Sumber: Istimewa
SAAT ini, tak ada perusahaan pers yang bebas dari pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawannya. Jumlah karyawan korban PHK di industri ini mungkin sudah di atas seribu orang. Ini semata karena tekanan ekonomi, akibat pendapatan bisnis yang menurun drastis. Penyebab utamanya adalah berkurangnya iklan yang masuk ke perusahaan pers dan televisi, padahal iklan merupakan sumber keuntungan utama mereka.
Sifat dari pemasang iklan akan mendekati pemirsanya. Sementara, saat ini, pembaca media massa dan penonton televisi banyak yang beralih ke media sosial. Kehadiran teknologi digital berbasis internet dan munculnya kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di satu sisi sangat mempermudah dan mempercepat penyebaran informasi, tapi di lain sisi menggerogoti perusahaan pers. Orang makin sedikit berlangganan surat kabar dan menonton televisi. Satu per satu surat kabar gulung tikar. Yang masih bertahan pun halamannya makin menipis.
Kelebihan media sosial – sebut saja YouTube, Twitter, Instagram, dan TikTok – adalah bisa menyajikan informasi secara cepat kapan saja, meski isinya tak selalu akurat dan edukatif karena tidak melalui proses seleksi redaksional, melainkan cukup ditangani satu orang dan bersifat subjektif. Media sosial cenderung menyajikan informasi yang emosional dan sensasional sehingga mudah menarik perhatian pemirsa yang enggan berpikir kritis.
Tentu saja ada sajian informasi yang berkualitas. Makin banyak jumlah pemirsa, iklan pun akan masuk (buying audiences) dan berarti akan membuat gemuk pundi-pundi kreator atau produsennya. Dengan kata lain, media sosial cukup memikat para selebritas content creator karena menjanjikan penghasilan yang menggiurkan.
Rakyat yang merasa letih serta putus asa dengan kondisi sosial-politik dan tekanan ekonomi cenderung malas berpikir. Berpikir itu melelahkan. Mereka butuh hiburan murah meriah. Dalam media sosial berlaku jargon “palugada”: apa yang elu cari, gua ada. Dalam hal ini, media sosial menjadi tempat pelarian dan teman akrab mereka tanpa harus mengeluarkan energi untuk berpikir. Entah berapa jam sehari mereka memelototi handphone.
Rakyat yang merasa letih serta putus asa dengan kondisi sosial-politik dan tekanan ekonomi cenderung malas berpikir. Berpikir itu melelahkan. Mereka butuh hiburan murah meriah. Dalam media sosial berlaku jargon “palugada”: apa yang elu cari, gua ada. Dalam hal ini, media sosial menjadi tempat pelarian dan teman akrab mereka tanpa harus mengeluarkan energi untuk berpikir.
Kebutuhan masyarakat terhadap informasi telah berkembang layaknya kebutuhan mereka terhadap makan-minum dan udara. Menjadi persoalan serius ketika air, udara, dan informasi yang dikonsumsi setiap hari tidak sehat. Akibatnya, emosi, pikiran, dan perilaku juga menjadi tidak sehat. Gejala ini kelihatannya tengah terjadi. Setiap saat masyarakat dikepung dan dibanjiri oleh informasi, termasuk lumpur dan sampah-sampahnya.
Saya khawatir sebagian masyarakat sudah addicted dengan sajian informasi yang penuh sensasi, hoaks, dan fake. Belum lagi foto dan adegan porno. Muncul problem lain karena pemilik serta pengendali teknologi digital dan AI adalah platform global, bukan milik pemerintah Indonesia, sehingga tidak mudah dikendalikan. Platform global paling banyak menikmati dana iklan. Dan, yang dirugikan dari bangsa ini tidak semata dana iklan yang mereka kuasai, melainkan juga terjadinya perusakan budaya. Makanya, tak berlebihan bila dikatakan bahwa saat ini tengah berlangsung kolonialisasi digital (digital colonialism) dengan sekian banyak turunannya.
Tentu kita tidak mungkin menghentikan kemajuan sains dan teknologi. Media sosial juga banyak menyajikan informasi sangat bermanfaat yang dibutuhkan masyarakat. Banyak sajian ceramah keagamaan dan sains yang bagus-bagus, yang dahulu tak terbayangkan.
Namun, ketika pengaruh bisnis dan politik kotor masuk ke ruang publik lewat media sosial, penyebaran hoaks, fitnah, doxing, dan caci maki saling menjatuhkan pesaingnya tak terhindarkan. Setiap menjelang pilkada dan pemilu, hoaks politik membuat gaduh ruang publik. Bagi penguasa yang curang dan tidak becus, media sosial berpotensi menjadi media kritik dan protes sosial yang kejam.
Sifat dari pemasang iklan akan mendekati pemirsanya. Sementara, saat ini, pembaca media massa dan penonton televisi banyak yang beralih ke media sosial. Kehadiran teknologi digital berbasis internet dan munculnya kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di satu sisi sangat mempermudah dan mempercepat penyebaran informasi, tapi di lain sisi menggerogoti perusahaan pers. Orang makin sedikit berlangganan surat kabar dan menonton televisi. Satu per satu surat kabar gulung tikar. Yang masih bertahan pun halamannya makin menipis.
Kelebihan media sosial – sebut saja YouTube, Twitter, Instagram, dan TikTok – adalah bisa menyajikan informasi secara cepat kapan saja, meski isinya tak selalu akurat dan edukatif karena tidak melalui proses seleksi redaksional, melainkan cukup ditangani satu orang dan bersifat subjektif. Media sosial cenderung menyajikan informasi yang emosional dan sensasional sehingga mudah menarik perhatian pemirsa yang enggan berpikir kritis.