Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Di Tengah Demam Emas, Bank Syariah Tancap Gas

Emas makin bersinar dan memicu lonjakan minat investasi masyarakat. Kenaikan harga yang agresif dalam beberapa waktu terakhir tak hanya menciptakan demam beli, tapi juga mendorong bank syariah menjadikan emas sebagai salah satu mesin pertumbuhan baru.

Oleh Ayu Utami Saraswati
Sumber: Istimewa

Sumber: Istimewa

BISNIS emas berkembang menjadi satu mesin pertumbuhan baru bagi perbankan syariah. Emas kian digandrungi masyarakat, karena sifatnya sebagai aset lindung nilai alias safe haven dan relatif stabil di tengah ketidakpastian global.

Harga emas terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Per Desember 2021, Biro Riset Infobank (birI) mencatat, penutupan harga emas global masih berada di kisaran Rp838,89 ribu per 1 gram. Namun, per Desember 2025, harganya sudah mencapai Rp2,37 juta. 

Artinya, dalam lima tahun terakhir, harga emas dunia melonjak hampir tiga kali lipat atau sekitar 182%. Bahkan, di awal 2026, harga tertinggi per 1 gram sempat menyentuh Rp2,96 juta, dari Rp1,49 juta di awal 2025, atau naik 98,29% secara tahunan. Luar biasa!

Lonjakan harga emas itu melebihi sejumlah instrumen investasi lain. Di periode yang sama, imbal hasil deposito perbankan dan obligasi negara cenderung tumbuh moderat. Sedangkan, pasar saham domestik bergerak fluktuatif. Kondisi ini turut mendorong minat masyarakat berinvestasi di emas.

Sejalan dengan tren itu, industri perbankan syariah tetap tumbuh solid. Pada November 2025, pembiayaan perbankan syariah tumbuh 7,57% menjadi Rp691,84 triliun dan laba terkerek 8,04% menjadi Rp14,41 triliun. Dan, di tengah pertumbuhan industri yang relatif stabil, bisnis emas di sejumlah bank syariah memelesat melampaui rata-rata pembiayaan industri.

Akselerasi paling nyata terlihat di Bank Syariah Indonesia (BSI), yang berhasil meraih lebih dari 1 juta nasabah emas dalam kurun waktu kurang dari satu tahun setelah resmi menyandang status sebagai bank emas atau bullion bank. Bank syariah terbesar di Indonesia ini menjadi satu-satunya bank syariah yang mendapat izin pemerintah menjalankan bisnis bulion. 

Sepanjang tahun lalu, penjualan emas bulion BSI terus menggeliat, hingga tembus 2,2 ton emas. Sedangkan, untuk lini nonbulion, seperti cicil emas dan gadai emas, volumenya telah mencapai Rp22,90 triliun atau tumbuh 78,60%. Dari angka itu, cicil emas mencatat volume Rp12,89 triliun atau naik 101,23% dan gadai emas Rp10,02 triliun atau naik 56,05%.

Bank syariah pertama di Indonesia, yakni Bank Muamalat, juga turut eksis di pembiayaan emas melalui produk pembiayaan Solusi Emas Hijrah, yang melonjak 33 kali lipat secara tahunan atau menjadi Rp1,1 triliun pada Desember 2025. Bahkan, jumlah rekeningnya melejit 1.218% menjadi 24.335 rekening.

Pemain lain, yaitu anak usaha BCA, BCA Syariah, juga mencatatkan kenaikan pembiayaan emas cukup signifikan, sebesar 238,16% menjadi Rp520 miliar per Desember 2025, dari sebelumnya Rp154 miliar pada Desember 2024.

Tak mau ketinggalan, Bank Syariah Nasional (BSN) juga mencatat kan lonjakan pertumbuhan pembiayaan emas. Pertumbuhannya hampir 400% dari kisaran Rp17 miliar menjadi Rp50 miliar hanya sebulan setelah resmi beroperasi menjadi bank umum syariah (BUS) pasca-spin off dari Bank Tabungan Negara (BTN) pada 22 Desember 2025.

Namun, di tengah perkem bangan pesat bisnis emas, bank bank syariah menghadapi tantangan keberlanjutan, manajemen risiko, hingga persaingan yang makin ketat. Pertanyaannya, bagaimana prospek maupun tantangan bisnis emas ke depan? Apakah lonjakan harga emas ini bersifat struktural atau sekadar siklus harga?

Dian Ediana Rae, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), melihat tren pembiayaan emas memang tengah berada dalam fase ekspansi yang kuat. Secara natural, bisnis emas erat kaitannya dengan perbankan syariah. Bukan semata karena tren, melainkan fondasi prinsipnya.

Dalam skema perbankan syariah, investasi atau tabungan emas harus benar-benar didukung oleh underlying emas fisik. Artinya, jika nasabah melakukan pembelian atau investasi emas dan ingin mengonver sinya menjadi emas fisik, maka bank wajib mampu menyerah kannya. “Tidak diperkenankan ada praktik tanpa dukungan fisik (non-backed),” tutur Dian ketika ditemui, bulan lalu.

Karena itu, kata Dian, tantangan utama bisnis emas saat ini bukan pada pembatasan regulasi, melainkan pada aspek supply dan demand. Ketersediaan emas fisik harus sejalan dengan peningkatan permintaan masyarakat. Saat ini, sebagian pasokan emas masih berasal dari impor, sehingga ketersediaan fisik menjadi faktor penting.

“Inilah sebabnya beberapa institusi membatasi volume transaksi emas per hari. Pembatasan tersebut lebih disebabkan oleh manajemen likuiditas dan ketersediaan stok emas fisik,” ujarnya.

Ke depan, Dian menegaskan, pengembangan bullion bank akan difokuskan pada pembangunan ekosistem yang lebih kokoh. Ekosistem itu mencakup penguatan permodalan, karena bisnis bulion membutuhkan modal besar, ketersediaan pasokan emas domestik, infrastruktur penyimpanan dan distribusi, serta sistem pengawasan dan tata kelola yang memadai.

Pelaku industri perbankan syariah pun mengakui bisnis emas memang tengah berada dalam fase terbaiknya, meski tetap dibayangi risiko volatili tas harga. Menurut Eduard Guntoro Purba, Direktur BCA Syariah, ruang pertumbuhan bisnis emas bagi bank syariah masih terbuka lebar.

Tren juga menunjukkan banyak masyarakat memilih emas sebagai investasi jangka panjang, baik secara tunai maupun cicilan. Di BCA Syariah, emas menjadi salah satu motor utama pertumbuhan pembia yaan segmen konsumer, berdampingan dengan kredit pemilikan rumah (KPR).

Namun demikian, di balik euforia kenaikan harga emas itu, BCA Syariah tetap menghitung market risk, yang bisa berujung credit risk. Karena itu, bank ini menerapkan uang muka minimal 10% sebagai bantalan risiko. “Sejauh ini belum ada indikasi pelepasan pembiayaan akibat penurunan harga yang drastis, tetapi kewaspadaan tetap dijaga,” ujar Eduard, bulan lalu.

Begitu pula dengan Bank Muamalat. Dalam mengelola risiko pembiayaan emas syariah, Bank Muamalat juga mengedepankan prinsip kehati-hatian melalui struktur pembiayaan konservatif, pengaturan rasio pembiayaan sehat, serta monitoring portofolio secara berkala.

"Kami juga melakukan stress test dengan berbagai skenario pergerakan harga emas guna memastikan ketahanan portofolio tetap terjaga," ujar Imam Teguh Saptono, Direktur Utama Bank Muamalat, kepada Infobank, bulan lalu.

Ia pun menilai emas masih memiliki fundamental kuat di tengah ketidakpastian global sebagai instrumen lindung nilai. Emas akan menjadi mesin pertumbuhan ritel bank ini ke depannya. 

"Dengan pendekatan terukur, kami optimis emas dapat menjadi salah satu penopang kinerja jangka panjang industri perbankan syariah," pungkasnya.

Harga emas terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Per Desember 2021, Biro Riset Infobank (birI) mencatat, penutupan harga emas global masih berada di kisaran Rp838,89 ribu per 1 gram. Namun, per Desember 2025, harganya sudah mencapai Rp2,37 juta. 

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi Maret 2026

Rp 65.000

BELI