. Hengky percaya, inovasi lahir dari keberanian membaca celah yang diabaikan orang lain. “Kita harus selalu melihat peluang, berinovasi, menumbuhkan nilai dari hal-hal yang awalnya tidak dianggap,” katanya.
Sedangkan profesionalisme, baginya, adalah soal menjaga kompetensi, standar kerja, dan kepercayaan publik. Prinsip IPE itu kini ia kembangkan menjadi lima pilar utama: integritas, profesionalisme, entrepreneurship, kepedulian pada pelanggan, dan semangat kebersamaan tim. Kelima pilar itu bukan sekadar slogan di dinding kantor, tetapi juga napas yang menjiwai budaya kerja Ciputra Life setiap hari.
Terhitung sudah lebih dari 20 tahun Hengky menekuni industri asuransi. Pengalaman menjadikannya salah satu sosok senior di tengah dominasi generasi muda di industri ini. Sebagai pemimpin lintas generasi, Hengky terbiasa berinteraksi dengan tim yang sebagian besar diisi talenta muda. Baginya, kunci memimpin generasi milenial bukan hanya target angka, tetapi juga nilai dan budaya yang kokoh.
“Kalau hanya mengejar angka tanpa nilai, perusahaan tidak akan punya fondasi,” ujar peraih gelar sarjana teknologi kimia dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan M.Com in funds management dari University of New South Wales, Australia ini.
Sama halnya dengan memimpin Ciputra Life, yang berarti harus menjaga warisan nilai, membangun tim solid, dan meletakkan dasar agar perusahaan tetap tumbuh, meski tongkat estafet kelak berpindah tangan.
Seperti kata Pak Ciputra, “mengubah rongsokan menjadi emas”, Hengky bisa membuktikan bahwa impian besar tak butuh gedung megah di awal. Cukup keberanian melihat peluang, nilai-nilai yang dijaga, dan ketekunan untuk merawatnya. Sisanya, waktu yang akan membuktikan: warisan baik tak pernah hilang arah. Ia akan selalu menemukan jalannya, melintasi zaman, seperti rongsokan yang pelan-pelan berubah menjadi emas.
Strategi Bertahan, Dari Ekonomi Lambat Ke Mitra Kuat
Kondisi perekonomian saat ini sedang menantang. Bagi Ciputra Life, apa tantangan terbesarnya?
Sebagai pelaku industri, kami harus tetap optimistis. Tahun ini, kami akui situasinya cukup menantang. Hal ini juga dirasakan oleh para mitra bisnis kami. Kalau berbincang dengan bank atau perusahaan pembiayaan, rata-rata mereka pun merasakan tekanan yang sama, terutama di paruh pertama tahun ini. Mudah-mudahan mulai Juni ke depan kondisinya membaik.
Tentu kami juga sudah menyiapkan beberapa langkah. Kami memiliki mitra eksisting yang jumlahnya besar dan beragam sehingga salah satu fokus kami adalah meningkatkan volume bisnis dari mereka dengan menjajaki segmen baru. Contohnya, selama ini kerja sama dengan bank kebanyakan di segmen KPR, ke depan kami ingin memperluas ke segmen atau produk lainnya. Hal yang sama juga berlaku untuk perusahaan pembiayaan.
Selain itu, kami terus menambah mitra baru. Karena, pada dasarnya, DNA Ciputra Group memang partnership. Ciputra Group sendiri memiliki ratusan mitra. Jadi, kami pun bertumbuh dengan semangat yang sama: berkolaborasi dan tumbuh bersama para partner kami.
Apa strategi Ciputra Life untuk meningkatkan bisnis?
Strategi yang pertama adalah dengan meningkatkan kontribusi bisnis dari mitra yang sudah ada. Kami berupaya menambah volume bisnis dengan menggali potensi segmen-segmen baru. Kedua, kami juga perlu menambah jumlah mitra baru, baik di sektor finansial maupun nonfinansial, salah satunya koperasi. Koperasi ini justru memiliki potensi besar, apalagi sekarang pemerintah tengah mendorong program Koperasi Merah Putih. Ini peluang yang sangat baik.
Pada kuartal pertama 2025, pendapatan premi masih stagnan dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Apa langkah yang disiapkan agar pertumbuhan bisa terakselerasi ke depannya?
Kami fokus memaksimalkan potensi dari mitra yang sudah ada, melihat apa saja yang masih bisa digarap, bagaimana bisnisnya bisa ditingkatkan, dan apa yang bisa disinergikan. Selain itu, kami mulai masuk ke segmen asuransi kesehatan. Saat ini, memang sedang banyak dibicarakan, apalagi setelah terbitnya SEOJK yang baru. Kebutuhan masyarakat akan asuransi kesehatan sangat besar, tetapi ekosistemnya memang masih perlu dibenahi. Karena itu, saya menilai aturan baru dari OJK ini sangat positif. Dan, kami tetap optimistis, premi Ciputra Life masih bisa tumbuh di atas 10% pada semester kedua tahun ini.
Bagaimana Ciputra Life menjaga manajemen risiko tetap kuat di tahun penuh tantangan ini?
Yang pertama, manajemen risiko harus baik, mulai dari risiko kredit, likuiditas, pasar, asuransi, sampai operasional. Untuk risiko kredit, saat investasi, kami pastikan kualitas obligasi yang kami beli minimal investment grade atau di atasnya. Rating minimal A atau A+. Untuk risiko likuiditas, kami kelola cash flow dengan baik agar klaim bisa dibayar tepat waktu. Risiko pasar, kami amati volatilitas pasar saham. Kalau tinggi, kami tidak memaksakan investasi besar di saham, lebih fokus ke obligasi pemerintah. Untuk risiko operasional, kami pastikan premi mencukupi. Jangan sampai premi tidak cukup untuk bayar klaim.
Apa visi Anda dalam lima tahun ke depan untuk Ciputra Life?
Visi kami membangun masa depan lebih baik. Bukan hanya untuk customer, tapi juga internal, yaitu karyawan. Artinya, karyawan juga harus berkembang dari sisi karier, keluarga, dan penghasilan. Perusahaan harus berkembang. Kami bangga Ciputra Life 100% dikelola anak bangsa, local people, local talent. Usia 50 tahun ke atas hanya 4-5 orang, lainnya muda-muda, di bawah 50. Jadi, orang lokal pun bisa membangun perusahaan asuransi yang sehat dan baik. AUS
Pada 2016, Hengky dipercaya langsung oleh mendiang Ciputra, pendiri Ciputra Group, untuk merintis Ciputra Life, perusahaan asuransi jiwa di bawah payung raksasa Ciputra Group. “Saya bersyukur diberi kesempatan ini. Mungkin tidak akan terulang lagi seumur hidup saya membangun perusahaan dari nol. Saya beruntung dipercaya Pak Ciputra, keluarga, dan para pemegang saham,” kenang Hengky saat berbincang dengan Infobank di kantornya, Jakarta, pada Jumat, 20 Juni 2025.