Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Ada Ruang Tumbuh di Tengah Tantangan

BPD selalu mempunyai ruang untuk tumbuh, dengan mengoptimal­kan captive market yang besar. Tapi, rencana pemangkasan dana TKD bisa berdampak ke likuiditas.

Oleh Ari Astriawan
Sumber : Istimewa

Sumber : Istimewa

OPTIMISME pengurus bank pembangunan daerah (BPD) sedikit menebal me­masuki kuartal akhir 2025. Langkah Bank Indonesia (BI) me­nurunkan tingkat suku bunga acuan menjadi angin segar. Keputus­an bank sentral itu diharapkan bisa men­dorong kredit melaju lebih cepat, sekaligus menekan cost of fund (biaya dana). Dengan begitu, performa bis­nis industri BPD yang sedikit me­lambat di paruh pertama 2025 bisa kembali terakselerasi.

Biro Riset Infobank (birI) mencatat, di semester pertama 2025, kredit industri BPD hanya tumbuh 4,06% year on year (yoy). Lebih rendah dari kredit industri bank umum yang naik 7,92%. Laju kredit BPD per Juni 2025 juga lebih lambat ketimbang akhir 2024 di posisi 6,49%.

Dana pihak ketiga (DPK) industri BPD hanya tumbuh 2,36% dari 3,06% di akhir 2024. Penurunan ini tak lepas dari me­nurunnya kemampuan masyarakat dalam menabung. Ditambah lagi, bank makin selektif menghimpun dana mahal demi menjaga profit­abilitas. Kabar baiknya, perolehan laba yang di akhir 2024 terkoreksi 10,45%, berbalik tumbuh positif 4,60% per Juni 2025.

Di lain sisi, kualitas aset sedikit memburuk. Di Juni 2025, rasio NPL industri BPD berada di posisi 2,98%, naik dari 2,51% di periode yang sama tahun se­belumnya. Angka ini juga lebih tinggi dibandingkan dengan industri bank umum yang berada di level 2,22%.

 Gusti Candra, Direktur Utama Bank Nagari, meng­ung­kapkan bahwa per­bankan meng­hadapi sejumlah tantangan di paruh kedua 2025. Tantangan yang utama adalah men­­jaga kualitas aset. Meski masih dalam rentang aman threshold yang diten­tukan regulator (Otoritas Jasa Keuang­­an/OJK), tren kenai­kan NPL tetap harus men­dapat­kan perhati­an.

Tan­tang­an berikutnya adalah me­ningkatkan infra­struk­tur digital atau keandalan teknologi. Ini penting guna me­masti­kan perlin­dungan dari se­rangan siber. Selanjutnya, bagai­mana bank meningkat­kan efisiensi operasi­onal untuk menekan biaya overhead yang pada akhirnya berimplikasi pada kemampuan menghasilkan laba dan capaian target rasio-rasio keuangan.

“Perbankan tetap melihat prospek sumber pertumbuhan dari penggerak ekonomi yang selama ini cukup dominan, yaitu UMKM dan pelaku di sektor perumahan, ter­utama yang berhubungan atau mendapatkan dampak positif dari program Asta Cita pemerintah, seperti multiplier effect dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih, Sekolah Rakyat, Sekolah Unggul, progul (program unggulan) kesehatan, pendidikan, serta kondisi sektor-sektor yang lagi bagus, seperti perkebunan, pertani­an, peternakan, perikanan, jasa-jasa, pariwisata, dan konsumsi masya­rakat,” papar Gusti kepada Infobank.

Pertumbuhan bisnis perbankan, lanjut Gusti, juga akan dipengaruhi dinamika politik dan sosial. Stabilitas politik akan memengaruhi kepercaya­an dan keputusan investor atau pe­laku usaha. Mereka akan memper­hatikan arah kebijakan, termasuk soal regulasi dan insentif, sebelum mengambil keputusan.

Di lain sisi, perubahan sosial, seperti tren demografi, digitalisasi, dan kebutuhan pasar yang kian dinamis akan berimbas pada jenis layanan dan produk perbankan yang diminati nasabah.

Hal senada diungkapkan Syahrizal Imbar, Direktur Utama Bank Maluku dan Maluku Utara (Bank Maluku Malut). Menurutnya, tantangan per­bankan, khususnya BPD, adalah men­jaga kualitas aset di tengah ke­tidak­pastian ekonomi yang masih tinggi. BPD juga harus menjaga likui­ditas dan beradaptasi dengan percepatan digitalisasi. Namun, di balik berbagai tantangan itu, peluang bertumbuh juga terbuka lebar, terutama karena konsumsi domestik masih cukup kuat dan belanja pemerintah daerah (pemda) yang biasanya meningkat jelang akhir tahun.

Karena itu, bankir-bankir BPD mesti memperkuat manajemen risiko, mendorong penyaluran kredit yang sehat, serta memperluas layanan digital agar lebih inklusif. Kolaborasi dengan pemda menjadi kunci untuk mengoptimalkan peran BPD sebagai motor pembangunan daerah. 

Penurunan suku bunga acuan ke level 4,75% juga menjadi angin segar bagi dunia usaha dan perbankan. Tren suku bunga yang mulai melandai membuka peluang lebih besar bagi pertumbuhan kredit, khususnya ke sektor produktif. Di lain sisi, DPK juga berpotensi tumbuh stabil karena likuiditas masih relatif terjaga. Tantangan bagi perbankan adalah menjaga keseimbangan antara per­tumbuhan kredit, penghimpunan dana, dan efisiensi operasional agar margin tetap terjaga dengan baik.

“Tahun depan, prospeknya relatif lebih cerah. Pertumbuhan ekonomi nasional diproyeksikan tetap positif, inflasi terkendali, dan pembangunan daerah makin digencarkan. Meski te­tap perlu mengantisipasi risiko eks­ternal, seperti perlambatan eko­nomi global atau fluktuasi harga komoditas, peluang bagi BPD justru sangat besar. BPD memiliki ruang untuk memper­kuat peran dalam mendukung pem­biayaan pembangun­an daerah, mendorong UMKM, dan memper­cepat digitalisasi layanan agar makin dekat dengan masya­rakat,” kata Syahrizal kepada Infobank.

Sementara itu, Arif Suhirman, Direktur Bisnis Menengah, Korporasi, dan Jaringan Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur (Bank Jatim), mengatakan. Perekonomian regional memang masih dibayangi beberapa tantangan, seperti masih lemahnya daya beli masyarakat, terbatasnya jumlah ketersediaan pekerjaan yang mengakibatkan penurunan demand kredit dan pengalokasian simpanan masyarakat di bank, serta masih belum settle-nya kualitas kredit.

“Apabila pemerintah mampu mengatasi tantangan di level funda­mental tersebut melalui berbagai stra­tegi, baik kebijakan maupun inter­vensi, kami rasa, prospek ekonomi di 2026 akan lebih baik. Sektor yang punya ruang tumbuh selain captive market adalah sektor pariwisata, pendidikan, serta perdagangan,” ujarnya ketika dihubungi Infobank.

Terkait dengan rencana pemerin­tah memangkas dana transfer ke daerah (TKD) dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026, Arif mengaku, hal itu bisa memengaruhi likuiditas BPD. TKD berkontribusi sekitar 60% terhadap total keuangan daerah.

Di Bank Jatim, komposisi anggaran pemerintah dan dana masyarakat terhadap total DPK relatif berimbang. Bank Jatim juga sudah menyiapkan strategi berkesinam­bungan dalam pengelolaan DPK, yang lebih menyasar masyarakat. Misalnya, melalui pembentukan ekosistem keuangan yang memanfaatkan captive market sistem keuangan pemda dan trickledown/support system di bawahnya, seperti BUMD, BLUD, rekanan pemerintah, universitas, dan RSUD. Ekosistem itu dibangun berbasis digital sehingga dari hulu ke hilir terjaga.

Mempertimbangkan berbagai dinamika yang ada, Infobank juga meyakini, tahun depan bisnis BPD masih akan tetap tumbuh positif. Ketersediaan captive market besar sesuai dengan nature bisnisnya BPD menjadi penopang pertumbuhan. Tapi, jika ingin tumbuh lebih besar, BPD harus keluar dari zona nyaman, ekspansi ke luar captive market.

Tahun depan, kredit industri BPD diproyeksikan tumbuh moderat di kisaran 5%-10%. Secara fundamental, BPD masih punya tenaga besar untuk memacu pertumbuhan. Loan to deposit ratio (LDR) masih di level optimal 83,28%, ditambah rasio kecukupan modal di posisi 25,83%, industri ini memiliki modal kuat untuk membiayai ekspansi.

 

Biro Riset Infobank (birI) mencatat, di semester pertama 2025, kredit industri BPD hanya tumbuh 4,06% year on year (yoy). Lebih rendah dari kredit industri bank umum yang naik 7,92%. Laju kredit BPD per Juni 2025 juga lebih lambat ketimbang akhir 2024 di posisi 6,49%.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi Oktober 2025

Rp 65.000

BELI