Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Menuju Ekosistem Yang Terintegrasi Dengan Open Banking

Open banking membuka peluang baru bagi perbankan untuk mengenali nasabah lebih dalam, sekaligus memperluas kolaborasi antar pelaku industri. Namun, ada tantangan di baliknya, yang harus diwaspadai.

Oleh Mohammad Adrianto Sukarso
Sumber: Istimewa

Sumber: Istimewa

     PERKEMBANGAN teknologi digital tidak hanya memanaskan persaingan di industri perbankan, tapi juga membuka ruang kolaborasi yang makin luas. Teknologi bukan lagi sekadar senjata untuk bersaing, melainkan jembatan yang menghubungkan para pemain industri, bahkan dengan sektor sektor non keuangan. Sinergi ini berpotensi melahirkan peluang peluang baru yang dulu tak terbayangkan. 

       Salah satu inovasi yang menjadi sorotan dalam Salah satu inovasi yang menjadi sorotan dalam integrasi ekosistem keuangan adalah open banking. Secara sederhana, open banking adalah praktik perbankan yang memungkinkan penyedia layanan keuangan pihak ketiga mengakses data perbankan, transaksi, hingga data keuangan lainnya. Proses ini dimung kinkan lewat pemanfaatan Application Programming Interface (API) yang telah distandarisasi. 

       Tentu saja, semua itu hanya dapat dilakukan atas izin dan persetujuan nasabah. Jika pengguna bank merestui data mereka untuk digunakan, bank bank dapat mengenali nasabah lebih mendalam, sehingga bisa menghadirkan layanan yang lebih personal dan tepat sasaran. 

 

 

        Perlahan namun pasti, pelaku perbankan berevolusi menjadi mitra strategis bagi nasabah dalam mengelola keuangan, baik individu maupun korporasi. Hal ini disampaikan oleh Dian Ediana Rae, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan merangkap Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Open banking bisa menjadi katalisator terciptanya ekosistem keuangan yang lebih inklusif.

     “Open banking memperluas akses keuangan bagi populasi yang unbankable, dan mendukung sektor keuangan yang lebih kuat. Ke depannya, open banking dapat menciptakan ekosistem keuangan yang lebih kompetitif dan mendorong kemitraan antara bank dan fintech,” ujar Dian, beberapa waktu lalu. 

         Kolaborasi ini bisa terjadi dalam banyak hal. Mulai dari menganalisis profil risiko nasabah, mendeteksi potensi fraud, hingga mempercepat proses know your customer (KYC). Open banking mem buat proses tersebut lebih cepat, efisien, dan akurat. Bank tidak lagi bekerja sendirian, tapi menjadi bagian dari ekosistem yang lebih luas, lantaran terintegrasi antara satu industri dan industri lainnya. 

       Menurut temuan Grand View Research, perusahaan riset asal Amerika Serikat (AS), pasar open banking di seluruh dunia berpeluang menyentuh angka US$135,17 miliar pada 2030. Angka tersebut melonjak sekitar 4,3 kali lipat dari 2024, yang sebesar US$31,61 miliar. 

       Tingkat pertumbuhan tahunan rata-rata kumulatif (CAGR) open banking selama 2025-2030 diper kirakan mencapai kisaran 27,6%. Di Asia Pasifik, CAGR teknologi ini pada periode yang sama berpotensi menembus 29,4%, seiring kesadaran pelaku perbankan akan manfaat besar yang ditawarkan open banking

      Angka-angka ini memang mencerminkan antusiasme pasar, sekali gus tekanan bagi industri keuangan untuk tidak ketinggalan. Implementasi open banking di Indonesia masih tergolong baru. Dan, seiring dengan manfaat besar yang ditawarkan, ada pekerjaan rumah yang tidak ringan. 

       Tidak semua bank siap untuk menghadapi derasnya arus teknologi dan digitalisasi, termasuk dalam menerapkan open banking. Bank bank berskala menengah dan kecil menghadapi tantangan signifikan untuk menerapkan teknologi ini, baik dari sisi infrastruktur, kesiapan sumber daya manusia (SDM), maupun investasi yang dibutuhkan. 

       Menurut Yoanna Darwin, Head of Treasury and Trade Solutions Citi Indonesia, kondisi tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara bank besar dan bank yang skalanya lebih kecil. Belum lagi, perbankan perlu menyesuaikan modul, sesuai dengan Standar Nasional Open API Pembayaran (SNAP) yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia (BI). Ini menjadi ujian tersendiri bagi bank yang memiliki sistemnya tersendiri. 

      “Pengembangan format dan standar spesifikasi yang mengadopsi format SNAP API di Indonesia membutuhkan sejumlah investasi dari berbagai sisi dalam pengembangan teknologi. Bagi kami, sebagai bank asing yang telah memiliki modul API atas turunan dari kantor pusat, cenderung memiliki standar dan spesifikasi yang berbeda yang telah diimplementasikan di berbagai negara,” jelasnya kepada Infobank, bulan lalu. 

       Namun, salah satu tantangan krusial yang perlu menjadi perhatian khusus adalah keamanan data. Open banking membuka akses data yang sangat luas. Ketika data menjadi komoditas berharga, risikonya pun makin tinggi. Keterbukaan data ibarat pedang bermata dua: memudahkan inovasi, sekaligus memancing kejahatan siber. 

 

 

      Fakta bahwa konsumen menyerahkan data mereka secara sukarela menjadikan persoalan keamanan ini makin sensitif. Sekali saja terjadi kebocoran data, kepercayaan publik bisa hilang. Padahal, bagi industri perbankan, kepercayaan adalah fondasi utama. Jangan sampai, karena nila setitik, rusak susu sebelanga. 

        Menurut Lani Darmawan, Direktur Utama Bank CIMB Niaga, demi meminimalisasi potensi risiko dari sisi keamanan siber, pelaku keuangan dan regulator perlu bahu membahu memba ngun kesiapan open banking yang membawa manfaat bagi stakeholders di dalamnya. 

       “Penerapan open banking memerlukan maturity yang kuat. Bukan saja dari sisi bank, namun juga sisi kontrol dan monitor dari regulasi yang mumpuni untuk mencegah dampak cyber, security, dan operational risk yang bisa merugikan masyarakat dan penyelenggara digital,” ungkap Lani melalui pesan singkat kepada Infobank, Juli lalu. 

        Dalam beberapa tahun ke depan, ekosistem perbankan Indonesia diprediksi akan makin bergeser, dari sekadar institusi penyedia layanan keuangan menjadi platform yang terhubung dengan berbagai sektor. Open banking menjadi salah satu pilar transformasi tersebut. Namun, ekosistem digital yang makin kompleks perlu diimbangi dengan kehati-hatian dalam mengelola risiko keamanan dan kepercayaan nasabah. 

      Masa depan open banking di Indonesia memang sarat potensi. Integrasi antar industri bukanlah mimpi yang sulit untuk diwujudkan. Jika tantangan ini mampu dijawab, open banking bukan hanya sekadar jargon, melainkan benar benar menjadi pintu gerbang inovasi yang membawa industri keuangan Indonesia naik ke level lebih tinggi. 

 

       Salah satu inovasi yang menjadi sorotan dalam Salah satu inovasi yang menjadi sorotan dalam integrasi ekosistem keuangan adalah open banking. Secara sederhana, open banking adalah praktik perbankan yang memungkinkan penyedia layanan keuangan pihak ketiga mengakses data perbankan, transaksi, hingga data keuangan lainnya. Proses ini dimung kinkan lewat pemanfaatan Application Programming Interface (API) yang telah distandarisasi. 

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi Agustus 2025

Rp 65.000

BELI