Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Outlook 2026 - Fintech Lending

Tantangan Memperkuat Trust dan Tata Kelola

Konsistensi pelaku pindar di 2025 patut diacungi jempol. Mereka mampu mempertahankan pertumbuhan kinerja di tengah pelbagai tantangan. Kepercayaan terhadap industri ini sedang diuji.

Oleh Mohammad Adrianto Sukarso
Fintech Lending

Fintech Lending

BANYAK tantangan menghampiri industri financial technology peer to peer lending (fintech lending) atau pinjaman daring (pindar) sepanjang 2025. Selain harus menghadapi kondisi pelemahan daya beli, karut-marut geopolitik global, hingga pengetatan regulasi industri, para pemain pindar juga mesti menyelesaikan persoalan yang spesifik terjadi di ekosistem ini.

Tata kelola perusahaan masih jadi pekerjaan rumah. Kasus fraud yang muncul di awal tahun memperlihatkan celah yang perlu ditutup segera. Sorotan publik pun makin tajam setelah Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menduga adanya praktik kartel di industri ini. Tapi, khusus untuk permasalahan terakhir, justru tercium kejanggalan yang akhirnya berpotensi merugikan industri pindar.

Entjik S. Djafar, Ketua Umum Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI), menilai perkara itu (tuduhan kartel) berpotensi menurunkan kepercayaan investor, khususnya dari luar negeri. Kepercayaan yang goyah akan menghadirkan tantangan baru dalam memperoleh sumber pendanaan.

“Sepertinya, tantangan ke depan akan makin sulit dengan menurun nya kepercayaan investor dari luar. Ini semua diakibatkan oleh marak nya gerakan mengajak gagal bayar (galbay) serta kasus KPPU, di mana banyak investor atau lender dari luar yang melihat kasus ini agak aneh,” ungkap Entjik kepada Infobank, bulan lalu.

Meski begitu, pelaku pindar masih optimistis menatap sisa tahun ini. Berdasarkan data Biro Riset Infobank (birI), outstanding pinjaman industri fintech lending per kuartal pertama 2025 tumbuh 28,92% secara year on year (yoy) menjadi Rp80,88 triliun. Sementara, tingkat wanprestasi (TWP90) tercatat 2,93%, dengan laba bersih melonjak 225,33% menjadi Rp562,30 miliar.

Momentum pertumbuhan itu wajib dijaga, bahkan ditingkatkan. Menurut Kuseryansyah, Direktur Utama PT Inovasi Terdepan Nusantara (KrediOne), salah satu kunci keberlanjutan industri adalah perbaikan tata kelola internal perusahaan. Lebih dari itu, kualitas pertumbuhan juga menjadi tolok ukur yang penting. Dengan demikian, ekosistem pindar menjadi lebih sehat dan terjaga sehingga membawa keuntungan bagi seluruh pihak yang terlibat di dalamnya.

“Untuk tahun 2025 ini, fokus kami bukan sekadar mengulang angka, melainkan meningkatkan kualitas pertumbuhan tersebut. Indikatornya bukan hanya nilai penyaluran, tetapi juga tingkat keberlanjutan, tingkat kepuasan konsumen, serta kontribusi nyata terhadap inklusi dan literasi keuangan nasional,” tegasnya kepada Infobank, bulan lalu. 

 

Jika ekosistem fintech lending membaik dan lebih berkualitas, bukan tak mungkin pelaku pindar bisa menjadi salah satu motor penggerak ekonomi nasional di masa mendatang. Infobank memproyeksikan pertumbuhan outstanding pinjaman pindar di kisaran 25%-35% di sisa 2025 dan 2026.

 

Tata kelola perusahaan masih jadi pekerjaan rumah. Kasus fraud yang muncul di awal tahun memperlihatkan celah yang perlu ditutup segera. Sorotan publik pun makin tajam setelah Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menduga adanya praktik kartel di industri ini. Tapi, khusus untuk permasalahan terakhir, justru tercium kejanggalan yang akhirnya berpotensi merugikan industri pindar.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi Oktober 2025

Rp 65.000

BELI