Saham perbankan, khususnya anggota indeks infobank15, menawarkan potensi investasi jangka panjang yang menarik berkat dividend yield tinggi. Dengan dukungan fundamental kuat dan konsistensi laba, bank-bank tersebut cenderung untuk strategi long term investment.
Sumber : Istimewa
SEKTOR perbankan Indonesia tetap menjadi tulang punggung pasar modal di tengah volatilitas, setelah terkoreksi imbas perang tarif hingga eskalasi geopolitik. Saat ini, saham perbankan menawarkan imbal hasil menarik melalui dividen.
Dalam berinvestasi saham, selain mengharapkan apresiasi harga, investor juga bisa mendapatkan pembagian hasil keuntungan emiten dalam bentuk dividen. Untuk membandingkan besaran dividen yang didapat dengan instrumen lainnya, umum nya digunakan rasio dividend yield, yaitu besaran dividen yang dibagikan dibandingkan dengan harga pembelian saham.
Untuk memanfaatkan kondisi ini, investor dapat melirik indeks berbasis saham perbankan seperti infobank15, yang mencakup 15 bank terpilih di Bursa Efek Indonesia (BEI). Per Juli 2025, infobank15 menjalani major review, tapi komposisi tetap dan bobot saham relatif tidak berubah yang menegaskan konsistensi kualitas emitennya (lihat tabel).
Sektor perbankan di Indonesia menjadi salah satu sektor terbesar secara kapitalisasi, didukung oleh pertumbuhan kredit, digitalisasi, dan inklusi keuangan. Infobank15 mencakup bank konvensional dan syariah, dari raksasa seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) hingga bank digital seperti PT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK). Bobot indeks didominasi empat bank besar – BBCA (20%), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk atau BBRI (20%), PT Bank Mandiri Tbk atau BMRI (20%), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk atau BBNI (20%) – yang bersama sama menyumbang 80% indeks. Bankbank ini menawarkan dividend yield tinggi: BBNI dan BBRI masingmasing 9,4%, BMRI 9,8%, dan BBCA 3,5%.
Sementara, bank dengan bobot kecil, seperti PT Bank Raya Indonesia Tbk atau AGRO (0,29%) dan PT Bank Jago Tbk atau ARTO (2,79%), memiliki dividend yield 0%. Ini mencerminkan bahwa fokus mereka sebagai bank digital masih pada pertumbuhan sehingga di 2024 belum membagikan dividen.
Dengan asumsi bahwa dividen 2024 akan setara, maka secara rata rata dividend yield tertimbang infobank15 saat ini sekitar 7%, jauh di atas suku bunga deposito yang saat ini di kisaran 4%. Dengan demikian, indeks ini menawarkan peluang investasi jangka panjang yang menarik.
Bank-Bank besar seperti BBRI, BMRI, dan BBNI menonjol dengan dividend yield tinggi, didukung oleh konsistensi laba dan fokus pada segmen UMKM (BBRI) serta korporasi (BMRI dan BBNI). BBCA, meski yield nya lebih rendah, tetapi merupakan saham yang dikenal defensif. Sementara, BJBR menawarkan yield tertinggi (10,7%), tapi bobotnya kecil (0,94%). Adapun bank syariah, seperti BRIS dan BTPS, memiliki yield rendah karena industri perbankan syariah tengah bertumbuh sehingga keuntungan sering diarahkan untuk ekspansi. Bank-bank ini memiliki keunggulan kompetitif yang kuat, seperti jaringan luas dan merek tepercaya yang membuat arus dividen stabil secara historis.
Untuk menikmati dividend yield ini, investasi pada infobank15 dapat juga dilakukan melalui reksa dana berbasis indeks. Pilihan ini memungkinkan investor menikmati dividen tinggi tanpa perlu memilih saham individu, mengurangi risiko spesifik emiten. Saat ini, terdapat empat produk reksa dana berbasis infobank15, yakni Maybank Financial Infobank15 Index Fund dari Maybank Asset Management, PNM Indeks Infobank15 dari PNM Investment Management, Setiabudi Indeks Infobank15 dari Setiabudi Investment Management, dan Star Infobank15 dari Star Asset Management.
Dividend yield yang tinggi di atas deposito dan valuasi saham perbankan yang murah tentu menarik bagi investor jangka panjang untuk memanfaatkan hal ini dalam mengakumulasi, baik langsung melalui sahamnya maupun lewat reksa dana berbasis perbankan. Namun, tentu saja investor tetap harus mempertim bang kan volatilitas lebih lanjut terkait dengan ketidakpastian kebijakan perang tarif dari Amerika Serikat (AS) dan potensi penurunan suku bunga yang dapat tertunda. Meski demikian, risiko ini dapat dimitigasi dengan berinvestasi secara rutin dan berkala.
Dalam berinvestasi saham, selain mengharapkan apresiasi harga, investor juga bisa mendapatkan pembagian hasil keuntungan emiten dalam bentuk dividen. Untuk membandingkan besaran dividen yang didapat dengan instrumen lainnya, umum nya digunakan rasio dividend yield, yaitu besaran dividen yang dibagikan dibandingkan dengan harga pembelian saham.