Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Bijak Kelola THR Bikin Dompet Tetap Sehat

THR kerap dianggap penyelamat keuangan Lebaran. Jika tidak dikelola dengan bijak, uang tambahan ini bisa lenyap dalam waktu singkat. Di balik euforia hari raya, banyak keputusan finansial kecil yang diam-diam menjadi beban panjang setelah Lebaran usai.

Oleh Alfi Salima Puteri
Sumber: Istimewa

Sumber: Istimewa

TUNJANGAN hari raya (THR) kerap dianggap sebagai “uang durian runtuh”. Datangnya setahun sekali, jumlahnya terbilang besar, maka tak jarang orang menghabiskannya tanpa banyak pertimbangan. Tak heran, begitu Lebaran usai, keluhan yang sama kembali muncul: tabungan tak bertambah, cicilan meningkat, dan arus kas bulanan makin seret.

Masalahnya bukan pada besaran THR, melainkan pada cara pandang. Banyak orang sudah lebih dulu berbelanja karena yakin THR cair. Ketika THR pada akhirnya keluar dan benar-benar masuk rekening, dana itu tidak digunakan untuk menutup pengeluaran sebelumnya, melainkan dihabiskan untuk konsumsi lanjutan karena dianggap sebagai “uang ekstra”. Siklus ini membuat THR kehilangan fungsi: harusnya sebagai penopang keuangan.

Kesalahan pengelolaan THR jadi makin berisiko ketika dikombinasikan dengan cicilan. Kebutuhan Lebaran seperti mudik, konsumsi, dan gaya hidup hari raya bersifat sementara, hanya berlangsung beberapa minggu. Tapi, ketika dibiayai dengan cicilan, beban yang muncul justru mengikat dompet dalam jangka panjang. Ruang untuk menabung, menyiapkan dana darurat, atau menghadapi kebutuhan tak terduga pun menyempit.

Certified Financial Planner, Nadia Harsya, mengingatkan bahwa euforia Bijak Kelola THR Bikin Dompet Tetap Sehat Financial Literacy Corner FLC Lebaran sering membuat orang lupa pada dampak jangka panjang dari keputusan finansial yang diambil. “Lebaran itu momen bahagia, tapi jangan sampai kebahagiaan tujuh hari dibayar dengan stres finansial tujuh bulan,” ujarnya kepada Infobank, bulan lalu.

Supaya THR tak habis untuk konsumsi sesaat, pengelolaannya perlu dilakukan secara sadar dan berurutan. Pendekatan yang relatif sederhana adalah membagi THR ke dalam tiga pos utama, yaitu wajib, butuh, dan ingin. Prioritas pertama adalah kewajiban, seperti membayar zakat dan melunasi utang yang tertunggak. Langkah ini penting untuk mencegah beban finansial lama ikut terbawa setelah Lebaran.

Tahap berikutnya adalah kebutuhan. Di sinilah THR seharusnya berperan memperbaiki kondisi keuangan. Bagi yang belum memiliki dana darurat, menyisihkan sebagian THR menjadi langkah krusial sebelum uang itu digunakan untuk kebutuhan hari raya. Setelah itu, barulah pengeluaran Lebaran dilakukan secukupnya, bukan semaksimal mungkin.

Pos terakhir adalah keinginan. Baju baru, hamper, atau open house sah-sah saja dilakukan selama porsinya tidak mengorbankan stabilitas keuangan. Dengan urutan ini, THR tak lagi sekadar habis untuk kesenangan sesaat, tapi memberi dampak nyata bagi kesehatan finansial setelah Lebaran.

Indikator keberhasilan pengelolaan THR juga sebenarnya sederhana. Jika setelah Lebaran seseorang masih bisa menabung, rasio cicilan tetap terjaga di bawah batas aman, dan dana darurat tak terkuras habis hanya untuk konsumsi, itu tanda bahwa THR digunakan secara sehat. Sebaliknya, jika seluruh THR lenyap tanpa sisa dan bulan berikutnya diisi dengan pengetatan pengeluaran, maka evaluasi perlu segera dilakukan.

Lebaran bukan soal seberapa besar pengeluaran, melainkan seberapa bijak mengambil keputusan. Dengan menggunakan THR secara tepat, Lebaran pun bisa dirayakan dengan hangat, tanpa meninggalkan tekanan finansial panjang setelahnya.

Masalahnya bukan pada besaran THR, melainkan pada cara pandang. Banyak orang sudah lebih dulu berbelanja karena yakin THR cair. Ketika THR pada akhirnya keluar dan benar-benar masuk rekening, dana itu tidak digunakan untuk menutup pengeluaran sebelumnya, melainkan dihabiskan untuk konsumsi lanjutan karena dianggap sebagai “uang ekstra”. Siklus ini membuat THR kehilangan fungsi: harusnya sebagai penopang keuangan.

Kesalahan pengelolaan THR jadi makin berisiko ketika dikombinasikan dengan cicilan. Kebutuhan Lebaran seperti mudik, konsumsi, dan gaya hidup hari raya bersifat sementara, hanya berlangsung beberapa minggu. Tapi, ketika dibiayai dengan cicilan, beban yang muncul justru mengikat dompet dalam jangka panjang. Ruang untuk menabung, menyiapkan dana darurat, atau menghadapi kebutuhan tak terduga pun menyempit.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi Maret 2026

Rp 65.000

BELI